Waktu Baca: 3 menit

 

Jujur, saya berharap Hanung tidak waras. Kalau dia waras waras saja, biasanya film yang dia bikin enggak bagus. Keedanan Hanung bisa dilihat pertama kali ketika dia menyutradari Ayat Ayat Cinta. Untuk filmnya itu ia memutuskan untuk bertengkar dengan penulis cerita film itu, Habiburrahman el-Shirazy karena ia merombak susunan cerita asli dari novel Ayat Ayat Cinta. Film yang awalnya dimaksudkan untuk memberikan ‘sisi edukasi’ mengenai pemikiran positif tentang poligami berubah menjadi drama kegalauan seorang pria yang saking lurusnya terpaksa menjalani kehidupan poligami yang menyakitkan. Novel dan bukunya jujur sudah beda visi.

Hanung lalu ‘berulah’ lagi dengan film ‘?’ dan Perempuan Berkalung Sorban. Film ini katanya sarat dengan kritik pada agama menurut beberapa orang. Hanung memberi pengakuan bahwa ia tak pernah bermaksud demikian. Saya kira dia juga belum kelewat nekad dengan memusuhi agama di Indonesia. Ya menurut saya dia orang jujur saja sehingga karya karyanya ya memang jujur, dari hati dia.

‘Tersanjung’ menurut saya adalah karya lain yang benar benar dari hati dia. Banyak orang kritis pada kualitas cerita sinetron yang ‘wagu’ dan kadang dipanjang panjangkan dengan tidak jelas. Sudah begitu, kadang akting pemainnya begitu over the top dan membuat kesal.  Tapi bagi Hanung, hal itu menyimpan kenangan tersendiri.

Keluarga bahagia tanpa Lulu Tobing serasa tidak lengkap

Saya juga senang dengan sinetron ketika saya masih kecil. Bahkan saya pernah trauma gara gara sinetron. Pasalnya, ayah saya mengatakan kalau anak anaknya nakal, maka orang tuanya akan berpisah seperti Cok Simbara dan Ayu Azhari dalam Noktah Merah Perkawinan. Ya itu satu pengalaman buruk dan cara parenting yang sebaiknya tidak ditiru. Lalu, saya juga sempat menikmati serunya sinetron Gerhana dimana Pierre Roland adu tatap dengan Adipura sampai sekitarnya meledak dan tentu saja saya juga penonton setia dari sinetron Tersanjung dengan cliffhanger yang lebaynya itu.

Hanung menggarap Tersanjung layaknya tipikal sinetron. Cerita di dalamnyapun didesain lebay bak sinetron termasuk rumah megah berlebihan dan juga akting over the top. Tapi, Hanung bukan berarti sengaja membuat filmnya jelek. Ia mau membuat penonton film Tersanjung merasa menonton sinetron di layar lebar dengan kualitas sinematografi yang jauh lebih baik dan klise klise yang disusun sempurna untuk menghadirkan nostalgia.

Usaha Hanung ini mirip dengan apa yang dilakukan Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez saat menghadirkan film ‘Grindhouse’. Mereka memang bukan menciptakan film horor aksi yang apik. Sebaliknya mereka menghadirkan nostalgia menonton film kelas B yang kali ini diperankan aktor dan aktris kelas A dengan budjet kelas A juga tentunya.

Usaha dari Hanung ini membuat pengalaman menonton Tersanjung menjadi unik dan mengharukan. Apalagi Hanung banyak membawa soundtrack khas ‘90an yang membawa kita kembali ke masa itu. Masa masa dimana sinetron berjaya dan alat alat elektronik seperti pager dan handphone bak handy-talkie menjadi ‘perangkat keren’.

Bicara kekurangan mengenai film ini ya jujur saja susah. Kenapa? Karena kekurangan itu sengaja dibikin untuk menghadirkan nostalgia lama. Tapi mungkin jikapun ada kritikan adalah karakterisasi tokoh yang kadang tidak konsisten serta memiliki alur pembuatan keputusan yang agak tidak masuk akal. Tapi, bisa jadi, ini juga cara Hanung untuk menghadirkan kesan nostalgia karena karakterisasi di sinetron kan emang lumayan ngawur. Yang mana yang betul? Ah sudahlah.

Preweed Millenial, Berasa hubungan mereka itu pusat dunia

Tapi ada karakter menarik di sini. Karakter itu adalah Oka yang diperankan oleh Kevin Ardilova. Karakter Oka ini mungkin adalah karakter yang diidam idamkan banyak wanita. Seorang pria yang mau menerima perempuan yang dicintainya apa adanya dan selalu hadir di saat  terberat. Memang benar kata pameo: Bersama saat bahagia itu mudah, mendampingi saat sedih itu susah. Hebatnya, di antara karakter karakter dengan penokohan agak ngawur di Tersanjung, karakter Oka ini yang paling halus transformasinya dari seorang ‘Joker’ di grupnya menjadi tokoh utama pria yang loveable. Oka selamanya akan menjadi karakter paling memorable di film Tersanjung.

Bicara soal sekuel bagaimana? Ah, saya kira sudahlah, biar yang berbahagia tetap berbahagia. Itu menurut saya, soal cliffhanger yang ada di akhir film, saya malah khawatir iru akan membawa Tersanjung benar benar menjadi tersandung seperti sinetronnya dulu yang ceritanya makin ngawur (bahkan ganti pemeran di tengah tengah sinetron). Karakter Indah dalam sinetronnya yang menarik simpati lama lama malah bikin kesal. Cukup nostalgia terjadi sekali saja.

Oh ya, sebelum kita menutup artikel review ini, saya mau menyampaikan kekecewaan saya yang terbesar di film Tersanjung ini. Pertama, kita memang diajak bernostalgia dengan bertemu tokoh tokoh seperti Tante Amerika (Febby Febiola) dan Rama (Ari Wibowo). Tapi, mana Lulu Tobing? Wah ini bikin gelo banget. Kecewa berat. Mungkin Lulu Tobing disiapkan untuk peran ibu tirinya Yura, sayang jadwalnya penuh. Makanya lubang itu diisi oleh Kinaryosih yang juga tampil apik. Tapi..ah..tentu lebih puas nostalgianya kalau bertemu Lulu Tobing.

Ya sudahlah, bagaimanapun juga setidaknya ada nostalgia yang bisa kita rasakan dan tak terlewatkan. Ce-i-laah!

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here