Waktu Baca: 3 menit

Tak lama setelah peristiwa naas KRI Nanggala 402, orang-orang yang berkomentar miring di media sosial mengenai peristiwa tersebut mengalami persekusi. Sebut saja oknum polisi di Yogyakarta, seorang buruh tani di Medan, dan calon presiden lucu-lucuan Nurhadi. Soal komentar miring atau kelakar orang terhadap peristiwa naas, kiranya tak hanya dilakukan oleh mereka bertiga. Masih banyak netizen yang dengan nir-empati berkelakar atas peristiwa naas tersebut. Penggalangan dana masyarakat untuk membeli kapal selam baru pun juga sebetulnya sebuah kelakar halus.

Terhadap mereka yang berkomentar miring atau berkelakar atas kedukaan, pantaskah kita melakukan persekusi ?

Dinamika reaksi orang terhadap satu peristiwa duka sarat dengan unsur psikologis. Orang bisa benar-benar sedih dan berduka secara dalam atas tenggelamnya KRI Nanggala 402, karena mereka memiliki ikatan emosional terhadap kapal selam, kaitan afektif terhadap figur ke 53 awak kapal tersebut, atau karena tersengat suasana duka bangsa. Pada proses itu, tidak hanya muncul simpati, melainkan juga empati. Jika simpati hanya sebatas ucapan dan batin, maka empati sudah bisa dalam bentuk sikap, bahkan tindakan konkret dan rasional. Bagi orang yang bisa bercanda atau berkelakar atas kedukaan orang lain, bisa dikatakan sebagai nir-empati.

Gerakan batin untuk simpati dan empati bukanlah sesuatu yang bisa diwajibkan atau diatur. Mekanisme keduanya terjadi secara otomatis dari pikiran kita masing-masing. Kalau kita sudah terbiasa berbelarasa, peduli pada sesama, dan solider pada penderitaan orang lain, maka kita pun dengan mudah berempati terhadap berbagai peristiwa kedukaan. Tetapi ketika orang tidak terlatih dan tidak terbiasa berkemanusiaan dan berbelarasa, maka ia akan mengalami hambatan untuk menunjukkan empati pada orang lain. Mungkin ia tertarik memperhatikan satu peristiwa besar tersebut, tetapi ia tak mampu menunjukkan empati. Yang mudah muncul justru analisis rasional dan menemukan ketimpangan antara kondisi ideal dan realitas.

Ketimpangan harapan dan realita itu pada akhirnya bisa bermuara pada kritik, bisa juga bermuara pada candaan. Ketika orang tidak mampu mengkritik, maka yang lebih mudah ia lakukan adalah berkelakar atau bercanda. Sikap nir-empati itu akan menjadi persoalan besar ketika dilihat dan didengar oleh pihak yang mengalami kedukaan. Tentu saja orang akan marah besar  karena tahu ada pihak yang meremehkan suasana batin orang yang  sedang berduka itu. Kelakar dan candaan itu dapat bermuara menjadi ejekan yang menyakitkan dan bentuk kekurangajaran.

Rasa sakit hati itu mendorong orang-orang untuk menemukan dan menghakimi pihak yang dianggap nir-empati. Prosedur standar yang biasa dikerjakan adalah mendesak orang untuk meminta maaf dan membuat jera. Bila tidak cukup, maka dibawa kepada pihak kepolisian untuk diproses. Tindakan persekusi itu memang bisa membuat jera pelaku, tetapi tak akan bisa mengubah yang nir-empati menjadi empati. Sikap empati adalah hasil proses alamiah dari batin seseorang, yang tidak bisa dipaksakan muncul. Oleh karena itu permohonan maaf bisa terucap pertama-tama karena takut terhadap persekusi, bukan karena menyadari betul bahwa kita perlu berempati pada para keluarga korban.

Seperti biasanya juga, target persekusi adalah orang-orang biasa, yang tidak memiliki kekuatan sosial dan posisi tawar yang cukup. Orang-orang yang mengalami persekusi adalah mereka yang tidak cukup melek informasi, tidak menguasai literasi media sosial, dan tidak paham risiko bermedia sosial. Sementara itu pihak yang berkelakar atas insiden KRI Nanggala 402 tidak hanya masyarakat akar rumput. Politisi pun juga ada yang membuat kelakar. Tetapi siapa yang mau mempersekusi Bung Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga yang konon memborong perabotan masak dari inventaris kementerian, untuk meminta maaf atas ucapan kelakarnya ?  Ujungnya pun adalah kritik dan kecaman.

Sebetulnya ada cara yang lebih kreatif untuk membuat kaum nir-empati menjadi jera dan menumbuhkan empatinya terhadap insiden KRI Nanggala 402. Ajaklah mereka berenang di kedalaman 10 meter selama 15 menit tanpa perlengkapan selam. Barangkali dengan cara itu mereka jadi tahu tentang rumitnya situasi yang dihadapi awak kapal selam.

Empati akan lebih mudah tumbuh ketika orang memiliki pengalaman konkret yang berkaitan dengan suatu peristiwa naas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here