Waktu Baca: 5 menit

Eh, lo gimana sama dia? Udah ada kemajuan belum?

Gue kayaknya cuman sampai friendzone ni, gak bakal lebih lagi.

Ah, gak seru lo. Kejar dong!

 

Kata-kata di atas seringkali kita dengar dari seseorang yang merasa terjebak pada hubungan friendzone atau sering disebut sebatas teman. Kecenderungan ini muncul ketika seorang laki-laki dan perempuan terlihat memiliki hubungan yang cukup dekat namun tidak berkembang ke arah hubungan romantis atau pacaran. Padahal, tidak semua hubungan laki-laki dan perempuan akan mengarah kepada hubungan romantis. Ada beberapa orang dalam hubungan antar lawan jenis yang memang ingin melabeli hubungan mereka sebatas teman maupun sahabat, tidak mengarah dan memasukkan unsur seksual di dalamnya.

Pada dasarnya, setiap jenjang dan macam hubungan memiliki pola dan karakteristiknya masing-masing, termasuk tentang bagaimana kepribadian individu yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh, hubungan suatu geng perempuan akan lebih didominasi tentang kebersamaan dalam obrolan perempuan, bagaimana pandangan mereka terhadap laki-laki, hingga dunia perempuan lainnya. Pada kelompok laki-laki, mereka akan melakukan hobi bersama-sama, berbagi pandangan tentang banyak hal, terkadang juga membicarakan tentang bagaimana mereka bisa mendapatkan pacar.

Namun, berbicara tentang hubungan antar perempuan dan laki-laki akan sedikit berbeda. Mereka sebagai individu yang sangat bertolak belakang dari segi fisik dan psikis sehingga akan lebih memakan waktu untuk berproses satu sama lain. Dewasa ini, kecenderungan beberapa orang adalah melihat sepasang laki-laki dan perempuan bersama ialah menjalin hubungan romantis, khususnya di kalangan remaja. Ketika menemukan mereka di tempat publik, beberapa waktu mendatang akan beredar gosip bahwa mereka berpacaran, atau setidaknya dalam tahap pendekatan. Pandangan-pandangan seperti inilah yang seharusnya kita, sebagai pengamat, lebih bijak dalam membuat suatu asumsi.

Hubungan antar laki-laki dan perempuan dapat dimulai dari mana saja, umumnya sebagai pertemanan. Pada hubungan pertemanan, seorang laki-laki dan perempuan akan menganggap satu sama lain sebagai seseorang yang mereka kenal, terkadang meminta pertolongan, hingga menghabiskan waktu bersama. Ketika hubungan pertemana ini semakin dekat, bisa saja keduanya menganggap satu sama lain sebagai sahabat. Mereka mulai berbagi hal-hal yang lebih personal, menjadi rekan diskusi, hingga seseorang yang dapat diandalkan. Tahap hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan inilah yang terkadang menjadi awal mula sebuah konflik di hubungan antar laki-laki dan perempuan.

Ketika laki-laki dan perempuan berada dalam suatu hubungan persahabatan, mereka secara tidak langsung akan merasakan kedekatan yang berbeda dari hubungan pertemanan. Kedekatan ini yang terkadang diartikan sebagai rasa sayang dan keinginan memiliki yang dimulai oleh salah satu atau kedua pihak secara tidak sadar. Ditambah lagi jika masing-masing dari mereka memiliki sahabat lawan jenis lainnya. Tidak jarang kecemburuan dan sikap kompetitif akan mulai muncul dalam hubungan mereka. Jika keadaan ini mulai muncul, akan ada pikiran bahwa mereka hanya terjebak friendzone atau hanya sebatas teman maupun sahabat. Ada juga yang memang sejak awal memberi batasan yang jelas terhadap hubungan mereka tentang hal-hal yang menyangkut seksualitas, biasa disebut juga dengan hubungan platonik. Lantas, bagaimana hubungan friendzone dan hubungan platonik terjadi di dalam hubungan antar laki-laki dan perempuan?

Istilah friendzone sudah dipakai di beberapa media sosial dan budaya pop untuk mendefiniskan situasi di mana seseorang menginginkan hubungan romantis dengan teman dekat yang tidak pernah berkembang. Dalam hal ini, dapat dimulai oleh salah satu atau kedua pihak. Meskipun persahabatan sering dipandang secara positif dan terkadang menjadi dasar dari hubungan yang sehat, istilah friendzone justru merujuk kepada situasi yang tidak menguntungkan dan kontradikti untuk mendapatkan hubungan romantis atau seksual yang memuaskan. Beberapa meme daring, referensi budaya populer seperti Friends, Friend Zone di MTV, serial sandiwara Chris Rock “Bring the Pain”, dan media sosial lainnya yang telah berkontribusi menanggapi fenomena ini. Namun, belum ada penelitian formal yang menyelidiki banyak aspek dari fenomena berlapis-lapis ini. Penting untuk memahami apa arti friendzone, bagaimana konsep hubungan ini membentuk persepsi seseorang tentang diri mereka sendiri, orang lain, serta asumsi dan ekspetasi dari hubungan romantis.

