Waktu Baca: 2 menit

Melani, seorang ibu muda menceritakan kisah hidupnya 2 tahun silam. Saat Melani sedang kuliah semester 6, ia hamil tua.  Bayi dalam kandungannya adalah hasil hubungannya bersama sang pacar. Hidupnya hancur setelah tahu reaksi orang-orang terdekatnya. Sang pacar secara spontan meminta Melani untuk menggugurkan kandungannya, karena belum siap menikah. Orangtua sang pacar pun tidak mau menerima kehadiran Melani yang dalam keadaan hamil. Lebih parah lagi, papa mama Melani marah besar dan meminta agar Melani mengugurkan kandungan. Mereka ingin bayi diaborsi agar tidak menimbulkan aib bagi keluarga.

Melani tetap kukuh mempertahankan anak dalam kandungannya. Karena keteguhan sikap itu, orangtuanya mengusir Melani  dari rumah, bahkan harus pergi ke kota lain. Syukur, di kota lain ada orang yang mau mempekerjakan Melani agar bisa menyambung hidup. Ia bekerja hingga pada hari melahirkan. Bahkan, seminggu setelah bekerja, ia langsung bekerja kembali karena ia perlu uang untuk menghidupi anaknya.

Pilihan hidup Melani untuk mempertahankan Unwanted Child merupakan bentuk kepahlawanan karena upayanya mempertahankan kehidupan, meski hanya untuk satu individu. Mengapa harus dilakukan ?

Sejauh ini memang belum ada studi yang valid dan reliabel di dunia psikologi untuk melihat korelasi antara pilihan orangtua untuk mempertahankan bayi dan karakter bayi tersebut di usia dewasa. Namun dalam realita, cukup banyak riak-riak fakta yang menunjukkan kaitan antara  penerimaan orangtua terhadap karakter anak. Beberapa kali saya menjumpai remaja yang sulit diatur, penuh perlawanan kepada orangtuanya, sulit untuk diajak bersyukur, dan mudah curiga pada orang lain. Padahal ketika diamati, kedua orangtuanya mendidik dengan baik, penuh kasih, segala macam fasilitas belajar terpenuhi. Ketika ditelusur proses pengasuhan anak ini, ada benang merah yang sama : orangtuanya sempat menolak kehadiran si bayi. Bahkan, orangtuanya sempat ingin mengugurkan si bayi. Bagaimana bayi bisa membaca pikiran ibunya ?

Memang, belum ada kajian ilmiah tentang hal ini. Namun bila mempelajari cara kerja otak, mungkin temuan ini bisa jadi jelas. Sistem otak, darah, dan saraf dalam tubuh kita bekerja dengan jaringannya yang luar biasa panjang dan rumitnya. Informasi dalam otak akan diteruskan ke berbagai bagian tubuh kita melalui jaringan tersebut, termasuk informasi emosi. Dalam hal lain, skema inilah yang menyebabkan tubuh kita jadi gemetar ketika merasa ketakutan.

Bayi dalam kandungan memiliki koneksi darah dengan ibunya melalui sistem tali pusat. Selain sari makanan dan darah, pertukaran informasi juga terjadi melalui tali pusat tersebut. Skema inilah yang jadi alasan mengapa ibu dan anak memiliki relasi emosi yang kuat. Gawatnya, ketika sang ibu mulai berpikir untuk aborsi, informasi itu juga diteruskan kepada janin dan terekam. Sekalipun akhirnya tindakan aborsi urung dilakukan, tetapi informasi tentang rencana aborsi tetaplah terekam oleh janin. Informasi itu tidak hilang dan menjadi bagian otak bawah sadar dari bayi yang dilahirkan tersebut. Layaknya kita orang dewasa merasa tidak nyaman bila bertemu orang yang kita tahu berniat membunuh kita, demikian pula si bayi. Ketika bayi beranjak dewasa pun, rekaman informasi itu tetap ada dan memicu reaksi yang tidak terduga.

Kembali pada kisah Melani, apa yang ia lakukan dengan mempertahankan Unwanted Child adalah bentuk herorisme, yang akan berdampak besar pada tumbuh kembang anak. Bagaimanapun anak tahu siapa yang sungguh-sungguh mencintainya, meskipun itu tidak terkatakan. Oleh karena itu ketika seorang perempuan menyadari dirinya hamil, kiranya jangan sampai memunculkan ide untuk aborsi, sekalipun itu masih sebatas wacana kecil.

Dengan bersikap pro-life , kita mencintai kehidupan. Dengan cinta pada kehidupan, semesta akan memberikan kehidupan kepada kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here