Waktu Baca: 5 menit

Salah jurusan. Itulah alasan yang sering dikemukakan seseorang ketika dirinya tidak mampu berprestasi di jurusan kuliah yang ia ambil. Lalu, apa jurusan yang benar? Tentu itu tergantung masing masing orang. Kita tidak akan berbagi mengenai bagaimana cara menentukan jurusan kuliah. Sudah banyak dan seringkali tetap tidak efektif. Sebaliknya kita akan berbagi cerita singkat mengenai orang orang yang (merasa) salah jurusan, bagaimana ceritanya? Berikut beberapa yang bisa saya bagi dengan sumber anonim.

Muka saat menyadari dirinya salah jurusan
  1. Si Budak Cinta

Saya berpacaran dengan cowok ini sejak SMA, dia tinggi, ganteng dan orang tuanya punya kemampuan finansial yang baik. Saat ia memilih kuliah di sebuah universitas swasta di Bandung, saya memutuskan untuk mengikuti jejaknya dan berkuliah di universitas yang sama. Masalahnya saya tidak tahu harus masuk jurusan apa di universitas itu. Akhirnya saya memilih jurusan Hubungan Internasional yang ‘katanya’ paling bagus di universitas itu. Tapi jujur saja, saya enggak ngerti belajar apa sih Hubungan Internasional itu?

  1. Si Asal Negeri

Saya kira masuk U*M adalah sebuah big deal untuk siapapun di Indonesia. Maka dari itu, sedari SMP saya berusaha untuk bisa masuk kampus ini. Akhirnya saya keterima! Tapi jujur saja, saya keterima di jurusan yang saya nggak ngerti sama sekali. Bahkan, saya gak yakin ada perusahaan yang mencari pekerjaan di bidang itu. Tapi…ah sudahlah…coba saja!

  1. Si ‘Aslinya’ Artis

Orang tua saya ingin saya bersekolah sampai jenjang strata satu. Tapi sebenarnya saya lebih nyaman menjadi penyanyi. Akhirnya saya memilih berkuliah di sebuah universitas negeri di Jogja dengan jurusan yang saya nilai paling mudah. Ternyata sami mawon, saya keteteran membagi waktu jadwal manggung dan kuliah. Akhirnya saya memutuskan berhenti kuliah dan untungnya karir menyanyi saya cukup untuk hidup.

  1. Si Budak Cinta Bagian 2

Saya naksir berat cewek ini waktu saya lulus SMA. Maka dari itu saya memutuskan bertanya padanya, jurusan apa yang bagus untuk saya. Dia menyebut nama suatu jurusan dan saya mengambilnya! Sepuluh tahun kemudian, saya bersama pacar kelima saya dan cewek yang pernah saya taksir bahkan tidak pernah dekat dengan saya. Kami hanya ngobrol sesekali. Well….

Dipikir cinta itu sesederhana kuliah di jurusan sesuai keinginan pacar apa??
  1. Si Mata Duitan

Saya lulus dengan IPK 3,5. Jadi saya  bisa dibilang cumlaude dong, he..he.. Tapi begitu saya lulus, saya baru sadar kalau peluang kerja di jurusan saya itu di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat-red.) dan kementerian dengan anggaran terendah kelima atau ketiga di Indonesia. Kalau saya masuk LSM, kayaknya mimpi beli rumah, mobil dan jalan jalan ke luar negeri nggak akan tercapai. Kalau saya masuk kementerian yang dimaksud, gak ada celah buat korupsi karena nggak ada duitnya dan bukan ‘lahan basah’ juga. Nilai plus di kementerian itu cuma bisa nambah gambar gambar di Instagram saja. Wah, saya nyesel nih masuk jurusan itu!

  1. Asian Parents Banget

Saya gak salah jurusan, malah emang kuliah saya gak ada gunanya karena sekarang saya seorang komika. Tapi ada satu titik dimana ayah dan ibu saya sangat ingin saya menjadi dokter. Saya tidak mengerti mengapa mereka begitu. Suatu hari ayah saya sakit, lalu saya ingin membawanya ke dokter. Ibu saya marah, katanya jangan ke dokter! Dokter itu pintar mengeruk uang dari pasien katanya. Tiba tiba saya berpikir…jadi maksudnya saya disuruh kuliah kedokteran karena….ah sudahlah!

