Waktu Baca: 3 menit

Tahun 2021 masih sama seperti tahun lalu. Umat Katolik masih merayakan wafat dan kebangkitan Yesus dengan sahabat baru kami, Covid-19. Beberapa umat pasti merindukan kehadiran Tuhannya dengan turut serta hadir di rumah Tuhan. Namun, sampai saat ini, Umat Katolik masih takut untuk datang ke gereja.

Pekan suci ini, umat Kristiani merasakan ketakutan untuk datang ke gereja. Masih ingatkah peristiwa yang terjadi hari Minggu (28/03) dan Rabu (31/03) lalu kah? Peristiwa pengeboman Gereja Katedral Ujung Pandang Makassar dan penyerangan Mabes Polri Jakarta masih menjadi beban tersendiri. Perbincangan dan ketakutan ditambah tidak hanya dari dua peristiwa momentum saja, melainkan ketika gereja dijaga oleh banyak polisi dengan senjata dan helmnya.

Dengan banyaknya polisi serta ormas yang mengamankan ibadah pekan suci, apakah benar umat masih merasa aman dengan itu? Jawabannya iya dan tidak. Pastilah umat akan merasa lebih tenang dan fokus dengan ibadahnya pada Tuhan karena keamanan sudah menjadi tanggung jawab polisi yang menjamin keamanan dan ketertiban tiap warga negara. Namun di sisi lain, dengan banyaknya polisi dan ormas yang berjaga justru masih ada rasa takut umat akan dua hal utama, penyerangan dan Covid-19.

Melihat banyaknya polisi dan ormas yang berjaga, umat sebenarnya masih merasa tidak aman untuk beribadah dan hidup sebagai minoritas. Ketakutan itu tumbuh dari sikap manusia yang secara naluri merasa tidak aman. Ketakutan tersebut justru membuat umat yang seharusnya menaruh kepercayaan pada polisi dan ormas dalam menjaga peribadatan menjadi hilang. Namun memang benar, sebagai manusia kita masih mengikuti naluri duniawinya demi keselamatannya.

Mereka Mengajak tapi Aku masih Takut

Beberapa gereja di Indonesia sudah mengajak umatnya kembali ke gereja di masa krisis iman tersebut. Kabar itu untuk beberapa umat merupakan kabar baik, karena banyak umat yang jenuh dengan ekaristi live streaming, serta merindukan ekaristi serta tubuh dan darah Kristus. Ekaristi langsung di gereja merupakan salah satu bentuk penyegaran iman dan batin bagi umat Katolik.

Bahkan, keputusan Gereja Katedral Ujung Pandang Makassar yang tetap menyelenggarakan ekaristi pekan suci di masa Covid-19 serta terjadinya peristiwa tersebut pun di satu sisi mengangkat semangat umat Katolik seluruh Indonesia dan menaikkan kepercayaan umat pada Polri. Di satu sisi, Gereja justru mengajak umatnya tidak takut dengan peristiwa tersebut dan tidak perlu takut beribadah di gereja. Pesan tersebut merupakan salah satu ajakan yang membangun bagi umat Katolik Indonesia rindu merayakan Paskah di gereja.

Bahkan, romo-romo tiap gereja yang sudah membuka misa tatap muka pun sudah menegaskan umatnya untuk tidak takut dengan penyebaran Covid-19 dan penyerangan lanjutan. Gereja masih mengajak umatnya kembali beribadah di gereja karena krisis iman di masa pandemi. Bahkan, pekan suci ini merupakan salah satu krisis iman umat.

Namun ajakan itu justru merupakan gambling, terkhusus di dalam batin umat. Banyak yang merasa bahwa gamblingnya akan menang, dan banyak juga yang merasa bahwa gamblingnya kalah. Perasaan itu di setiap umat pasti ada, dan keduanya berperang dalam batin merebutkan keputusan yang dapat direalisasikan. Optimisme dan keberanian umat untuk berani ikut misa langsung di gereja dihadapkan dengan ketakutan tertular Covid-19 dan diserang di tengah ekaristi masih ada di medan peperangan batin umat Katolik.

Umat sekarang jika ingin ke gereja pasti ada perasaan gambling tersebut, bagaikan kita akan masuk ke danau yang pekat airnya. Jika tidak mencoba masuk, tidak akan mengetahui seberapa dalam danau yang akan masuki. Namun, karena warna keruh dan pekat itulah yang semakin menumbuhkan rasa takut itu.

Umat masih seperti itu, bahkan untuk beberapa umat yang hadir ke gereja. Ketakutan itu tumbuh karena belum mencoba. Umat membutuhkan cahaya atau penuntun yang dapat melawan ketakutannya. Siapakah yang bertugas akan hal itu? Ujung-ujungnya pasti mengembalikannya ke diri sendiri karena berkait dengan iman mereka masing-masing jika pertanyaan itu diajukan ke umat lain.

Tahun lalu hingga tahun ini, seluruh orang di dunia pasti merasakan Covid-19. Bahkan, bahasan, kewaspadaan, dan ketakutan tertularnya Covid-19 masih menjadi ketakutan publik. Adanya vaksin pun belum menjadi solusi tercepat hilangnya penyakit dari muka bumi. Walaupun beberapa gereja sudah mempersilakan umatnya untuk mengikuti ekaristi di gereja dengan protokol kesehatan yang lengkap pula, ketakutan itu pasti ada di setiap umat.

Harapan di Balik Ketakutan

            Umat Katolik di pekan suci kali ini memang masih takut, entah itu hadir ke gereja dan melangsungkan kewajiban agamanya di tempat masing-masing. Sungguh manusiawi setiap manusia merasa takut. Takut merupakan salah satu naluri manusia.

Misa seramai ini masih angan angan saja
Courtesey : Norbert Orisko

Namun setelah sampai di hari Yesus wafat di kayu salib dan bangkit dari orang mati, tiap umat Kristiani di seluruh dunia pun menanamkan doa dan harapan itu. Selain bencana pekan ini selesai, mereka berharap agar terbebas dari ketakutan itu.

Bebas dari ketakutan bukan berarti tidak bisa merasakan takut lagi, melainkan umat Katolik yang berani mengambil keputusan, entah itu menghadapi masa pandemi di pekan suci ataupun ancaman teror dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini berkaitan dengan kedewasaan iman dan bangkit dari krisis iman tiap umat.

Dengan melihat semangat Sang Mesias yang dapat bangkit lagi, pemaknaan tersebut tidak sekedar pemaknaan ilahi atau hal-hal yang suci surgawi, melainkan mengajak setiap umatnya di dunia dapat bangkit dengan caranya masing-masing dari krisis iman ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here