Waktu Baca: 3 menit

Negeri kita yang terletak di ring of fire dan di garis ekuator memberikan risiko banyaknya fenomena alam yang kita jumpai. Sebetulnya sudah berabad-abad lamanya bencana datang silih berganti di negeri kepulauan kita ini. Namun dalam 20 tahun terakhir kekuatan media massa membuat kita berpikir dan merasa bahwa bencana alam muncul bertubi-tubi di Indonesia. Media massa pula yang dapat menggerakkan masyarakat untuk berdonasi membantu penanganan bencana.

Awal bulan April 2021 ini kita mengalami fenomena dua siklon tropis yang muncul di perairan selatan Indonesia. Salah satunya telah benar-benar menjadi siklon tropis Seroja, yang bergerak di sekitar selatan perairan Nusa Tenggara Timur, dan kini (6/4) bergerak ke barat menuju perairan Nusa Tenggara Barat. Efek siklon tropis Seroja ini pun sifatnya combo : angin kencang, gelombang tinggi, banjir bandang, dan tanah longsor. Dampak siklon tropis ini luar biasa, karena wilayah yang terdampak sangat luas, meliputi Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Tengah, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, dan Ende. Kalo kamu adalah penduduk pulau Jawa, kamu perlu menyadari bahwa NTT adalah wilayah kepulauan. Penanganan bencana di wilayah kepulauan tidak semudah seperti di Jawa, dimana donasi dan relawan bisa didatangkan melalui jalur darat. Di beberapa area di NTT, pengiriman bantuan harus dengan kapal atau pesawat. Persoalannya, ketika ada gelombang tinggi dan angin kencang, nahkoda kapal dan pilot pun akan berpikir tentang keselamatan perjalanan.

Laporan World Giving Index yang dirilis Charities Aid Foundation tahun 2020 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara urutan ke 10 dalam hal kedermawanan. Masyarakatnya bersedia membantu orang asing,  menyumbangkan uang secara sukarela melalui lembaga amal, dan mengikuti kegiatan amal secara sukarela. Temuan ini kiranya menggembirakan karena selaras dengan semangat Pancasila, terutama sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ketika terjadi bencana di kabupaten mana pun di Indonesia, masyarakat siap berdonasi tanpa menunggu instruksi dari pemerintah. Kata kunci yang paling menggerakkan orang untuk berdonasi adalah bencana dan pengungsi. Ketika ada kerumunan pengungsi, itulah yang menggerakkan orang untuk berderma, entah penyebab pengungsiannya adalah bencana alam, kecelakaan kerja, ataupun bencana sosial.

Jika secara komunitas kita tergerak menolong penyintas bencana, lantas bagaimana mekanisme tiap orang bisa tergerak untuk menolong ?

Kalau kita mengingat Pancasila pada bagian sila kemanusiaan yang adil dan beradab, kita akan menyadari bahwa ada unsur kemanusiaan di situ. Rasa kemanusiaan bermula dari adanya suara hati alias insan kamil yang memunculkan sikap simpati dan empati kita terhadap orang lain. Suara hati bekerja ketika kita mendapat asupan informasi, baik berupa tulisan, gambar, video, maupun berita lisan dari orang lain. Berbagai informasi itu diproses dalam otak kita sebagai bahan pertimbangan untuk bertindak sesuatu. Pada proses itu suara hati berperan memasukkan unsur empati untuk melengkapi motivasi bertindak kita.

Ada beberapa kemungkinan mengapa kita tergerak membantu orang lain.

  1. Sikap belas kasihan.
    Sikap ini tumbuh selain karena bawaan lahir manusia, juga diperkuat oleh pengajaran dari lingkungan, sekolah, dan orangtua. Kita masing-masing bahkan memiliki indikator yang berbeda untuk mengklasifikasi siapa yang patut dikasihani.
  2. Personifikasi terhadap para penyintas bencana.
    “Bagaimana bila aku jadi mereka yang terkena bencana?” Satu pertanyaan itu lantas mendorong kita bergerak membantu orang, sambil sedikit berharap bahwa bila suatu saat kita mengalami musibah bencana, kita juga akan mendapat pertolongan dari orang lain.
  3. Ingatan pengalaman masa lalu.
    Barangkali dulu kita pernah mengalami musibah bencana yang serupa dan merasakan kengeriannya. Kita mengingat betapa beratnya hidup ketika kita sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain. Karena saat ini kita melihat sekelompok masyarakat yang mengalami bencana serupa, kita tergerak untuk membantu, sebagaimana dulu kita juga telah dibantu orang lain.
  4. kesadaran bahwa ada orang lain yang memerlukan bantuan.
    Sikap ini lahir dari otomatisasi dan kebiasaan kita untuk menolong orang lain. Tanpa melihat siapa yang patut dikasihani, tanpa berlama-lama merefleksikan diri maupun personifikasi, kita segera berpikir teknis tentang cara membantu para penyintas bencana. Bahkan bila memungkinkan, kita mengirimkan diri kita sendiri ke lokasi bencana untuk membantu penanganan bencana.

Nah, ketika kita tahu bahwa saudara-saudari kita di Nusa Tenggara Timur sangat memerlukan bantuan pemulihan pasca bencana, sudahkah kita berderma untuk mereka ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here