Waktu Baca: 4 menit

            Salah satu chef yang saya kenal mengatakan bahwa keberhasilan rasa masak dimulai dari bahan yang dipilih. Bahan sangat penting, vital. Dengan bahan yang tepat, maka akan tersaji masakan yang enak. Itulah filosofi yang dipegang Yayuk Rahayu, pemilik dari warung makan ‘Iwak Kali Kwilet’.

penampakan depan ‘Iwak Kali Kwilet’

Warung makan ini tidak pernah menggunakan ikan yang ditambak. Semua ikan yang ada di sini benar benar dari ‘kali’ atau sungai. Bahkan Yayuk sangat pemilih. Ia juga tidak menerima ikan dari rawa atau waduk. Ia mengatakan bahwa ikan yang hidup dari air mengalir akan memiliki tekstur daging yang jauh lebih baik. Mengapa demikian?

“Kurang tahu mas, tapi memang beda banget. Lebih gurih yang dari kali (sungai-red),” kata Bu Yayuk.

Kamipun sempat berdiskusi mengapa demikian. Sebab, yang dikatakan Bu Yayuk benar. Ikan di Bu Yayuk sangat gurih, beda dengan tempat masakan lain yang sejenis. Akhirnya kami bersepakat dalam diskusi kami bahwa ikan di air mengalir akan sering bergerak sehingga lemaknya tidak terlalu banyak. Hal ini membuat ikan ikan itu memiliki tekstur daging yang lebih crispy jika digoreng. Sementara itu, ikan yang hidup di air tenang seperti rawa dan danau akan memiliki timbunan lemak yang lebih tinggi karena jarang bergerak. Hal ini menyebabkan daging ikan menjadi ‘terlalu basah’ dan kehilangan tekstur karena lemak.

ikannya asli sungai, bukan tambak

Lalu bagaimana dia bisa mendapatkan ikan segar yang cukup setiap harinya? Ia menyebut bahwa kuncinya memiliki banyak supplier. Supplier menurut pemikirannya adalah penduduk di sekitar desa Kwilet, daerah dimana warung makan ini berdiri. Para supplier ini mencari ikan di Kali Krasak dan Kali Lamat, sungai sungai yang berada di dekat lokasi warung makan ini. Boleh dibilang warung makan ini juga menjadi sumber rezeki bagi orang di desa Kwilet.

“Ya menjadi berkat Tuhan untuk semua orang memang menjadi tujuan saya,” ujar Bu Yayuk.

Bukan berarti cara ini tanpa resiko, beberapa orang kadang membawakan ikan yang tidak fresh lagi.

“Perutnya itu sudah keluar begitu, yang ikan ikan kecil. Kalau yang besar sih enggak,” kata Bu Yayuk. Ikan kecil dengan isi perut sudah keluar ketika dimasak takkan memiliki bentuk yang menarik meski secara rasa baik. Kalau sudah begini, Bu Yayuk terpaksa tidak menggunakan ikan ikan itu.

Meski hanya melabeli tempat makannya sebagai warung, namun kualitas benar benar dijaga di warung Bu Yayuk. Saya menyempatkan diri untuk mencoba masakan masakan favorit dari warung Bu Yayuk.

Lele lokal yang kecil tapi gurih luar biasa

Hidangan pertama yang saya coba adalah wader (ikan kecil digoreng kering) yang dicampur bersama udang sungai air tawar. Jujur saja, saya sering menemukan masakan seperti ini di tempat lain tapi yang satu ini beda sekali. Tekstur adalah kuncinya. Untuk bumbu mungkin tidak jauh beda dari tempat lain, namun ikan yang digunakan memberi perbedaan yang sangat signifikan. Rasa gurih alami bersama dengan bumbu yang pas membuat ini adalah salah satu masakan yang harus anda coba.

Pilihan menu kedua adalah lele goreng lokal. Lele ini tidak didapatkan dari proses ternak. Lele lokal hidup di alam dan mereka makan makanan alami sehingga memiliki rasa gurih dan tekstur yang saya bilang tadi, crispy. Kalau anda makan lele dari peternakan, biasanya mereka banyak makan pelet dengan kandungan lemak yang tinggi dan rendah protein. Ikan yang anda makan berukuran besar tapi tidak akan seenak lele lokal yang makan berbagai infusoria dan hewan kecil lainnya. Bisa dibilang lele lokal memiliki rasa unik alami dari kerja alam.

mangut beraneka ikan

Saya juga mencoba mencicipi mangut. Mangut sebenarnya adalah cara memasak. Anda menggunakan santan, bawang merah, bawang putih, banyak cabe rawit dan bumbu dapur lainnya. Sebenarnya ada banyak ikan yang bisa dipakai mulai dari ikan gabus, nila dan lele. Tapi saya akan merekomendasikan ikan gabus dan ikan beong. Mereka enak, tebal dagingnya dan jarang anda temui di tempat lain. Sempurna untuk lidah anda yang mencari masakan khas.

Semua menu ini sempurna disantap bersama dengan nasi putih, Jangan (sayur desa khas Jawa), sambal bawang dan juga kerupuk. Anda harus coba.

crispynya wader dan udang sungai

Lalu dimana anda bisa menemukan makanan ini? Letak warung makan ini ada di utara SMA Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Anda bisa mengklik link ini dan menggunakan google maps untuk menemukannya. Parkiran tempat ini luas sehingga anda tidak perlu khawatir jika membawa kendaraan roda empat.

Mari kesini, anda tidak akan kecewa. Bagi saya, masakan sederhana dengan bahan alami ini mewakili rasa yang saya cari dari masakan yang berbahan dasar ikan sungai.

 

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here