Waktu Baca: 4 menit

Paul Joseph Zhang, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana tidak? Namanya mulai mencuat pada awal pekan ini dengan laporan penistaan Agama Islam. Tuturannya akan obsesi identitas itu pun tidak sekedar kasus belaka, melainkan pula menyebabkan umat muslim naik darah di bulan puasa 2021.

Kasusnya diangkat dari tuturan di channel Youtube pribadinya, Paul Joseph Zhang atau yang biasa disebut Pendeta Paul Zhang, mengutarakan tuturan yang menuai kritik mengenai bulan puasa dan Ramadhan, pengakuan nabi ke-26, hingga menantang warganet melaporkannya ke pihak yang berwajib dengan tawaran jutaan rupiah. Selain itu, banyak juga tuturan yang dianggap penistaan Agama Islam dalam video khotbahnya yang lain.

Kasusnya hingga kali ini semakin menjadi perdebatan di dunia maya dan media televisi. Setelah disidik oleh kepolisian, ditemukan beberapa bukti bahwa keberadaan Paul Zhang sudah tidak di Indonesia, antara pindah kewarganegaraan atau menetap di Jerman dengan masih berstatus WNI.

Jika kita coba dalami lagi, kasus intoleransi memang telah banyak di Indonesia, dan masih ada sampai sekarang. Namun, apa sih yang membedakan kasus Paul Zhang dengan kasus intoleransi lainnya di Indonesia? Dampak apa sih bagi masyarakat Indonesia? Mari kita bongkar satu per satu.

Paul Zhang dalam salah satu seminar Zoomnya

Obsesi Identitas

Shindy Paul Soerjomoelyono, nama asli Paul Zhang, merupakan pendeta Kristen yang beretnis Cina, salah satu etnis minoritas di Indonesia. Sebagai pendeta, ia tidak hanya berkhotbah saja melalui Zoom Meeting, melainkan pula mengaku telah membaptis ratusan orang di Eropa, dan kebanyakan imigran dari Timur Tengah.

Keluarnya tuturan tersebut bukan hanya sekedar penistaan, melainkan lebih dalam. Hal tersebut yakni obsesi identitas, terkhusus mengenai obsesi identitas dan agama.

Bagaimana bisa obsesi identitas merupakan akar dari penistaan agama? Suebehaviouraldesign.com mengungkapkan bahwa dalam ideologi atau budaya menawarkan pandangan-pandangan ideal mengenai masa depan, dan layak diperjuangkan. Hal tersebut tampak dari kehidupan sehari-hari, seperti identitas almamater sekolah atau kampus, budaya tempat kita dibesarkan, dan agama.

Dalam agama, terdapat sistem dan visi yang menurut orang baik dan dapat diikuti. Ketika masyarakat mulai memeluk dan mengikuti sistem dan visi dari agama yang mereka tawarkan, mereka tidak sekedar menaruhnya sebagai sistem melainkan menaruhnya sebagai Identitas.

Agama secara sistem dan visi yang diberikan baik, tapi akan menjadi masalah jika agama menjadi obsesi. Masalah tersebut tampak ketika individu bertemu dengan individu lain yang beragama beda. Obsesi tersebut tidak semerta-merta menguatkan pribadi, melainkan pula dapat merusak pihak lain dengan keluarnya kata-kata kasar dan penistaan agama karena menganggap agamanya lebih baik dibandingkan agama lainnya.

Tindak Tutur

Dalam praktik berbahasa, tindak tutur tidak bisa disamakan. Tindak tutur tidak bisa dilepaskan dari identitas penutur, tempat dan waktu bertutur, konteks pembicaraan, lisan atau tertulis, dan ruang yang digunakan. Hal-hal tersebut yang menjadi landasan bahwa tidak semua praktik berbahasa benar, karena ada batasannya.

Berdasarkan kasus Paul Zhang yang mengeluarkan kata-kata mengenai bulan puasa dan Ramadhan, pengakuan nabi ke-26, hingga menantang warganet melaporkannya ke pihak yang berwajib dengan tawaran jutaan rupiah tidak bisa ditangkap sama pada umat yang mendengarkan, umat Kristiani selain umatnya, serta umat muslim. Bagi umatnya, kalimat tersebut dapat dianggap sebagai kritikan agar umatnya mendalami kewajiban beragama, tapi bagi umat muslim pasti dapat dianggap penistaan karena tradisi keagamaan dan nabi mereka dihina.

Hal tersebut sama seperti kasus “kursi kristen” yang dituturkan Yahya Waloni pekan lalu yang marah dengan kursi yang ia gunakan untuk duduk. Kasus tersebut sempat menjadi perdebatan di dunia maya, mengingat Indonesia pada April 2021 sensitif dengan kasus intoleransi dan terorisme.

Namun tidak bisa dilepas bahwa tindak tutur bisa dihilangkan dengan tujuan penutur mengucapkan tindak tutur. Paul Zhang disebut menistakan Agama Islam karena dalam caranya bertutur ada kemungkinan besar murni penistaan agama. Hal tersebut tampak juga dari pemilihan kosakata, nada dan intonasi berbicara, dan pemilihan gaya bahasa sarkasme ketika menantang penonton untuk melaporkan, mengutarakan kata-kata negatif mengenai bulan puasa dan Ramadhan, serta pengakuan nabi ke-26.

Peningkatan Intoleransi di Indonesia

Layaknya butterfly effect, tindakan yang dilakukan Paul Zhang justru dapat berakibat buruk bagi masyarakat minoritas di Indonesia, khususnya masyarakat beretnis Cina di Indonesia. Layaknya kasus Al-Maidah 51 yang berujung dikurungnya Ahok, penistaan yang dilakukan Paul Zhang dapat berujung pada meningkatnya kasus intoleransi etnis Cina di Indonesia.

Sepanjang sejarah kasus intoleransi di Indonesia, etnis Cina bisa disebut merupakan korban dari sistem masyarakat berdasarkan ciri fisik dan identitas yang “berbeda” dibandingkan pribumi yang bersawo matang dan muslim. Intoleransi itu tampak, tidak hanya dari tindak tutur, melainkan pula pada dunia pekerjaan dan hidup menetap di Indonesia.

Kemarahan umat muslim mendengar penistaan agama memang tidak bisa dihindari, dan merupakan fakta masyarakat di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan beberapa pihak yang tidak berkaitan secara langsung ataupun tidak berkaitan sama sekali dengan Paul Zhang dapat kena tindakan tidak menyenangkan.

Baru-baru ini, pendukung ISIS pun bersuara dan mengancam akan memenggal Paul Zhang. Ancaman yang dikeluarkan pendukung ISIS pun tidak hanya menunjukkan bahwa mereka mengancam pelaku, melainkan pula mengancam keselamatan etnis Cina dan penganut agama nonmuslim di Indonesia.

Setelah 3 pekan peristiwa pengeboman terjadi di Katedral Makassar, masyarakat minoritas hingga saat ini belum siap sepenuhnya menghadapi tekanan terorisme. Tuturan Paul Zhang pun dapat memicu terorisme dan tindakan intoleransi semakin menjadi-jadi di Indonesia. Kebencian tidak bisa dengan mudah hilang, dan pasti berakibat pada tumbuhnya kebencian di Indonesia.

Obsesi identitas dan tindak tutur masyarakat tidak bisa diubah semudah memutar telapak tangan. Kembali lagi ke kita, apakah kita terobsesi dengan identitas dan sudah bertutur dengan baik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here