Waktu Baca: 3 menit

Semenjak pandemi dimulai tahun lalu, kita makin mudah menemukan gelandangan di jalanan Jogja. Ini bisa menjadi indikator macam-macam. Selain dampak konkret meningkatnya kemiskinan di masa pandemi, ini juga jadi gambaran tentang rasa kehidupan di kota Jogja. Pada artikel ini saya jelaskan tentang 3 varian gelandangan di Jogja.

Kehidupan gelandangan itu menyimpan banyak simbol-simbol. Mungkin bagi masyarakat pada umumnya, gelandangan alias tuna wisma itu dipukul rata sebagai satu kelompok orang yang pasti miskin secara ekonomi. Meskipun banyak kisah-kisah gelandangan yang ternyata hidup sejahtera, tetapi kisah itu tetap saja tidak bisa menghapus persepsi kita bahwa gelandangan itu pasti miskin secara ekonomi.

Baca juga : Bukan Miskin, Merasa Miskinlah Sumber Kejahatan 

Jogja sudah menjadi surganya gelandangan. Mengapa ? Karena masyarakat di Jogja dikenal murah hati. Mudah bagi orang jalanan untuk mendapatkan makan dan sedekah setiap hari di Jogja. Bahkan dalam masa Ramadhan, satu gelandangan bisa mendapatkan sedekah hingga jutaan rupiah, jauh melebihi Upah Minimum Propinsi. Namun demikian gelandangan bukanlah satu entitas yang cirinya sama. Berikut depth analysis saya tentang 3 varian gelandangan di Jogja.

PEMULUNG

Ini adalah suatu pekerjaan khas yang dilakukan orang, dengan mengumpulkan barang bekas atau limbah berharga yang dibuang orang. Objek yang bisa mereka dapatkan di jalanan mulai dari kertas bekas, botol bekas, bahkan buku bacaan dan barang elektronik. Pemulung tidak selalu mendapat barang dengan mengais sampah. Ketika mereka memiliki modal cukup, mereka bisa membeli barang rongsokan yang dikumpulkan oleh pemulung lain. Ya, mereka pun memiliki jenjang karir, mulai dari pemulung yang turun langsung ke jalan, hingga menjadi pengepul. Kalo di jalanan, kehadiran mereka mudah dikenali dengan gerobak besar yang berisi tumpukan rosok yang menggunung. Kadang mereka juga menggunakan sepeda bekas yang dipasang keranjang di belakang. Mereka juga sering menerima pemberian sedekah dari masyarakat, baik uang tunai maupun makanan. Namun demikian orientasi mereka bukan mencari makan, tetapi lebih pada mencari barang bekas yang berharga.

TEKYAN

Ini istilah yang merujuk pada gelandangan yang melakukan perjalanan tanpa arah. Beberapa ciri penampilan mereka antara lain tas punggung, celana panjang kain, baju yang agak lusuh. Mereka melakukan perjalanan dengan perlahan menyusuri kota. Ketika melewati depan pertokoan atau warung makan, mereka tidak mengemis. Mereka juga tidak mencari barang bekas layaknya pemulung. Dalam hal ini ada sedikit gengsi untuk meminta. Hidup mereka bergantung sangat pada pemberian dari orang lain. Orang bisa menjadi Tekyan bukan karena semata-mata miskin secara ekonomi. Seringkali penyebabnya justru konflik dengan keluarga, yang membuat mereka lari dari rumah dan hidup di jalanan. Rute perjalanan mereka tidak hanya di satu kota tertentu, tetapi bisa juga bergerak dari satu kota ke kota lain.

PENGEMIS BERKEDOK PEMULUNG

Ini jenis yang sedang menjamur di kota Jogja, dan menarik untuk dibicarakan secara panjang. Ciri yang mudah dikenali antara lain membawa gerobak besar namun kosongan. Ada pula yang duduk berkumpul dengan anak dan istrinya.  Seharian mereka bisa duduk-duduk saja di pinggir jalan dan tidak menunjukkan aktivitas mencari barang bekas. Ini berbeda dengan pemulung yang asli, yang dalam setengah hari bisa aktif berkeliling mencari barang bekas. Ciri lain dari kelompok ini adalah ketika ada satu masyarakat datang untuk bersedekah memberi makan atau uang, mereka dengan cepat akan mendatangi dan terkadang menyerbu untuk meminta jatah. Karakter ini agak berbeda dengan pemulung yang cenderung pasif terhadap makanan pemberian. Bagi pemulung yang asli, bila mereka tidak diberi, mereka tidak akan meminta.

Menjual makanan donasi
Varian makanan yang diterima orang jalanan di Jogja umumnya adalah nasi bungkus, atau makanan cepat saji. Seringkali makanan yang diterima adalah yang baik dan baru; bukan makanan lama. Menu nya sama persis dengan menu makan siang yang biasa diterima oleh para pekerja kantoran. Terkadang ada pula gelandangan yang menjual makanan donasi itu ke warung-warung makan. Ini cukup membuka mata bahwa donasi makanan yang diberikan masyarakat pada gelandangan, tidak selalu berujung untuk dikonsumsi mereka sendiri. Bisa juga akhirnya makanan yang didapatkan itu ditukarkan dengan uang. Ini bukan soal salah benarnya perilaku. Hanya saja, hasil akhirnya tidak seperti yang diharapkan masyarakat yang bersedekah.

Nah, itulah 3 varian gelandangan di Jogja. Semoga ini menjadi pengetahuan yang baru bagi masyarakat.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here