Waktu Baca: 5 menit

Arthur Irawan dihujat karena dipanggil ke timnas. Yang kejam bahkan mengatakan: Arthur Irawan anak siapa ? Padahal bisa jadi ia memiliki kelebihan lain. Bisa jadi, ia adalah satu dari sekian orang yang termasuk dalam kategori ‘yang tak terlihat’.

            Arthur Irawan dipanggil ke timnas Indonesia. Tiba tiba saja semua orang memandang sinis. Mereka yang kejam bahkan mengatakan: Arthur Irawan anak siapa? Sepertinya Arthur bukan pemain hebat, kemampuannya seperti tidur selama ini, meski dulu di waktu muda ia bermain di tim sekelas Espanyol. Tapi kalau mau jujur, Espanyol bukan tim yang ‘wah’ begitu. Model modelnya ya samalah kayak Newcastle yang kadang hebat kadang ‘ya gitu deh’. Mungkin pas di puncak puncaknya, Newcastle mentok bisa menghajar Leicester City secara mengejutkan. Tapi ya udah. He..he..he..

Tapi kalau mau jujur, memangnya Arthur separah itu? Jawabannya: ya saya tidak tahu.  Kenapa? Karena dalam ilmu sepak bola, kemampuan seseorang tidak bisa diukur dari goal dan assist saja, ada ‘peran’ khusus yang dimainkan seseorang. Bukan karena Arthur Irawan anak siapa ya by the way. He..he..he… Kadang ia tidak terlihat, tapi pengaruhnya besar. Dan fenomena ini tidak cuma terjadi di sepakbola saja tetapi berbagai bidang kehidupan lainnya. Inilah yang saya sebut sebagai fenomena ‘yang tidak terlihat’, orang yang kelihatannya tidak memiliki peran besar, eh tapi ternyata dialah kunci keberhasilan tim/ perusahaannya.

Pelatih Shin Tae Yong jelas bukan kaleng kaleng. Dia adalah pelatih Korea yang berhasil membungkus Mezut Ozil versi Arsenal yang sedang ganas ganasnya. Ketika dia memilih pemain, pastilah dia punya alasan kuat kenapa yang dipilih Arthur, bukan pemain lainnya. Jelas bukan karena Arthur anak siapa pastinya. Jadi inilah kehebatan Shin, dia bisa melihat ‘yang tidak terlihat’. Dalam leadership, kemampuan ini akan kamu butuhkan.

Jadi, ketika kamu membangun tim, ada sosok ‘yang tidak terlihat’. Dia adalah kunci keberhasilan tim. Tapi kadang, leader gagal melihat si ‘yang tidak terlihat’ ini. Dia tidak terlalu memperhatikan atau menghargai si orang ini. Ketika si orang ini keluar, tiba tiba tim menjadi lemah dan hancur. Saya ambil contoh, lagi lagi dalam dunia sepakbola.

Dulu di Real Madrid, ada satu pemain bernama Claude Makelele. Dia tidak jago dribble,shooting dan aksi aksi individual memukau. Tapi, Zinedine Zidane menjuluki dia sebagai mesin mobil mewah Real Madrid. Sayangnya, Florentino Perez, Presiden Real Madrid saat itu, tidak setuju dengan anggapan Zidane. Demi mengongkosi kepindahan David Beckham ke Real Madrid, ia menjual Makelele. Hasilnya nahas, Real Madrid sempat puasa gelar bertahun tahun. Perez lalu lengser dari posisinya karena puasa gelar.

Hal yang sama terjadi di AC Milan, Andrea Pirlo tidak pernah terlihat meyakinkan. Bukan jago dribble, shootingnya juga bukan nomor satu, fisiknya juga kecil. Namun Andrea Pirlo sering dianggap sebagai inti dari ancaman AC Milan. Ia bisa membuka ruang ruang sempit di lapangan lewat visi dan passnya yang mungkin di televisi terlihat biasa saja. Ternyata yang melihatnya bukan sebagai sosok sentral tidak hanya kita saja. Petinggi AC Milan waktu itu, Adriano Galliani juga memandang Pirlo seperti itu. Pirlo lalu pindah ke Juventus secara gratis dan menjadi salah satu sosok yang memulai era dominasi Juventus di Serie A. Sementara itu, Milan belum juara lagi sampai hari ini.

Di dunia bisnispun sebenarnya ‘Yang tak terlihat’ ini banyak dan ‘menyusup’ di berbagai bisnis. Mereka ini adalah orang yang mungkin pendiam, pasif, bukan jago ngomong dan ternyata benar benar mempengaruhi banyak hal di perusahaan/timnya. Karena dari tadi saya mengambil contoh sepak bola, mari kita geser sedikit ke bidang perusahaan teknologi. Dunia informasi teknologi mengenal nama Steve Wozniak. ‘The other Steve’ kata banyak orang. Ia bukan orang yang jago presentasi seperti kompatriotnya, Steve Jobs. Kebetulan dia juga minim kontroversi dan lebih banyak berfokus pada pengembangan perusahaan. Lagi lagi, seperti di kisah kisah yang saya sebut tadi, ketika Wozniak keluar, Apple jatuh dan perlu waktu lama untuk bangkit.

