Waktu Baca: 4 menit

“Halah, paling sama aja kek yang lain, pay-to-win. Rugi kamu main itu, mending cari yang bener-bener free-to-play aja!”

Siapa nih yang gak asing dengan istilah transaksi mikro? Istilah ini sering sebenarnya tidak hanya muncul di dunia game aja, tapi juga di istilah lain. Namun memang istilah microtransaction dan micropayment mereka semakin populer di industri gaming.

Sebenarnya apa sih transaksi mikro itu? Transaksi mikro adalah model transaksi ketika kita sebagai pembeli membeli barang digital dari penjual. Contoh konkretnya ada di sekitar kita, seperti membeli antivirus, perangkat lunak, aplikasi, dan game seperti Epic Game Store, Steam Store, dan bahkan cashin access yang eksklusif bagi yang membayar lebih.

Salah satu game dengan micro transaction yang ‘wow’

Sekarang hampir semua game menerapkan transaksi mikro, seperti downloadable content (DLC), in-game cash content, power up, dan bahkan kesempatan pull atau roll lebih banyak. Pada awalnya, transaksi mikro digunakan pada game online yang membutuhkan servis berkelanjutan, dan cara paling efektif mendapatkan uang adalah dengan transaksi mikro dan dengan membatasi berbagai macam akses bagi free-to-play (F2P) dan hanya bisa dibuka dengan membayar dengan uang asli.

Adanya hal tersebut menimbulkan banyak sekali perdebatan, khususnya bagi para pemain yang membenci praktik ini. Namun, apakah transaksi mikro benar-benar keserakahan perusahaan untuk meraup uang pengguna? Mari dibongkar satu-satu:

Game adalah Industri

Hal ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa game ada bukan hanya sekedar membawa kebahagiaan melainkan salah satu bentuk bisnis. Hal tersebut disebabkan karena membuat game tidak semudah membuat mainan fisik atau bahkan mainan daerah saja.

Modal pembuatan game tidaklah murah, apalagi jika game tersebut merupakan Triple-A (AAA) Game yang dibuat oleh tim pastilah mereka membutuhkan ahli programing, desain, penulis skrip, dan bahkan ada testernya sendiri di masa closed alpha.

Jika game diedarkan secara F2P, apalagi itu game online, mau tidak mau mereka membutuhkan uang berputar dan mendapatkan keuntungan dari pemain. Cara satu-satunya agar uang bisa berputar adalah model transaksi mikro yang menjual fitur-fitur tambahan.

Inilah Micro Transaction

Hal tersebut bahkan tidak hanya digunakan pada game F2P aja nih seperti Ragnarok Online dan Phantasy Star Online 2, serta gacha game seperti Fate Grand Order dan Genshin Impact saja, melainkan juga game buy-to-play (B2P) seperti Grand Theft Auto Online, Red Dead Online, Elder Scrolls Online, dan Fallout 76. Walaupun sudah membeli, mereka juga memanfaatkan transaksi mikro untuk keberlangsungan perusahaan serta pelayanan berkelanjutan pemain.

Perputaran Uang dan Keserakahan

Namun transaksi mikro pun dapat mengubah perusahaan juga. Hal tersebut tampak dari kasus GTA Online. Sejak 2013, GTA Online merupakan game online terfavorit hingga saat ini. Namun 8 tahun melayani pemain, ada inflasi besar-besaran yang menyebabkan pemain mau tidak mau mengeluarkan uang asli untuk top up.

Walaupun di GTA Online setiap pemain cukup membeli sekali saja untuk main, tapi hal tersebut justru masih ada batasan besar antara casual player dan whale yang dengan mudahnya mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya demi progresnya di game lancar.

Hal tersebut telah menjadi perdebatan antar pemain dan perusahaan yang merilis game, dan mempertanyakan perkembangan game dan pelayanannya pada pemain. Di satu sisi, pemain pun perlu mikir-mikir untuk top-up dan bahkan skeptis dengan perilaku perusahaan, tapi juga di satu sisi pemain merasa tidak masalah mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya demi progres di dunia digital.

Bahkan perusahaan Triple-A Game seperti EA Games dan Ubisoft dengan Assassin’s Creed Valhalanya pun menggunakan model transaksi mikro, dan kebanyakan bukan multiplayer game, melainkan single player juga. Hal tersebut tampak dari adanya batasan berupa kosmetik serta boost yang dikunci dengan paywall system yang memaksa orang mengeluarkan uang lagi setelah mereka membeli game-nya.

Apakah Pemain Dirugikan?

Jawaban mengenai pemain dirugikan tidak bisa disamaratakan karena setiap pemain memiliki latar belakangnya masing-masing. Walaupun tidak bisa disamaratakan, komunitas pecinta game membenci bentuk-bentuk transaksi mikro, terkhusus model transaksi mikro yang ada di B2P game.

Hal tersebut disebabkan tidak hanya orang harus keluar lagi, melainkan pula membatasi akses dan kreativitas pemain dalam memainkan game yang mereka mainkan. Terlebih jika game tersebut merupakan game kompetitif seperti First Person Shooter, MOBA, MMORPG, serta Gacha Game. Pemain mau tidak mau akan mengeluarkan uang lagi agar dapat kompetitif dengan pemain lain.

Di satu sisi juga orang lain pun dirugikan. Seperti Ririn Ike Wulandari, ibu yang harus membayar tagihan 11 juta rupiah karena anaknya top up  untuk in-game content tanpa sepengetahuan ibunya. Dari sisi pemain pun menyayangkan peristiwa ini terjadi, dan merasa terheran dengan keberanian anak kecil top-up dengan uang sebesar itu demi skin ataupun dapat kompetitif dengan orang lain.

Namun hal tersebut tidak bisa disebut kesalahan perusahaan karena perusahaan pun tetap membutuhkan uang berputar dan pemain masih membutuhkan service dan pelayanan dari perusahaan game. Pola pikir bahwa perusahaan serakah terkesan subjektif sekali dan memiliki kesan bahwa pemain segalanya benar. Lebih tepat jika menghadapi perusahaan game yang dianggap “greedy” merupakan fakta yang bagi setiap orang tidak bisa mengubahnya, dan berusaha menjadi player yang kreatif menghadapi fakta tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here