  1. Pokoknya Dokter!

Saya kuliah di jurusan Teknik Kimia. Saya bahkan masuk ke universitas negeri terkemuka di Yogyakarta. Di sana saya lulus dengan nilai terbaik. Saya juga kemudian berhasil menyelesaikan pendidikan hingga tingkat doktoral. Tapi ayah saya tidak peduli, menurutnya yang keren itu hanya dokter saja. Kuliah di luar jurusan kedokteran berarti gagal.

kuliah hanya untuk menyenangkan orang tua, kalau sial gak ada yang nolong
  1. Rasisme Masih Ada

Saya ingin sekali kuliah di satu jurusan tapi ayah saya melarangnya. Kata ayah saya, di jurusan itu biasanya didominasi orang dari suku tertentu. Ayah saya tidak ingin saya terlalu bergaul dengan orang orang dari suku itu. Abad 21 dan rasisme masih ada.

  1. Lagi Lagi Rasis

Ini bukan cerita tentang saya, tapi salah satu sepupu saya ingin kuliah di kedokteran di sebuah universitas negeri ternama. Ayahnya melarangnya. Ia lebih memilih sepupu saya kuliah di sebuah universitas swasta yang lebih mahal dengan kualitas lebih rendah agar sepupu saya tidak ‘terjebak menikah dengan orang beda agama dan beda suku’. Saya yakin kasus sepupu saya bukan satu satunya. Kita memang harus bekerja keras untuk melawan rasisme.

  1. Kayaknya Keren…

            Di keluarga saya, banyak yang sukses bekerja di bidang akuntansi. Ayah saya melihat akuntansi bidang yang keren, makanya dia mendorong saya untuk kuliah di jurusan akuntansi. Tapi ternyata semua tidak berjalan dengan baik. Meski demikian, saya tetap berhasil menyelesaikan kuliah saya.

  1. Lagi Sial

            Pilot tampaknya menjadi salah satu profesi dengan penghasilan yang menjanjikan. Sayapun memutuskan untuk ‘berkuliah’ (sebenarnya kuliah tidak tepat karena tak ada gelar akademik di sini) di jurusan penerbangan. Setelah menghabiskan uang yang sangat banyak, Korona melanda, penerbangan ditunda dan saya harus bekerja keras untuk mengembalikan pinjaman saya…

Kalau udah salah ya gitu deh…
  1. Emang Bego

            Salah satu teman saya kuliah di jurusan manajemen di universitas swasta di Bandung. Nilainya buruk sekali, IP hanya satu koma. Ia lalu berkata kepada orang tuanya bahwa dia merasa dia ‘emang bego’ dan lebih baik dia berhenti kuliah dan mulai berdagang alat tulis. Kini ia jadi miliuner dan sering liburan ke luar negeri bersama keluarganya. Istrinya juga cantik banget by the way…

  1. Salah Fokus

            Saya tidak peduli masuk jurusan apa di kampus itu. Tapi mereka memiliki tim paduan suara yang sangat bagus. Saya ingin menjadi bagian di dalamnya. Saya tidak peduli bagaimana caranya. Saking bagusnya mereka, hampir tiap tahun ke Eropa. Saya ingin ke Eropa gratis.

  1. Salah Tapi Benar

            Jelas dengan bangga saya akan menyebut saya tidak cemerlang di bidang akademis. Saya lebih suka di bidang make up. Akan tetapi, orang tua saya akan membayar berapapun agar saya menjadi dokter. Mau tak mau saya nurut saja. Betapa beruntungnya saya begitu lulus saya bisa melakukan perawatan wajah tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis. Kecintaan saya pada estetika wajah didukung oleh gelar dokter saya. Dapat saya katakan saya sangat beruntung.

  1. Emosional

            Saya suka memasak, namun ayah saya menganggap itu pekerjaan perempuan. Ia ingin saya berkuliah di bidang teknik. Sayapun menuruti keinginan ayah saya. Saat saya kuliah di bidang teknik, ada satu dosen yang sangat menyebalkan. Ia suka merendahkan saya. Hingga suatu saat saya sudah tidak tahan lagi. Saya pukul dosen saya itu. Saya dikeluarkan dan coba tebak? Hanya sekolah perhotelan di bidang kuliner yang mau menerima saya.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here