Berkembangnya Kesadaran Sehat Mental Kita

Waktu Baca: 3 menitBerkembangnya kesadaran sehat mental kita.

Apa yang kamu bayangkan ketika tahu ada teman yang berkonsultasi ke psikolog atau ke psikiater ? Kamu merasa biasa-biasa saja ? Nah itulah tanda-tanda jaman tentang berkembangnya kesadaran sehat mental kita. Pandangan kita tentang psikolog dan psikater sudah lebih baik ketimbang era 20 tahun lalu, sudah jauh berbeda ketimbang era 70 tahun lalu.

Persoalan kesehatan mental adalah sesuatu yang konkret, meskipun tidak kelihatan kasat mata. Kalo kamu merasa ada persoalan kesehatan mental dalam dirimu, itu tidak berarti bahwa mentalmu lemah. Kondisi kesehatan mental tidak otomatis berhubungan dengan kuat atau lemahnya mental. Misal kamu mengalami depresi, itu tidak selalu karena disebabkan satu dua peristiwa besar. Kalo sudah berkaitan dengan persoalan hormonal, tanpa satu peristiwa pemicu pun suasana hatimu bisa tiba-tiba berubah hingga menjadi kondisi depresi.

Stigma orang yang periksa ke psikolog atau psikiater

Gila, adalah cap yang lumrah diberikan pada orang ketika diperiksa oleh psikolog atau psikiater. Orang lantas mengidentikkan psikiater alias dokter jiwa dengan suatu rumah sakit jiwa, di mana pasien diisolasi dalam ruang berjeruji besi, atau tempat tidur yang diberi borgol. Pasien berteriak-teriak, lantas disuntik obat oleh dokter, dan tak lama kemudian menjadi tenang. Rumah sakit jiwa juga dibayangkan sebagai tempat yang menyeramkan, seperti di film-film bertema Asylum. Tetapi itu pandangan jaman dulu, puluhan tahun lalu.

Kini orang berkunjung ke psikiater dan psikolog adalah sesuatu yang biasa saja, tidak berbeda dengan kunjungan ke dokter penyakit dalam atau dokter gigi. Orang yang berkunjung ke psikolog atau psikiater tidak selalu dalam keadaan sakit kronis. Keadaan diri yang badmood berkepanjangan pun cukup jadi alasan untuk berkunjung ke psikolog atau psikiater.

Baca Juga : Mengapa Ada Orang Muda yang Bunuh Diri

Dulu orang membayangkan bahwa berkunjung ke psikolog atau psikiater pasti akan mendapat obat. Padahal belum tentu; tergantung dari permasalahannya. Kalo kamu berkunjung ke psikolog, jelas tidak akan mendapat resep obat. Peran psikolog adalah sebagai konselor yang membantumu memahami persoalan dirimu. Sejauh diperlukan, psikolog dapat memberikan terapi psikologi, dengan planning aktivitas-aktivitas tertentu yang akan membantu keadaan dirimu menjadi lebih baik.

Baca juga : Overthinking dan Cara Mengatasinya

Ketika kamu berkunjung ke psikiater, bisa jadi pulang-pulang akan membawa obat. Tetapi itu pun sangat tergantung persoalan yang dihadapi. Obat dari psikiater tidak identik dengan obat penenang. Sekali tergantung persoalannya. Kalo persoalannya adalah bad mood, malas-malasan, maka yang resep yang diberikan adalah obat yang membantumu untuk meningkatkan mood dan kinerja sistem otak. Kalo orang yang malas-malasan diberi obat penenang, alhasil akan makin malas dan banyak tidur.

Persoalan psikologis sebagai hal konkret

Persoalan psikologis itu sebetulnya sama dengan penyakit-penyakit dalam yang biasa kita kenal, misalnya penyakit jantung. Kalo kamu mengalami penyakit dalam, kamu tidak bisa secara jelas melihat keadaan organ dalam tubuhmu sendiri. Ini beda dengan penyakit kulit yang terlihat kasat mata. Meskipun penyakit dalam tidak kelihatan, tetapi dokter penyakit dalam bisa mengidentifikasi masalahmu lewat gejala-gejalanya. Sejauh diperlukan, bisa juga melakukan scanning dengan rontgen, USG, atau CT Scan untuk melihat keadaan organ dalam tubuhmu.

Nah, psikolog dan psikiater juga dalam hal ini cara kerjanya mirip. Persoalan psikologismu tidak akan kelihatan kasat mata, tetapi kamu jelas merasakan efeknya. Meskipun tidak kelihatan, tetapi persoalanmu itu konkret. Psikolog dan psikater juga bisa melihat  atau ‘scanning’ keadaan psikologismu lewat alat tes tertentu.  Ketika sudah diketahui, maka psikolog dan psikiater bisa membantu menangani persoalanmu.

Cara bekerja Psikolog dan Psikiater

Dalam hal penyelesaian masalah, pekerjaan dua ahli kesehatan jiwa itu beda dengan dokter bedah. Kalo kamu perlu operasi jantung, kamu sebagai pasien akan lebih banyak pasif bertindak. Yang lebih banyak bertindak ya dokter bedah. Bahkan kamu tidur panjang karena dibius pun dokter bedah akan tetap bekerja membereskan masalah penyakit dalam mu. Tetapi psikolog dan psikiater tidak bisa begitu. Pemulihan kondisi kesehatan mentalmu sangat tergantung pada inisiatifmu dan niatmu untuk sembuh. Psikolog bisa memberikan terapi atau rekomendasi aktivitas, psikiater bisa memberimu obat. Tetapi kalo dari dalam dirimu tidak mau melaksanakan rekomendasi aktivitas dan tidak disiplin konsumsi obat, ya persoalan psikologismu tidak akan bisa cepat beres. Peran psikolog dan psikiater hanya sebatas ketika berada dalam ruang praktek. Begitu kamu keluar ruang praktek, maka keputusan eksekusi konsumsi  obat dan pelaksanaan rekomendasi kegiatan sepenuhnya ada di tanganmu.

Tetapi kini kesadaran tentang kesehatan mental di antara kita sudah kian berkembang. Banyak orang yang bersedia menjalankan rekomendasi dari psikolog. Banyak orang juga yang patuh dan disiplin konsumsi obat yang diberikan oleh psikiater. Ini bisa terjadi karena orang yang bermasalah secara psikologis umumnya ingin supaya keadaan dirinya menjadi lekas membaik.

So, dengan berkembangnya kesadaran sehat mental kita, kalo kamu menyadari sedang mengalami persoalan psikologis, tidak perlu ragu untuk segera ketemu psikolog terdekat dari tempat tinggalmu.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular