Waktu Baca: 5 menit

Kucing merupakan salah satu hewan populer di kalangan pecinta hewan peliharaan. Hewan berkaki empat dengan macam bulu yang beragam ini diminati untuk menjadi hewan peliharaan karena bentuknya yang lucu dan kesetiaannya pada majikan, hampir sama seperti seseorang yang memelihara anjing. Tidak hanya sebagai hewan peliharaan atau hewan liar, bagi beberapa negara dan kebudayaan di dunia, kucing juga dianggap salah satu hewan suci serta digunakan dalam berbagai simbol kebudayaan. Salah satu negara yang menganggap kucing sebagai hewan dan simbol penting adalah Jepang.

Jepang, negara yang kerap dijuluki “Negeri Matahari Terbit” ini mempunyai sejarah panjang dengan kucing pada masa perkembangannya. Sejak lebih dari 1000 tahun lalu, bangsawan-bangsawan Jepang telah hidup bersama kucing. Penduduk biasa juga mulai memelihara kucing di rumahnya sejak ratusan tahun lalu. Berangkat dari hal inilah sebagian besar orang-orang Jepang  selalu menjadikan kucing bagian dari hidup mereka. Bahkan beberapa kuil juga dibangun untuk menyembah kucing sebagai dewanya.

                Kuil kucing yang ada di Jepang

Budaya yang melibatkan kucing tidak hanya sampai menjadikannya dewa dan disembah dalam kuil-kuil setempat. Beberapa seniman jepang juga mengabadikan karakter kucing dalam karya mereka. Misalnya saja, pada zaman Edo (1603-1868), seniman ukiyo-e (teknik cukil kayu yang berkembang di Jepang pada zaman Edo yang digunakan untuk menggandakan lukisan) Hiroshige Utagawa dan Kuniyoshi Utagawa melukis gambar kucing dalam karya mereka. Dalam lukisan-lukisan mereka, kucing tidak hanya dilukiskan sebagai hewan liar maupun hewan peliharaan, melainkan juga sebuah karakter yang hidup dan menjadi bagian dari masyarakat jepang.

                        Karya seni Ukiyo-e

 

Karya lain yang menjadikan kucing sebagai tokoh sentralnya adalah novel I Am a Cat karya novelis terkenal Natsume Soseki pada zaman Meiji (1868-1912). Novel ini merupakan salah satu masterpiece sastra klasik jepang. Judul I Am a Cat (Wagahai wa Neko de Aru). Karya Soseki adalah ungkapan yang sangat tinggi dan mengarah kepada suatu sindiran terhadap seorang bangsawan. Hal ini sebenarnya adalah ironi ketika mengetahui penuturnya merupakan seorang kucing rumahan biasa milik seorang guru, dan bukan bangsawan berpangkat tinggi seperti cara bicaranya.

Meskipun kini Jepang telah berevolusi menjadi negara maju, sisa-sisa kebudayaan yang dipengaruhi oleh kucing tidak serta merta luntur ditelan zaman. Karakter-karakter terkenal dari jepang seperti Hello Kitty dan Doraemon, hingga Tama si kucing kepala stasiun dan keturunan-keturunannya, masih dikenal banyak orang hingga hari ini. Tidak hanya itu, kucing juga telah digunakan dalam berbagai konteks seperti kafe kucing, pulau kucing, hingga menjadikannya karakter dalam buku maupun film populer.

Pulau-pulau Kucing

Tashiro-jima merupakan sebuah pulau kecil yang terletak 17 km dari sebelah tenggara Kota Ishinomaki, Prefektur Miyagi. Pulau kecil ini merupakan habitat bagi lebih dari 100 ekor kucing yang hidup harmonis berdampingan dengan penduduk setempat. Pulau ini sangat populer di kalangan pecinta kucing sebagai “Pulau Kucing”.Tempat ini disebut sebagai pulau kucing karena populasi kucing yang lebih banyak dibandingkan manusia. Pulau Tashiro-jima memiliki industri perikanan yang dinamis, dengan nelayan yang mengacu kepada tingkah laku kucing untuk pergi memancing dan memprediksi kondisi cuaca. Oleh sebab itu, para nelayan menganggap kucing sebagai hewan pembawa keberuntungan. Mereka percaya dengan memuja kucing maka hasil tangkapan akan berlimpah. Diharapkan dengan pembangunan kuil ini nelayan dapat terus berdoa untuk keberhasilan memancing serta dapat pulang dengan selamat.

