Waktu Baca: 4 menit

Setahu kita, pemburu ikan paus ada di Jepang. Padahal, dalam jarak yang lebih dekat, ada suku pemburu ikan paus di Indonesia. Masyarakat Lamalera, itulah nama suku yang berburu ikan paus.

Masyarakat Lamalera tinggal di desa Lamalera di Kabupaten Lembata. Mereka membagi diri mereka dalam lima kelompok suku yaitu Batona, Blikolollo, Lamanundek, Tanakrofa dan Lefotuka. Secara geografis Lamalera diapit oleh dua tanjung, yakni tanjung Vovolatu dan tanjung Nubivutun. Lebih tepatnya, desa ini berada di Selatan Pulau Lembata. Tempat ini dikenal sebagai salah satu daerah lokasi wisata unggulan.

Untuk diketahui, tradisi berburu ikan paus sudah berlangsung sejak abad ke 17. Paus yang di Lamalera dikenal sebagai Baleo menjadi santapan favorit. Namun, banyak keunikan dan perbedaan cara berburu suku Lamalera dibandingkan dengan orang Jepang.

Kriteria Ikan Paus Yang Diburu
courtesey : instagram noitpippo

            Orang Lamalera tidak memburu semua ikan paus.  Nelayan di Lamalera hanya mengincar paus sperma atau koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka. ”Kami tidak memburu kelaru karena itu perintah nenek moyang,”

Selain koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh. Dalam istilah Lamalera, nelayan menamakan paus pembunuh dengan sebutan seguni. ”Tapi, seguni jarang lewat ke sini. Biasanya satu kali setahun atau tidak sama sekali. Seguni juga ganas karena berontak lebih dahsyat. Tantangan seorang lamafa saat menaklukkan paus terjadi ketika akan menghunjamkan tombak. Untuk koteklema, tombak dihunjamkan tepat di belakang kepala karena di situlah bagian yang lunak. Sebaliknya, memburu seguni lebih sulit karena para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

Cara Memburu Ikan Paus

Menjadi nelayan, mencari dan menangkap ikan di laut adalah mata pencaharian utama dari masyarakat Lamalera. Tradisi ini diwariskan oleh leluhur sejak dahulu kala, ciri khas sebagai nelayan masyarakat Lamalera sangat berbeda dari nelayan. Mereka mengkhususkan diri menangkap ikan yang besar terutama paus.

Ciri khas tersebut kemudian menjadi tradisi turun temurun hingga saat ini. Masyarakat Lamalera tidak hanya menangkap paus begitu saja namun mereka terikat oleh aturan adat tertentu.

Tidak seperti nelayan-nelayan modern Jepang yang memburu kawanan ikan paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, serta sosok lamafa yang memiliki tugas menikam ikan paus menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

Untuk mendapatkan paus, nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah samudera Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sambil sewaktu-waktu melihat ke lautan. Saat Baleo terlihat, warga akan meneriakkan ajakan untuk berburu paus.

Dalam berburu ikan paus, mereka berusaha mengincar ketiak si ikan. Tikaman pertama merupakan peristiwa yang amat krusial. Nyawa lamafa dan awak perahu menjadi taruhan. Sebab, satu sabetan ekor paus bisa seketika menghancurkan perahu nelayan. Para nelayan harus menunggu sampai paus itu lemas. Biasanya paus akan lemas setelah 45–50 menit. Darah akan menggenangi laut dan paus akan kembali ke permukaan.

berburu ikan paus
courtesey juenna.ling
Membagi Daging Ikan Paus

            Selain perburuannya yang menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan juga merupakan pemandangan yang menarik. Masyarakat Lamalera membagi daging paus sesuai dengan hukum adat sehingga tidak ada perebutan. Intinya, pihak yang memiliki keterkaitan dengan Desa Lamalera, dengan perahu yang mendapatkan paus, akan mendapatkan haknya.

Untuk mereka yang berburu di laut, sudah ada aturan pembagiannya. Selain peledang, ada juga perahu perahu dengan motor yang mengikuti perburuan. Jika di peledang ada sembilan awak perahu dan di perahu motor ada dua awak, mereka semua mendapatkan haknya.

Para awak perahu mendapatkan bagian paus yang diistilahkan dengan ‘meng’. Para awak perahu lalu saling membagi ‘meng’ ini. Bagian sirip kanan dan kiri, masing-masing untuk rumah adat dan lamafa.  Lango fujo atau suku tuan tanah akan mendapatkan kepala.  Sementara itu Lamafa, Laba Ketilo, Matros dan Lamauri akan saling berbagi ekor. Para janda juga mendapatkan hak daging paus.

Kritik Pada Perburuan Ikan Paus

            Masyarakat Lamalera menyadari bahwa banyak kritik terhadap perburuan ikan paus. Namun, mereka mengatakan bahwa mereka tetap menjaga lingkungan dan tidak melakukan perburuan secara serampangan.

Dalam perburuan paus ini, ada seluruh rangkaian budaya dan dimensi sosialitas rakyat Lembata. Menghilangkan budaya ini, sama dengan membunuh seluruh rakyat Lembata.

Ritual perburuan paus ini memiliki nilai religius di setiap aspeknya. Mulai dari persiapan, pembuatan kapal, pengangkatan layar, sampai pelemparan tombak, semuanya mengucap doa terlebih dahulu. Menjelang perburuan, diadakan upacara adat sekaligus misa untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para Arwah nenek moyang mereka yang gugur di medan bahari bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa atau biasa disebut lefa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei.

Lamalera selalu memiliki sejarah kuat dengan laut dan ikan paus. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamalera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan tanah air mereka. Sebab, setiap tahun, ikan-ikan paus itu melakukan migrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik selama bulan Mei sampai Oktober. Saat itulah masyarakat Lamalera menyiapkan perang.

Sumber gambar sampul : Lembatamanisle

 

 

 

2 KOMENTAR

  1. Tradisi budaya dr leluhur perlu di jaga & dilestarikan. Krn ada nilai2 dr proses sejarah peradaban manusia yg mjd pondasi dasar kehidupan. Dmn kelestarian alam nya yg merupakan anugrah Tuhan yg hrs ttp dijaga, dm kelangsungan hdp anak cucu d ms yg kan dtg.
    Siapa lg yg menjg & melestarikannya kalo tidak dtg dr kaum generasi muda daerah itu sendiri.
    Semangat 👍

    • bener ka maria anggel NW, Klo bukan kita siapa lagi, semoga generasi kita yang akan datang selalu memiliki rasa cinta akan budaya sehingga kelestarian budaya kita tetap terjaga.
      terimah kasih untuk respon positif – nya ka maria anggela NW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here