Waktu Baca: 2 menit

Generasi milenial sering tercampur dengan generasi Y, yang mana frasa ini khusus untuk menggambarkan orang-orang yang lahir antara tahun 1980 dan 2000. Meskipun begitu, arti dari generasi milenial ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Sebagian para ahli mengatakan bahwa generasi milenial artinya orang-orang yang lahir antara tahun 1970-an hingga awal 90-an. Namun, sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa tahun 2004 menjadi tahun terakhir dari kelahiran generasi milenial atau gen Y.  yang memiliki sifat yang  senang   akan teknologi ,dan mau- nya serba instan  kata orang  berakit – rakit lah dahulu , bersenang – senang  kemudian. Milenial ini beda, maunya senang aja maunya hasil saja , tanpa melewati  yang namanya proses , inilah yang cukup memprihantinkan  di zaman sekarang .

 

Golongan orang yang tahun ini berusia 18 hingga 34 itu pun dikenal punya karakteristik yang sedikit menantang bagi para seniornya. Meski kreatif, mudah belajar, dan melek teknologi, mereka kadang sulit diajak bekerja keras karena lebih suka proses yang instan. Benarkah?

Sebagai salah satu generasi millennial,  saya sendiri mengakuinya.  Mengapa  generasi sekarang  banyak yang mau- nya instan atau mau- nya buat sesuatu nga lewati proses,  anak muda sekarang. Menurut saya  kehadiran media sosial dan gadget membuat segalanya jadi mudah yang kemudian mempengaruhi sikap, termasuk ketika bekerja dan belajar

Saya pernah  diundang oleh salah satu  dokter  yang sedang  mencari rekan kerja untuk jualan   obat herbal dan berbicara bagaimana memperlakukan generasi millennial. Menurut saya dan dokter itu, mereka begitu karena sekarang semua serba instan. Ada social media jadi gampang jualan dan promosinya juga gratis. Zaman dulu orang jualan harus  jalan kaki keliling   perumahan atau keliling  kompleks  , jaman sekarang  di posting di media sosial  mudah sekali mendapat hasilnya. Maka berbeda zaman dulu dengan sekarang. Bisa dibilang, sekarang anak- anak  sifat manjanya kuat  sedangkan  orang dulu lebih mengandalkan kerja keras.

Tapi tidak semua berpikir seperti itu karena proses jatuh bangun itu penting untuk pembelajaran, jika kita maunya, semuanya ingin instan, kapan kita bisa melakukan sesuatu hal  yang benar-benar  membutukan proses perjuangan.

Zaman  sekarang apa- apa instan. Banyak pemikiran hidup sekedar kayak mie instan. Diaduk aduk jadilah itu mie. Janggan salah,  suatu saat anda di hadapi  permasalahan yang rumit yang butuh proses kamu tidak bisa menyelesaikan masalah itu.

Memang benar  kalau di bilang  teknologi  juga banyak memiliki manfaat di  masa sekarang misalnya di dunia kerja salah satunya adalah di tengah  pandemi  atau covid 19, kita bisa bekerja dan belajar dari rumah dengan model daring. Tapi bukan berarti lalu teknologi ini untuk cari mudahnya saja.

Untuk itu,  saya  ingin mengedukasi para millennial agar menghargai  proses . Karena, kalau kita menghargai proses, kita tidak akan mudah jatuh dalam keadaan apa pun dan kita tahu  tahap selanjutnya yang kita buat.  Tentu kita menjadi tidak salah jalan  dalam arti bahwa   kita tau  tujuannya. Kalau kita maunya instan,  kita tidak tau dong  prosesnya. Kalau di bilang prosesnya rumit. Jujur saja, banyak hal yang kita  korbankan, seperti  tenaga, waktu, material   untuk mencapai tujuan atau apa yang kita impikan.

Saya pikir, seandainya saya itu jajan apa apa dari orang tua, ya saya tidak akan maju. Kesempatan belajar mandiri akhirnya membantu saya untuk belajar menghargai proses secara keseluruhan. Kalau kita belajar menghargai proses, kita belajar tahap tahap dalam bekerja keras dan membentuk inovasi. Inovasi inilah yang akhirnya menjadi kunci kesuksesan kita.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here