Satu per satu keluarga wali kota itu meninggal secara misterius di tempat yang sama dan kejayaan wali kota itu tak pernah pudar, seakan-akan membangun sebuah dinasti baru di negara dengan pemerintahan demokrasi ini.

 

Merantau di kota orang sejak duduk di bangku SMP membuat saya kenal dengan seorang sahabat dekat , panggil saja dia Hanna. Saya bertemu dengan Hanna saat kami sama-sama masuk ke salah satu kantor akuntan publik di Jogja. Sebagai sesama perantau dari pulau seberang, kami menjadi mudah akrab. Sambil membantu proses pengecekan faktur, Hanna bercerita sesuatu yang membuat saya dan rekan lain terkejut yakni cerita mistis yang pada awalnya saya pikir adalah hal yang tidak mungkin ada.

Hanna yang lahir dan besar di salah satu kota kecil di kaki gunung bercerita tentang mantan pemimpin daerahnya yang semasa kepemimpinannya selama dua periode, tidak menunjukkan prestasi di bidang pembangunan dengan baik, bahkan kota kecil ini kurang cocok untuk disebut kota hanya karena telah mandiri secara administrasi saja. Jika dipikir lagi, memang wilayah gunung sedikit mengalami kesulitan dalam memajukan ekonomi dan infrastrukturnya namun tidak adanya perkembangan ini disebabkan oleh kasus korupsi yang memang tidak bisa dilepaskan dari praktik kehidupan politik negara kita (menurut desas-desus yang beredar di masyarakat). Mantan wali kota ini memiliki aset yang sangat banyak di kota kecil itu seperti kebun kopi, sawah, rumah sakit, rumah tempat tinggal, tanah kosong yang banyak digunakan untuk membangun jalan raya, dan tanah yang memanjang di kaki gunung. Paman dari Hanna juga dulunya berjuang untuk membantu mantan wali kota ini untuk meraih ambisinya, yakni menjadi pemimpin yang disegani banyak orang sehingga, keluarga Hanna cukup mengenal keluarga mantan wali kota itu.

 

Bukan orang kaya jika belum memiliki kolam renang pribadi. Pada periode kedua di masa kepemimpinan beliau. Beliau membangun sebuah kolam renang yang diperuntukkan untuk keluarga beliau. Kolam berenang tersebut merupakan kolam berenang kedua yang ada di kota kecil tersebut karena siapa yang mau berenang di kaki gunung yang memiliki air yang dingin, bahkan Hanna sendiri tidak pernah mandi air dingin selama tinggal di kota kecil itu. Lama kelamaan, beliau melihat bahwa kolam renang yang dimilikinya memiliki potensi yang cukup menguntungkan apabila dibuka untuk umum karena memang fasilitas kolam renang di sana adalah hal yang baru, bahkan hingga saat ini.

 

Selang beberapa waktu setelah beliau meresmikan kolam berenang pribadinya untuk umum, seorang pemuda berusia belasan meninggal di kolam itu. Kabar ini sempat menjadi pembicaraan masyarakat di sekitar kolam renang. Pemuda itu tenggelam dan seakan-akan ditarik dari kedalaman kolam dan tak bisa diselamatkan. Bak menjadi tragedi rutin, cucu dari mantan wali kota tersebut yang masih balita tercebur ke dalam kolam setelah lepas pengawasan dari orang tuanya dan nyawanya tidak tertolong beberapa waktu setelah korban pemuda yang tewas. Rasa haus akan nyawa terulang ke tiga kalinya, lagi dan lagi sang cucu kesayangan dari mantan wali kota harus kembali meregang nyawanya setelah tenggelam karena belum pandai berenang. Hancur sudah perasaan keluarga mantan wali kota tersebut mengetahui bahwa penunggu dari kolam tersebut memakan korban keluarga yang dicintainya. Mungkin itu bisa jadi alasan mengapa kolam renang tersebut dibuka untuk umum? Ah, siapa yang tau. Mungkin hanya pikiranku saja.

