Waktu Baca: 3 menit

“Aku pinjem bolpoinmu dulu, ya, besok kubalikin deh,” dan di keesokan harinya, bolpoinnya hilang tak kembali.

Waktu duduk di bangku sekolah, kalian pasti pernah minjamin bolpoin, pena, pensil, dan alat tulis lainnya ke teman kalian. Alasannya macam-macam, ada yang mengaku tidak bisa beli, lupa membawa, atau bahkan sengaja tidak membawa. Setelah selesai digunakan, seharusnya tanggung jawab peminjam pasti mengembalikan bolpoin itu dalam keadaan utuh. Ya kalau minus, paling ya jumlah tintanya saja yang berkurang. Itu hal yang wajar.

Namun kalian pasti pernah ngalamin bolpoin kalian kembali tidak dalam keadaan utuh, misalnya mengembalikannya ketika tintanya sudah habis, tutupnya hilang, bagian penjepitnya patah, atau bahkan tidak kembali sama sekali. Ngeselin, tentu iya. Mungkin kita sebagai peminjam akhirnya mengikhlaskan bolpoinnya dan membeli yang baru. Toh, bolpoin dijual murah di koperasi milik sekolah atau kampus.

Bagaimana jika bolpoin yang tidak dikembalikan itu bukan milik teman, melainkan institusi-institusi seperti bank, kantor polisi, kantor pemerintah daerah, kantor pos, dan kantor-kantor umum lainnya? Contoh, misalnya ketika kalian sedang proses perpanjangan SIM dan harus menuliskan formulir di meja yang sudah tersedia, bolpoin yang disediakan banyak di kotak pensil habis dan tinggal tutupnya saja. Hal-hal semacam itu juga sering ditemukan di bank serta kantor pos, ada orang yang pakai bolpoin, lalu bolpoinnya dibawa pulang.

Terkadang, kalian entah sebagai peminjam atau yang meminjami pernah mengalami hal-hal semacam itu, terkhusus kalian yang meminjamkan pasti sebel. Sebelum kita masuk ke hal-hal yang merepotkan orang lain, perlu kita kenal dahulu alasan orang dapat nggampangin bolpoin dan alat-alat tulis lainnya.

Alasan Orang Nggampangin Bolpoin

Kalian pasti dapat dengan mudahnya membeli bolpoin. Bahkan, dengan uang Rp1.000,00 sudah bisa membelinya. Dengan barang semurah itu, bahkan sering sekali yang meminjamkannya merasa tidak masalah, karena dapat beli lagi, dan sering peminjam tidak mengingatkan bolpoinnya ketika berkegiatan. Pastilah institusi umum tidak mungkin menyediakan bolpoin mahal seperti Hi-Tech yang satuannya seharga Rp16.500,00 lebih. Pun mereka pula sudah menyediakan banyak bolpoin cadangan jika bolpoinnya habis diambil tamu.

Waktu sekolah, pasti kalian pernah piket setelah pulang sekolah. Ketika menyapu, sering sekali menemukan alat tulis seperti pensil, bolpoin, pena, penghapus, dsb yang jatuh dan tidak diambil penulisnya. Bentuknya yang kecil dan mudah terselip juga menjadi alasan pemilik bolpoin kadang sering jatuh dan hilang.

Pemilik bahkan sering melupakannya, karena barangnya yang kecil dan harganya murah. Pasti ada peminjam yang mengembalikan bolpoinnya jauh-jauh hari tapi ketika mengembalikan dijawab dengan, “eh, iya kah kamu pinjam bolpoinku? Makasih, ya, sudah dibalikin.” Kadang membuat peminjam bingung, apakah yang meminjami kesannya memberikan atau meminjamkan.

Pemilik dan Pengguna Lainnya Ikut-ikutan Repot

Memang benar bahwa ngikhlasin bolpoin lebih gampang ketimbang ngejar-ngejar peminjam suruh mengembalikan barang kecil yang harganya terjangkau. Memang itu barang yang kecil, tapi itu bukan milik pribadi dan harus dikembalikan.

Hal tersebut pasti sering terjadi, khususnya di bangku sekolah atau kuliah yang terjadi pemilik bolpoin sering dipinjam oleh teman dan tidak pernah mengembalikan. Ketika ditanyai, peminjam justru mengatakan maaf telah menghilangkan bolpoinnya. Untuk satu atau dua kali kejadian, tentu peminjam masih memaklumi dan mengikhlaskan bolpoinnya yang hilang. Namun, jika hal tersebut selalu diulangi berkali-kali, tentu hal tersebut tidak hanya meresahkan, melainkan pula menghambat kinerja orang lain.

Pemilik bolpoin pun ada yang mempertahankan bolpoinnya hingga habis baru mengganti tinta atau bolpoin yang baru. Bahkan ada yang berusaha menjaga kondisi bolpoinnya agar tetap nyaman digunakan. Ketika bolpoin yang dikembalikan dalam kondisi tidak baik, pasti ada rasa tidak nyaman pemilik pada peminjam dan menggunakan bolpoinnya. Mau tidak mau, pemilik harus keluar uang lagi.

Hal tersebut sama seperti kita ke kantor umum. Banyak orang-orang yang tidak menyadari bahwa antrean di belakangnya membutuhkan bolpoin untuk mengisi data diri atau formulir tertentu, dan di posisi ia tidak membawa bolpoin. Orang-orang di belakangnya pun mau tidak mau harus melapor dan menunggu agar bolpoin yang digunakan umum dapat terisi kembali dan melanjutkan mengisi dengan risiko didahului yang belakang.

Kalau Pinjam ya Dikembalikan

“Kan bolpoin murah, pasti bisa lah yang punya beli sendiri.” Kata-kata tersebut pasti ada yang muncul ketika mengembalikan bolpoin. Memang benar, bolpoin harganya terjangkau. Jika mengatakan ‘bisa beli sendiri’ seharusnya peminjam pun dapat beli bolpoin, semurah apapun itu, kan?

Kebiasaan menggampangkan bolpoin, terkhusus bagi pihak peminjam justru merupakan tindakan yang mengesalkan bagi yang sering meminjamkan bolpoin. Hal tersebut justru dapat menurunkan kepercayaan antara peminjam dan dipinjami.

Jika orang yang meminjami telah meminjamkan bolpoinnya berarti ia telah mempercayakan barangnya ke peminjam. Peminjam, walaupun telah mendapatkan bolpoin dan harganya terjangkau, tetap harus bertanggung jawab menggunakan bolpoin itu dengan semestinya dan mengembalikannya tidak dalam keadaan yang rusak.

Pun sama ketika kita menggunakan bolpoin umum. Bolpoin itu bukan milik pribadi dan digunakan untuk kepentingan umum tamu. Pengguna bolpoin pun harus mengingat pengguna yang lainnya dengan mengembalikannya ke tempat semestinya agar semua orang dapat mengurus urusannya tanpa hambatan orang lain.

Pentingnya mengembalikan bolpoin ke pemiliknya bukan sekedar kewajiban peminjam yang harus mengembalikan. Melainkan hal tersebut juga menjadi salah satu aspek terkecil kita menghargai orang lain atau tidak. Kalau dengan sebatang bolpoin kita membiasakan diri bertanggung jawab, tidak hanya mengurangi pemborosan membeli bolpoin baru, melainkan pula dapat membangun kepercayaan pada orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here