Waktu Baca: 2 menit

Sejak 20 tahun lalu topik-topik seputar pemanasan global digaungkan di media kita. Dari waktu ke waktu upaya penyelamatan lingkungan hidup diajarkan dan disosialisasikan secara sporadis. Namun sikap mental masyarakat kita masih seperti 40 tahun yang lalu : bodo amat dengan urusan lingkungan hidup. Soal kebijakan pemerintah, tak perlu lah kita mempertanyakan. Dari periode ke periode belum pernah terbentuk kebijakan yang komperehensif dan efektif untuk menjaga pelestarian  lingkungan hidup. Ini suatu konsistensi yang aduhai.

Bila kita refleksikan, cara berpikir kita tentang alam semesta masih sangat inderawi : apa yang kelihatan jelas dan terdengar jelas, akan dipikirkan; apa yang tak kelihatan dan tak terdengar jelas, tak akan dipikirkan.  Lebih jauh lagi, apa yang tidak segera memberikan keuntungan, tak akan dipikirkan. Meskipun para aktivis lingkungan hidup berulang kali bersuara tentang isu pemanasan global, rupanya isu ini dipersepsikan oleh masyarakat sebagai sesuatu yang tak terlalu jelas. Orang merespon isu pemanasan global pun tentu saja tidak akan mendapatkan keuntungan atau kontraprestasi secara instant.

Sikap bodo amat ini rasanya bukan karena faktor kemajuan suatu negara atau bangsa. Negara-negara sejahtera bisa jadi peduli dengan emisi gas karbon, tapi lantas menjual limbah berbahaya ke negara-negara lain. Setali tiga uang, alias sama saja. Negara miskin pun bisa saja sangat peduli pada kelestarian lingkungan hidup.

Berbagai regulasi yang dibuat pemerintah tidak berjalan efektif, mengingat masyarakat kita yang kelewat pintar untuk mengakali aturan demi aturan. Ambillah contoh peraturan tentang pembatasan penggunaan Plastik Sekali Pakai. Pada beberapa pusat perbelanjaan, setiap transaksi belanja yang menggunakan tas kresek akan dikenai tambahan biaya yang hanya seharga sebutir permen. Kalau hanya membayar murah, orang sepelit apapun juga tetap rela membayarnya.

Masyarakat kita yang bodo amat dengan isu pemanasan global ini sudah ibarat kodok hidup yang dipanaskan dalam panci : menyadari bahwa suhu sekitar berubah, tetapi akhirnya mati karena terlambat merespon situasi.

Apakah lantas perjuangan menahan laju pemanasan global menjadi sesuatu yang sia-sia saja ?
Oh tentu tidak.

Di luar sikap bodo amat tersebut, masih ada masyarakat kita yang secara kultural berupaya melestarikan lingkungan hidup. Masyarakat yang mengelola hutan-hutan adat dan komunitas adat yang merawat cara hidup berbasis alam adalah dua contoh masyarakat yang peduli pada situasi alam. Sekalipun mereka tidak menyebutkan persoalan pemanasan global, namun laku hidup mereka dari waktu ke waktu memang berorientasi pada pelestarian alam. Di konteks perkotaan, sebagian masyarakat kelas menengah mulai mengambil sikap dan kesadaran terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Penggunaan transportasi umum, penggunaan tumbler minum, dan konsumsi pertanian organic menjadi contoh sederhana atas beberapa cara hidup yang menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan hidup.

Sekalipun masalah produksi transportasi umum, produksi tumbler, dan jejak karbon dari proses produksi pertanian organik dapat dipermasalahkan terkait keramahan lingkungannya, tetapi setidaknya ada upaya masyarakat yang patut kita hargai.

Barangkali pilihan-pilihan sikap tersebut bukan otomatis berlandaskan isu pelestarian lingkungan hidup, melainkan berlandaskan pada pertimbangan ekonomis dan gaya hidup. Namun demikian pilihan sikap tersebut masih jauh lebih baik ketimbang orang bersikap bodo amat dengan isu perubahan iklim dan pemanasan global.

 

Selamat merayakan Hari Bumi  ! 22 April.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here