Waktu Baca: 3 menit

Babi dan anjing mungkin sudah termasuk daging ekstrem buat anda. Tapi, Bu Tini ada di level berbeda. Mau tahu dimana lokasinya? Klik di sini.

            Bu Hartini adalah nama aslinya. Namun, banyak orang memanggilnya dengan sebutan Bu Tini. Ketika bertemu dengannya, anda akan berpikir bahwa dia adalah seorang ibu rumah tangga pada umumnya. Anda tidak salah, sebab dia adalah orang yang sederhana dan enak diajak ngobrol. Tak terbesit di benak kita bahwa ia adalah seseorang yang memiliki ide untuk menjual ‘kuliner ekstrem’.

“Awalnya biawak mas, teman suami saya suka menangkap biawak. Setelah itu saya akan menyembelihnya dan kemudian kami akan makan bersama,” kata Bu Tini. Saat itu ia tak berpikir bahwa mengkonsumsi biawak adalah sesuatu yang ekstrem. Baginya mengkonsumsi biawak biasa saja.

Tongseng Biawak

“Nah, dari situ, teman suami saya sering cerita. Akhirnya ada saja yang meminta menu biawak. Padahal saat itu saya berjualan soto dan memiliki sebuah angkringan,” kata Bu Tini.

Ia lalu sering memasakkan biawak untuk pelanggannya. Awalnya memasak biawak hanya sampingan, hingga kemudian lima tahun lalu, ia menemukan bahwa biawak memiliki potensi ekonomi lebih menjanjikan daripada berjualan soto dan angkringan.

“Gambarannya begini mas, kalau saya jual soto, saya mendapat 300 ribu rupiah, Nah kalau biawak bisa mencapai satu juta rupiah,” kata Bu Tini.

Di situlah ia mulai menekuni bisnis kuliner biawak.

Daging Ekstrem sedang diolah

“Rekor saya satu kuintal,” kata Bu Tini. “Saat itu saya kehabisan biawak dan sampai mencari di Kebumen. Biawaknya bahkan pernah lepas dan kabur.”

Setelah berhasil dengan biawak, banyak pelanggan usul agar ada menu lain yang ‘tak kalah ekstrem’.

“Itu dari pelanggan ya, ada masukkan begitu mas, kata mereka: mbak mbok ada bajing, ada bulus, ada kodok, ada  burung emprit, ya kita (Mbak Tini dan suaminya-red) memutuskan untuk nyari nyari suppliernya.”

Sedikit demi sedikit, akhirnya warung makan Bu Tini menjadi galeri dari berbagai masakan ekstrem mulai dari bajing goreng, tongseng bulus, dan burung emprit goreng. Tidak afdol tentu saja jika saya tidak mencicipinya. Maka sayapun langsung mencicipi menu yang ada di Bu Tini. Pilihan saya jelas pertama pada menu andalan Bu Tini: Tongseng Biawak.

Kalau mau jujur, biawak memiliki tekstur seperti ayam. Benar benar seperti ayam, namun seratnya lebih halus. Bu Tini suka memasak tongseng dengan paduan manis dan pedas yang kuat. Kalau tidak ada yang memberitahu ini daging biawak, saya kira siapapun akan menyukainya.

Kemudian, saya beralih mencoba bajing goreng. Bagi teman teman, bajing mungkin termasuk makanan ekstrem, tapi sebenarnya di Eropapun bajing menjadi salah satu sumber protein. Biasanya bajing dimasak dengan metode stew. Stew sendiri adalah cara memasak mirip semur di Indonesia. Biasanya daging bajing tidak dibeli melainkan bajing hidup ditangkap dengan jebakan bajing.

Bajing Goreng

Satu satunya yang agak beda di warung Bu Tini adalah bajing disajikan dengan cara digoreng dan disajikan dengan sambal bawang. Rasa bajing sendiri mirip dengan daging ayam, akan tetapi memiliki aroma khusus. Aroma khusus yang khas ini bisa disukai beberapa orang, meski ada juga yang tidak familiar. Namun, aroma ini membuat daging bajing terasa spesial. Oleh karena itu, tidak heran jika orang Eropa sering menjadikan daging bajing sebagai bahan utama stew atau semur.

Berikutnya saya mencoba mencicipi tongseng burung dara. Burung dara di sini adalah burung dara piyik yang ukurannya masih kecil. Rasa burung dara ini empuk dan lebih berasa daripada daging ayam. Mungkin karena rasanya tidak terlalu jauh dengan unggas lain, rekan saya menyebut bahwa burung dara ini favoritnya. Sementara itu, saya tidak setuju. Burung dara ini memang enak, tapi saya merasa bahwa tongseng biawak menjadi signature dish dari warung Bu Tini.

Sebelum pamit dari rumah makan Bu Tini, saya sempat mengobrol dengan Bu Tini mengenai kendala dalam berjualan. Bu Tini mengaku bahwa salah satu kendala terbesar adalah menjaga perputaran uang agar tetap sehat. Ia menyebut daging biawak tidak pernah ia simpan berlama lama. Alasannya, biawak yang lebih baru rasanya lebih nikmat. Karena itulah ia harus pintar pintar menjaga bahan baku. Selain itu, biawak sebagai hewan yang belum bisa diternak, memang agak tricky ketersediannya.

“Ya kadang cari biawaknya gampang, tapi sering juga susah,” ungkap Bu Tini.

Bu Tini sendiri saat ini terbuka seandainya ada supplier yang bisa mensuplai biawak maupun hewan hewan ekstrem lain kepadanya. Nah teman teman, tertarik untuk membantu Bu Tini? Jikapun belum ingin menjadi pemburu biawak. Setidaknya bisa mencicipi sajian Biawak di rumah makan Bu Tini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here