Waktu Baca: 3 menit

Waktu kita berada di usia anak-anak, pastilah kita di keluarga maupun sekolah dikenalkan cerita. Bermacam-macam cerita tentunya, ada yang dengan mendengar cerita dari orang tua atau kakek-nenek sebelum tidur, mendengarkan guru bercerita di kelas, membaca buku, ataupun siaran di televisi. Semakin bertambahnya usia, kita pun juga pasti menaikkan tingkat bacaan kita, misalnya ketika remaja kita mulai baca buku teenlit dan roman-roman picisan.

Aku pribadi sebagai mahasiswa Sastra Indonesia pun mulai berkembang mengenai kategori sastra dan menekuni hal-hal yang berbau sastra serius, dengan kata lain yakni karya sastra yang layak dikaji dengan teori-teori terkemuka dan kuat akan gejolak batin karakter serta alurnya. Kali ini aku tidak akan berbicara banyak mengenai sastra yang serius, tapi kembali ke awal kita ketika masih anak-anak.

Sastra anak mungkin masih asing untuk kalian yang mendengarnya. Sastra anak secara garis besar memiliki tujuan utama, yakni sebagai hiburan—melepas penat dan menghadirkan tawa—serta sarana menyalur pesan moral. Kita membaca sastra anak, misalnya cerita rakyat Timun Mas, cerita tersebut menarik, terkhusus bagi anak-anak yang mendengarnya. Tidak hanya menarik karena Timun Mas dan keajaiban yang ia lakukan untuk mengalahkan raksasa dan kembali ke ibunya saja yang menarik, melainkan pula, di dalamnya ada pesan yang relevan sepanjang masa, yakni kasih sayang orang tua dan anak yang tidak mengenal anak kandung maupun angkat.

Namun, jika kita, secara khusus kita-kita ini yang remaja maupun dewasa, pasti ada yang merasa, “Ah, itu kan cerita buat anak kecil. Cerita buat anak kecil ya buat anak kecil aja. Yang udah gede mending baca yang buat seusia kita!” Eitsss… yakin nih cuma relevan di anak-anak aja? Ini aku ‘bongkar’ sastra anak.

Kebahasaan Mudah Dipahami

Di Indonesia banyak orang bisa menulis dan bahkan membukukan tulisannya hingga menjadi best-seller di percetakan ataupun difilmkan. Namun tetap, sebesar apapun penulisnya dan sehebat apapun karyanya, belum tentu mereka dapat menggunakan kalimat dan kosakata yang mudah dipahami bagi orang.

Contoh pada cerpen-cerpen yang ditulis Danarto. Danarto bagi orang yang membaca karya sastranya erat dengan kebahasaan yang simbolik. Dalam cerpen ‘Godlob’-nya tersebut, tampak secara kebahasaan masih bisa dibaca, tapi untuk diikuti ceritanya dengan kebahasaannya justru sulit ditangkap. Bahkan, sulitnya cerpen-cerpen Danarto tersebut memerlukan ilmu-ilmu lain untuk membantu menjawab pesan dan memahami alur yang ada di cerita pendeknya.

Sastra anak secara khusus ditulis dengan tingkat kebahasaan anak-anak usia 5—14 tahun. Mengapa sih hal tersebut dilakukan? Pasti agar pembaca dapat memahami isi cerita. Tidak bisa penulis sastra anak menggunakan bahasa simbolik dan penuh dengan tanda dan kosakata tingkat tinggi.

Hal tersebut disebabkan karena di usia tersebut, anak masih berada di masa belajar berbahasa, maka pentinglah penulis menuliskan tulisannya dengan kebahasaan yang mudah, seperti contoh yang dapat ditemukan adalah lebih banyak menggunakan kalimat tunggal dengan struktur kalimat yang S-P-O-K. Bahkan sastra anak juga di setiap jenjang usia memiliki tingkatan yang berbeda secara kebahasaan dan mencerna kalimat.

Karangan dan Pesan Mudah Didapat

Memang benar, antara pesan dan karangan yang hadir di cerita tidak jauh. Dalam teenlit biasanya berisi tentang keluh kesah dan perjuangan remaja di masa mudanya. Bahkan dengan membaca kisah teenlit pun kita masih bingung, apa pesan sesungguhnya yang dapat diangkat bagi diri sendiri? Ujung-ujungnya kalau tidak jeli masih di tingkatan hiburan.

Sastra anak menekankan akan 2 hal utama, yang pertama yakni hiburan, dan yang kedua pesan moral. Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan pesannya harus erat pada moral. Dari situ, sefantasi atau sefabel apapun cerita pasti pesannya tidak jauh-jauh ataupun simbolik.

Jika kita membaca dongeng atau cerita rakyat, pasti akan diakhiri dengan happy ending dan kesimpulan. Nah, di bagian kesimpulan—dalam alur disebut epilog—pasti mengulangi pesan yang dibawa dari kisah tersebut.

Cerita rakyat “Malin Kundang” asal Minangkabau. Sebuah cerita rakyat yang menceritakan batu yang berbentuk seperti anak sujut di Pantai Air Manis, yang dalam bahasa Minang disebut Pantai Aie Manih. Secara alur dan pesan jelas bahwa ada tokoh yang bernama Malin Kundang dikutuk oleh ibunya karena durhaka dengan tidak mengingat lagi ibunya setelah sekian lama merantau. Malin Kundang dalam akhir pasti ada penekanan di bagian terkutuknya ia menjadi batu untuk menekankan pada anak tidak boleh durhaka pada orang tua.

Pada akhirnya pun juga sama, karya sastra merupakan arena memberikan pesan. Memang pesan yang simbolik dinilai indah secara artistik, tapi karena semua orang tidak bisa dengan mudah memahami pesan, karya sastra merupakan salah satu karya yang sudah jelas pesannya.

Sastra Anak Merupakan Bagian Masyarakat

Sastra anak tidak bisa lepas begitu saja dengan usia. Cerita rakyat daerah masing-masing, buku-buku petualangan, komik, dan dongeng tidak bisa lepas begitu saja dari diri kita. Semakin berkembangnya kita mengenal dalam pandangan hebat seperti feminisme, strukturalis, dekonstruksi, dsb, kita berkembang juga dengan sastra anak.

Sastra anak merupakan kacamata awal masuk ke fiksi. Imajinasi kita juga dapat semakin diolah dan terinspirasi untuk mengisahkan kisah-kisah baru.

Sastra anak tidak bisa disamaratakan hanya untuk anak-anak saja, melainkan pula untuk usia-usia lanjut. Bisa sebagai mengenal hal-hal baru, mengingat kembali, dan menjadi bahan refleksi kita hidup di zaman posmodern ini.

Dengan kata-kata dan kalimat yang mudah dipahami serta pesan yang mudah diresapi, merupakan hal penting juga bagi kita sebagai orang muda belajar—tidak hanya dari karya besar atau roman picisan—dengan kisah atau nilai-nilai yang pernah didapat, karena sastra itu sweet and useful.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here