Berbeda dengan friendzone, hubungan platonik adalah hubungan emosional dan spiritual khusus antara dua orang yang saling mencintai, mengagumi, dan berkomitmen satu sama lain karena mereka memiliki minat, nilai, pandangan dunia yang serupa dan mendalam. Hubungan platonik tidak memiliki bentuk keterikatan romantis sama sekali, hanya dua orang yang saling bersyukur, tertarik pada kemajuan dan pertumbuhan satu sama lain, saling menginspirasi pikiran dan jiwa, saling mengarahkan perhatian pada hal-hal spiritual dan melihatnya sebagai titik tugas untuk memberikan nasehat, penghiburan, dan dorongan satu sama lain.

Hubungan platonik dapat terjadi pada persahabatan lawan jenis yang tidak dimediasi oleh keterikatan seksual, bisa sangat bagus, layak, nyata, dan umum. Dua orang dapat berbagi ikatan hubungan emosional dan spiritual khusus tanpa bentuk hasrat atau minat seksual apa pun, hanya rasa saling menghormati yang murni, perhatian yang dalam, dan kesetiaan pada satu sama lain.

Definisi dan Batasan

Menjalani hubungan dengan seseorang merupakan suatu keputusan penting, apalagi jika menyangkut laki-laki dan perempuan. Apakah masing-masing dari mereka siap akan perubahan pola ataupun jenis hubungan, bagaimana jika satu sama lain berubah seiring berjalannya waktu, hingga jika salah satu dari mereka memutuskan untuk berhenti dari hubungan ini.

Kita sering kali mendengar bahwa friendzone adalah istilah kondisi akibat dari hubungan pertemanan atau persahabatan yang tidak berkembang. Pertanyaannya adalah, apakah itu memang realita yang terjadi atau hanya keinginan satu pihak yang belum tercapai untuk mengembangkan hubungan ke arah yang lebih romantis? Perlu kita sadari bahwa setiap “label” hubungan memiliki karakteristik dan batasannya masing-masing. Sebagai contoh, orang-orang yang kita anggap teman hanya dapat mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri kita, berbeda dengan sahabat yang kita perbolehkan bertanya hingga ke akar masalahnya. Dalam friendzone, terdapat ketimpangan harapan antara satu pihak dengan pihak yang lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan batasan-batasan yang selama ini telah dibangun dapat dilampaui bahkan mengancam masa depan hubungan kedua belah pihak.

Berbeda dengan friendzone, hubungan platonik tidak memiliki definisi khusus sebagai label sebuah hubungan. Artinya, hubungan ini tercipta murni karena dua orang yang saling terkoneksi dapat berjalan beriringan dan mendukung satu sama lain. Namun, kedekatan yang tercipta bukanlah tanpa batasan. Persahabatan lawan jenis yang didasari pada hubungan ini tetaplah harus menghormati batasan-batasan personal yang tidak tertulis sebagai kunci untuk mempertahankan hubungan platonik yang baik dan sehat.

Mindfullness dalam Membangun Suatu Hubungan

Terlepas dari hubungan apa yang sedang kita jalani, berhubungan dengan manusia lain merupakan kodrat natural seorang manusia sebagai makhluk sosial. Berkaitan dengan hal ini, kita sebagai manusia yang akan memulai hubungan dan diajak menjalani hubungan sudah seharusnya mempersiapkan diri berada di banyak posisi dan siatuasi. Sebagai laki-laki dan perempuan, dengan segala perbedaan dan kompleksitas yang dimiliki, sudah selayaknya kita memiliki kesadaran penuh akan diri kita sebelum kita “masuk” ke kehidupan orang lain.

Membangun sebuah hubungan bukan hanya tentang dengan siapa kita cocok, namun juga bagaimana kita dapat mengeksplorasi diri ketika kita bersama orang lain. Pandangan tentang hubungan sesama jenis dan lawan jenis yang kerap dibedakan seperti jurang penghalang sudah seharusnya dilihat sebagai kekayaan pola hubungan antarmanusia, khususnya pada hubungan antar lawan jenis yang sedang kita bahas.

Hubungan antar lawan jenis tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan hubungan romantis, tidak juga selalu berharap bahwa perasaan sayang dan ingin memiliki terwujud seperti yang dibayangkan. Lebih dari itu, kita bisa membangun hubungan antar laki-laki dan perempuan yang seimbang dan penuh makna. Dengan demikian, hubungan antarlawan jenis bukan hanya terbatas pada perasaan, namun juga rasa kemanusiaan itu sendiri.

Dari fenomena friendzone dan hubungan platonic kita dapat melihat bahwa hubungan bukan hanya tentang dua atau lebih individu yang terikat di dalamnya, melainkan juga perasaan, pemikiran, dan reaksi yang diberikan atas hubungan yang sedang dijalani. Friendzone mengajak kita melihat bahwa hubungan merupakan proses dinamis di mana suatu perasaan dapat berubah atau berkembang seiring berjalannya waktu, dan tidak seharusnya dilihat sebagai akibat dari ekspetasi yang tidak terpenuhi. Hubungan platonik mencoba melihat lebih luas bagaimana hubungan antar lawan jenis tidak selamanya dan sepenuhnya adalah hubungan romantis yang melibatkan kedekatan seksual, tetapi kita sebagai dua individu dalam suatu hubungan dapat mengajak satu sama lain untuk tumbuh bersama, mengeksplorasi diri lebih mendalam, hingga menciptakan tujuan hidup yang beru untuk masa depan.

 

Jadi, kalian termasuk yang mana? Atau, ada label lain untuk hubungan kalian?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here