Waktu Baca: 3 menit

Merariq dianggap sebagai budaya suku Sasak dan diterima secara luas sebagai warisan budaya. Namun kini Merarik banyak disorot karena dianggap membahayakan hak anak.

            Pernikahan anak di suku Sasak adalah hal biasa. Menurut pendapat salah seorang penduduk di sana, pernikahan maksimal seorang lelaki adalah dua puluh lima tahun. Sementara itu, nasib yang berbeda dialami sisi perempuan. Perempuan menikah pada usia sedini empat belas tahun. Tentu ini bukan usia yang ideal untuk melangsungkan perkawinan. Namun perkawinan anak ini menjadi hal yang sangat lumrah.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Semua ini dimungkinkan lewat budaya Merariq. Merariq dalam bahasa sederhana adalah ‘kawin culik’. Ya, ini bukan kawin lari. Kawin lari membutuhkan dua orang yang setuju untuk menikah dan kabur dari rumah mereka. Kawin culik sebaliknya, hanya membutuhkan keberanian seorang pria menculik seorang gadis dan menjadikannya pasangan seumur hidup. Jadi, bagaimana Merariq dilakukan?

Dilansir dari berbagai sumber, Merarik dilakukan dengan berbagai versi sehingga sulit untuk ditelusuri prosesi yang tepat. Namun salah satu versi dianggap berbahaya dan meletakkan perempuan dalam resiko yang sebenarnya bisa dihindari. Ilustrasinya begini, anak perempuan anda bisa saja baru berumur empat belas tahun. Ia lalu berkenalan dengan seseorang di media sosial, kemudian mereka bertemu dan anak gadismu dilarikan. Setelah itu kepala suku dari si penculik akan datang dan anda mau tak mau harus menikahkan anak anda dengan penculiknya. Jika tidak, anda dianggap melanggar adat. Hal inilah yang dialami oleh Helma Yani, salah seorang pelaku dari Merariq yang kawin muda karena telah ‘diculik’ seperti dilansir dari ‘detik.com’ dalam artikel berjudul ‘Tradisi Kawin Culik di Lombok Suburkan Nikah Paksa’.

courtesey : Antara (Salah satu gerakan tolak pernikahan

Namun, pada awalnya, Merariq tak dilakukan dengan cara demikian. Menurut penelitian dari Masnun Tahir dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2012), Merariq awalnya adalah sebuah tradisi untuk menunjukkan keseriusan seorang lelaki mempersunting seorang wanita. Penculikan yang terjadipun sudah diatur sehingga bukan penculikan betulan. Bahkan tetua adat melarang adanya keributan saat prosesi penculikan dilakukan.

Tradisi ini sendiri menurut Masnun sudah berlangsung berabad abad. Alasan Merariq dilakukan selain karena merupakan adat, juga karena dianggap sebagai ‘bukti’ nyali seorang pria untuk mempertahankan cintanya. Tidak hanya itu saja, Merariq dianggap lebih sederhana dibanding prosesi lamaran yang masih memperhitungkan kasta, status sosial dan lain lain. Sementara lewat prosesi Merariq, maka prosesi dimana resiko melamar itu bisa ditolak dapat terhapuskan. Versi lain mengatakan bahwa Merariq dianggap sikap yang lebih terhormat dibandingkan lamaran. Sebab, melamar dilakukan tanpa usaha. Namun Merariq membutuhkan perjuangan ekstra.

Prosesi Merariq bagi beberapa orang bisa dianggap sebagai suatu kekayaan budaya. Bahkan di beberapa tempat di Lombok, Merariq menjadi tontonan warga yang penasaran dengan aksi ‘penculikan’ ini. Namun, bagi beberapa orang juga, Merariq bisa menjadi awal dari masalah.

Misalnya yang terjadi antara bocah SD dan SMP di Desa Pangajek, Lombok Tengah. Pernikahan dini itu terjadi hanya karena si laki laki membawa pulang si anak perempuan lewat jam setengah delapan malam. Karena hal itu,si laki laki dianggap sudah ‘menculik’ si gadis dan harus menikahi gadis itu sebagai bagian dari tradisi. Itulah salah satu perspektif Merariq yang menyuburkan praktek pernikahan anak; suatu masalah serius dimana saat ini korbannya mencapai 1,5 juta orang di Indonesia. Menurut PBB kita berada di peringkat kedelapan dengan jumlah pengantin anak terbesar di dunia.

Pernikahan anak bukan hal yang bisa dianggap remeh. Organ reproduksi perempuan belum siap. Selain itu, tidak ada kemapanan finansial. Pernikahan anak bisa dibilang adalah salah satu pintu dari kemiskinan. Nah, ketika kita melihat Merariq sebagai salah satu potensi penyebab pernikahan anak, apakah kita harus menghentikan tradisi ini?

Saya kira menghentikan sepenuhnya tidak tepat. Indonesia mengenal Hukum Adat dan living law ini harus dihormati. Jaman sudah berganti, transformasi Merariq bisa dilakukan untuk menjamin bahwa Merariq menjadi warisan budaya yang positif dan tidak berimplikasi buruk. Apalagi Hukum Adat dijaminkan dalam UUD ’45 yaitu pada pasal 18B ayat 2 : “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”

Namun demikian, betul Merariq harus diatur agar jangan sampai menjadi kamuflase untuk pernikahan paksa yang melibatkan anak anak. Pengaturan ini misalnya dilakukan lewat perda, bisa juga menggunakan basis UU no. 6 tahun 2014 agar peraturan menjadi jelas dan tidak bertentangan dengan prinsip perlindungan anak. Jikapun mekanisme Merariq disusun hingga merugikan hak seorang anak, maka berlaku asas Lex Superior derogat legi inferior dimana UU Perlindungan Anak (UU no. 35 tahun 2014) dan UUD ’45 memastikan perda Merariq yang muncul tidak merugikan siapapun.

Dengan demikian Merariq tetap bisa dinikmati sebagai kekayaan budaya alih alih dalih pelanggaran hak hak asasi manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here