 

Kabar angin mengenai sang penunggu yang haus akan tumbal mulai beredar di kota kecil tersebut. Seperti yang kita ketahui, namanya kota kecil, sepintar-pintarnya kita menyimpan rahasia pasti akan menyebar. Walaupun begitu, kolam renang itu masih tetap ramai pengunjung yang ingin berenang di situ. Jika saya tinggal di kota kecil itu, saya akan memilih untuk jalan-jalan kegunung atau menantikan saat keluar kota untuk menjadi hiburan dibandingkan bersiap-siap pulang tinggal nama. Sekarang, mantan wali kota tersebut telah selesai masa jabatannya dan digantikan oleh anak lelakinya. Kolam renang tersebut mulai terlupakan oleh masyarakat karena ketakutan masyarakat akan korban selanjutnya yang bisa menyerang siapa saja. Tidak tahu bagaimana kelanjutan korban kolam renang tersebut karena Hanna sendiri sudah lama tidak berkunjung ke kota itu dan keluarganya sudah lama putus kontak dengan mantan wali kota tersebut sejak pamannya Hanna meninggal dunia.

 

Saya memang tidak tahu apakah itu benar tumbal yang dibayarkan oleh keluarga bapak wali kota atau hanya kebetulan saja karena secara agama dan moral, penggunaan tumbal sangat ditentang. Namun, penggunaan tumbal juga bukan hal yang asing di telinga kita bahkan pekerja proyek-proyek besar. Beberapa teman Ayah saya yang memegang proyek besar seperti jembatan atau jalan juga bercerita mengenai tumbal yang biasa mereka gunakan agar proyek yang mereka buat awet. Biasanya penggunaan tumbal ini menggunakan kepala manusia atau bagian tubuh manusia lainnya. Satu, dua, atau lebih kepala manusia digunakan untuk satu proyeknya dan mereka juga mengakui bahwa penggunaan tumbal memang memperkuat struktur bangunan walaupun secara teknik juga hal tersebut tidak masuk akal. Hal ini juga didukung dari banyaknya berita nakal di internet yang menunjukkan penggunaan tumbal dan tumbal yang terlihat saat proyek tersebut telah selesai. Saya sendiri sering memiliki pikiran liar tentang pembunuhan karena banyaknya drama Korea dan drama China yang saya tonton dimana mudah saja mendapatkan mayat di Indonesia jika banyak orang-orang tanpa keluarga yang menggelandang di jalanan karena tidak akan ada yang mencarinya. Tumbal juga bukan hanya ada di Indonesia, di luar negeri juga banyak yang menggunakan mayat manusia dalam membangun proyek, mungkin alasannya bukan untuk memperkuat bangunan tapi lebih kepada melepaskan tanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi seperti video Youtube dari salah satu youtuber favorit saya yang sering membahas info kasus yang menyeramkan.

 

Di kota asal saya, banyak sekali jalan raya dan jembatan yang dibuat dari zaman penjajahan Belanda dan Jepang yang secara struktur banyak dinilai lebih bagus dari pada jembatan baru buatan pemerintah daerah. Kakek dari sepupu saya yang berusia hampir 100 tahun, yang menjadi saksi hidup penyiksaan tentara Jepang bercerita bahwa pembangunan jalan dan jembatan melibatkan pekerja paksa khususnya pada jaman penjajahan Jepang. Penjajahan Jepang yang pernah terjadi dinilai lebih kejam dari pada penjajahan Belanda menurut beliau apalagi beliau yang juga keturunan Tionghoa yang pasti mengalami diskriminasi. Kesulitan makan dan penyiksaan bertubi-tubi yang dialami para pekerja membuat banyak pekerja yang meninggal pada saat mengerjakan proyek dan dikubur hidup-hidup di proyek yang mereka bangun. Bukan lagi puluhan, bahkan sampai ribuan mayat bisa dikubur dalam sebuah proyek yang dinilai tidak masuk akal.

Saya sendiri tidak bisa membayangkan diatas jalan yang saya lewati bersama dengan keluarga atau teman-teman sambil tertawa haha hihi itu ternyata berstruktur seorang pejuang yang bisa membuat saya hidup dengan kebebasan seperti sekarang. Bagaimana dengan jalan di depan rumah kalian? Apakah aman?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here