Di Indonesia, banyak perusahaan juga hancur karena membiarkan ‘yang tak terlihat’ ini pergi begitu saja. ‘Yang tak terlihat’ biasanya tidak pintar melakukan komunikasi publik dan lemah di politik kantor. Meski tidak selalu, orang ini juga pendiam dan terkesan tak terlalu bersosialisasi. Ketika ada perombakan di kantor, ia biasanya terlihat sebagai pilihan mudah untuk dikorbankan. Hasilnya seringkali buruk seperti contoh contoh yang telah saya sampaikan tadi.

Lalu, bagaimana anda menghindari kesalahan membuang si ‘yang tidak terlihat’ jika anda memiliki perusahaan atau usaha? Sebenarnya jawabannya sudah ada. Anda harus memaksimalkan penggunaan KPI atau Key Performance Indicator dengan maksimal saat melakukan evaluasi pegawai.  KPI ini benar benar harus anda desain agar tidak banyak hal yang berakhir hanya berdasarkan penilaian subyektif semata, harus ada ukuran obyektif yang anda buat. Biasanya orang yang tersembunyi ini memang seolah terlihat lemah di KPI pada umumnya. Kalau dia pemain bola, dia lemah di goal dan assist, kalau dia sales, dia lemah di nominal keseluruhan penjual. Bukan berarti mereka jelek, mereka ternyata bersinar di number lainnya. Makele ternyata mengcover area lebih luas daripada banyak pemain lainnya, Pirlo ternyata memiliki ketepatan through pass yang mengaggumkan sehingga lini depan tinggal mengolah bola saja di sepertiga akhir lapangan dan Wozniak melakukan banyak inovasi inovasi pada sistem dalam diamnya. Beberapa sales ternyata memiliki nilai penjualan rendah tapi dia memiliki engagement yang kuat sehingga nama perusahaan dikenal luas karena si sales ini rajin pergi berkeliling dan memperkenalkan produk produk perusahaannya. Ketika si sales ini di cut, perusahaan menjadi berjarak dengan pelanggannya dan mengalami stagnasi penjualan.

Jebakan lain yang menyebabkan kita kehilangan si ‘yang tidak terlihat’ ini adalah permainan psikologis. Ketika anda memimpin suatu perusahaan, anda akan banyak bertemu dengan orang bermulut besar. Mereka terlihat jago menganalisa dan berbicara. Mereka juga orang orang yang populer di kantor. Mereka adalah favorit untuk mendapat promosi. Padahal, secara keseluruhan mereka tidak memberi banyak hal untuk perusahaan. Mereka hanya kuat di internal secara pengaruh. Di eksternal? Mereka bukan siapa siapa dan seringkali malah jadi beban tim. Si mulut besar ini biasanya malah berada di posisi posisi ‘enak’ di perusahaan. Mereka inilah racun bagi si perusahaaan.

Pirlo, diremehkan tapi jadi bintang

Si ‘yang tidak terlihat’ ini biasanya timbul sendiri, muncul dari tempat tempat tak terduga. Dia bukan anak siapa begitu seperti halnya Arthur Irawan anak siapa yang merupakan pendapat bodong. Demikian, bukan berarti mereka tidak bisa diciptakan. Di sinilah kemampuan anda menilai dan memilih anak buah menjadi penting. Anda harus bisa melihat potensi tersembunyi dari seseorang. Potensi ini biasanya perlu diarahkan dan diletakkan pada tempatnya. Pirlo adalah seorang penyerang lubang yang biasa saja sampai ia diletakkan di belakang gelandang tengah dan menghancurkan dunia lewat passing dan visinya. Almarhum Iqbal Rais yang menjadi sutradara jempolan juga memulai dari tukang foto kopi Hanung Bramantyo. ‘Yang tak terlihat’ ini bisa dibilang kadang tidak tahu ia memiliki potensi. Ia harus ‘disadarkan’ akan potensinya. Inilah tugas seorang leader.

            Bagaimana jika andalah si ‘yang tidak terlihat’ itu? Bukan masalah anda anak siapa atau Arthur Irawan anak siapa. Pertama tama, anda harus menghargai diri anda dulu. Anda memiliki peran meski tidak bisa langsung dilihat secara kasat mata. Setelah itu, anda harus pandai menunjukkan dan menjual diri anda. Anda tidak bisa berharap orang akan langsung menghargai anda jika anda sendiri tidak bisa dan tidak berani untuk menunjukkannya.

Kira kira itulah kisah dari ‘yang tidak terlihat’, komponen dunia yang seringkali diremehkan, padahal memiliki arti besar.

 

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here