     Para penghuni di “Pulau Kucing”

Aoshima juga merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di prefektur Miyazaki. Pulau ini terhubungan dengan pantai Pulau Kyushu dengan jembatan Yayoi. Aoshima memiliki keunikan populasi kucing jalanan yang lebih banyak dari populasi manusianya. Pada mulanya, warga pertama kali berimigrasi ke Aoshima sekitar 380 tahun yang lalu kemudian mendirikan desa nelayan. Mereka yang berimigrasi membawa kucing untuk mengatasi tikus yang menyerang perahu nelayan. Saat ini, penduduk Aoshima mayoritas orang-orang tua yang berusia di antara 50-80 tahun. Dalam 10 tahun terakhir, populasi kucing di Aoshima mulai meningkat tajam, berbanding terbalik dengan jumlah penduduknya.

Nyan Nyan Nyan Day

Di Jepang, setiap tanggal 22 februari diperingati sebagai Hari Kucing (Neko no Hi (猫の日) atau pun biasa disebut juga Nyan Nyan Nyan Day. Meskipun secara internasional peringatan hari kucing jatuh pada tanggal 8 Agustus, Jepang bukan tanpa alasan memilih 22 Februari menjadi Hari Kucing mereka. Pada tahun 1987 diadakan sebuah survei kepada ribuan masyarakat Jepang untuk memilih Hari Kucing. Saat itu, kebanyakan hasil survei memilih tanggal 22 Februari dan sejak saat itulah Hari Kucing resmi ditetapkan.

 

Hal unik lain dari Hari Kucing adalah nama lainnya yakni Nyan Nyan Nyan Day. Tidak semata memilih tanggal, ternyata ada arti lain dibalik angka 22-2. Dalam bahasa Jepang, angka 2 disebut ‘ni’, dan kata ini dianggap mirip dengan kata ‘nyan’, yakni onomatopheia untuk suara kucing di negara Jepang.

    Perayaan Hari Kucing di Jepang

Ketika Hari Kucing tiba, banyak kafe dan rumah makan Jepang yang menyajikan berbagai makanan hingga minuman bertema kucing. Sebut saja omurice (nasi goreng berbalut telur) yang dibentuk menyerupai kucing, pancake kucing, hingga latte art berbentuk kucing.

Kucing dalam Karakter Buku dan Film

Selain karena keterikatan dengan perkembangan Jepang, dewasa ini banyak sastrawan dan pembuat film Jepang yang menjadikan kucing sebagai salah satu karakter dalam novel atau film. Sebut saja If Cats Dissapeared from the World (Genki Kawamura) dan The Travelling Cat Chronicles (Arikawa Hiro). Ketiga karya tersebut merupakan bukti jika karakter kucing dapat dihidupkan melalui sudut pandang sebagai hewan peliharaan dan subjek yang dinamis.

Dalam If Cats Dissapeared from the World kita akan bertemu Kubis, seekor kucing liar yang ditemukan oleh sang tokoh utama, seorang tukang pos (dalam novel tidak disebutkan nama si tokoh), yang kemudian menjadi sahabat karib si tukang pos hingga akhir hayatnya. Selama menjadi kucing si tukang pos, telah banyak hal yang dilalui Kubis dalam melihat kehidupan sang pemilik, meskipun lebih banyak narasi dari si tukang pos.  Bahkan hingga ia harus rela “dihilangkan” dari dunia sang pemilik, ia tetap setia menemani si tukang pos hingga akhir hayatnya.

        If Cats Dissapeared from the World

 

Berbeda dengan Kubis, dalam The Travelling Cat Chronicles, Nana, nama sang kucing merupakan kucing yang tidak sengaja ditemukan oleh Satoru, pemiliknya. Satoru menamai kucing itu Nana karena ekornya ketika melingkar kerap membentuk angka 7, dalam bahasa Jepang nana. Konflik mulai timbul ketika Satoru berpikir bahwa ia tidak bisa lagi merawat Nana, dan bepergian ke orang-orang yang dirasa bisa merawatnya. Akan tetapi, setiap kali mereka mengunjungi calon pemilik Nana yang baru, kucing itu menolak dengan tidak mau dikeluarkan dari kandang. Novel dan film ini juga menyajikan narasi yang indah dari sudut pandang si kucing Nana. Bagaimana ia bisa merasakan keadaan Satoru yang sebenarnya, yang pada akhirnya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya. Nana kemudian memilih untuk kembali hidup di alam bebas, tanpa melupakan persahabatannya dengan Satoru.

             The Travelling Cat Chronicles

Menuliskan bagaimana kucing sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Jepang sedikit banyak membuka mata kita bahwa makhluk hidup benar-benar diciptakan sesuai fungsi dan perannya masing-masing di dunia. Mungkin kita bisa berpikir bahwa “mereka” hanya hewan, hanya tumbuhan, atau sekadar mahluk mahluk lainnya. Akan tetapi, dari sekarang, marilah kita menganggap apa yang ada di dunia ini sebagai sebuah kesatuan, yang mengambil andil dalam kehidupan yang saling terhubung satu sama lainnya.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here