Waktu Baca: 3 menit

Buat saya, nasi pecel itu harus segar. Selain segar, nasi pecel tidak boleh terlalu berat karena ini adalah panganan untuk sarapan. Saya tidak ingin makan makanan terlalu berat untuk sarapan karena itu akan membuat saya mengantuk. Nasi pecel Mbok Kami ini sempurna untuk sarapan. Karbohidratnya cukup dan aneka sayuran yang dipilihpun segar dengan bumbu kacang yang gurih, tidak terlalu manis seperti nasi pecel kebanyakan.

Selain nasi pecelnya yang enak, di Mbok Kami anda akan menemukan berbagai lauk pendamping. Di situ ada aneka gorengan: bakwan, tempe serta makanan lain dan ada juga lauk lauk pendamping menarik lainnya. Misalnya saja sate keong, sate usus dan saren atau kukus darah ayam. Saren ini sudah sulit ditemukan. Beberapa keyakinan agama menganggap saren ini haram. Saya tidak dalam posisi memperdebatkan keyakinan ini. Tapi, saren ini memiliki cita rasa yang berbeda dan bagi anda yang memilih memakannya, saren adalah salah satu pengalaman kuliner yang berkesan. Rasanya mirip ati ayam tapi lebih kenyal dan gurih.

Saat ini Nasi Pecel Mbok Kami dikelola oleh anaknya, Fransisca Utari. Bu Tari bercerita awalnya ibunya berjualan di tahun 1966. Saat itu adalah masa yang sulit, kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk. Mbok Kami berjualan nasi pecel sebagai solusi karena suaminya yang bekerja sebagai tentara memasuki masa pensiun. Tak disangka nasi pecelnya laris. Setelah meninggal, usahanya diteruskan oleh anaknya, Bu Tari.

Saren yang unik dan lezat

Ketika saya bertanya kenapa Bu Tari memilih melanjutkan usaha ibunya, Bu Tari menyebut dengan rendah hati bahwa hanya itulah satu satunya kemampuannya.

“Saya putus sekolah. Bersekolah hanya sampai SD saja. Setelah itu ya saya membantu ibu berjualan,” kata Bu Tari.

Sekilas tak ada yang spesial dari cerita Bu Tari. Tapi di sinilah saya menilai ada kehebatan Bu Tari yang tersembunyi. Sedari kecil ia sudah mengenal nasi pecel dengan baik dan tahu cara mengeluarkan rasa terbaik dari panganan ini. Ia juga paham bagaimana bisnis ini bisa berjalan dan dikembangkan. Hal itulah yang membuatnya menjadi penerus yang sempurna dari nasi pecel Mbok Kami ini. Di tangannyalah nasi pecel ini populer dengan sajian beraneka ragam lauk pendamping. Tiap harinya ratusan orang datang untuk mencicipi nasi pecel ini.

Rezeki sudah melimpah, namun Bu Tari memilih untuk tidak menghamburkannya. Sebaliknya, rezeki yang melimpah membuat dia memutuskan untuk berbagi. Bahkan bisa dibilang cara ia berbagi sangat luar biasa.

“Saya memiliki enam orang anak,” kata Bu Tari. “Semuanya anak asuh.”

Ya, itulah Bu Tari, ia tidak menikah dan ia memilih membaktikan dirinya kepada anak anak yang tidak mampu. Awalnya ia mengambil anak dari saudara jauhnya kemudian anak asuhnya bertambah sedikit demi sedikit. Ia mengaku, semua yang ia lakukan bukan karena dari dirinya. Semua itu semata mata berkah dari Tuhan.

Ia menyebut anak anaknya berkelakuan baik. Mereka sering membantu Bu Tari dalam usahanya termasuk membawa air dari sumur, mencari kayu untuk memasak dan berjualan. Bu Tari mengaku bersyukur punya anak anak yang dewasa sehingga ia banyak terbantu dalam hidupnya. Kini anak anaknya sudah banyak yang merantau dan berhasil dalam hidupnya. Hal ini menjadi sisi lain yang disyukuri oleh Bu Tari.

Kini di usianya yang memasuki masa senja, ia bertekad untuk tetap berjualan dan menebar kebaikan. Ia percaya makanan yang ia jual tidak hanya menjadi makanan bagi perut tapi juga bagi jiwa.

Bagi yang tertarik untuk mencicipi nasi pecel Bu Kami bisa klik di sini. Teman teman juga bisa melihat liputan video mini kami mengenai pecel Bu Kami di aplikasi Tik Tok kami di @madhangbareng. Yuk makan dan belajar soal kehidupan!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here