Waktu Baca: 4 menit

Masih nyambung dengan tulisan Mas Benny, saya mau bahas asumsi Boomers menyebalkan. Saya sebenarnya setuju tidak setuju dengan anggapan bahwa Boomers menyebalkan. Bagai dua sisi koin, sikap seseorang itu ada dari faktor internal dan eksternal.

Nah, di sini saya mau membahas mengapa Boomers menyebalkan—atau terlihat menyebalkan at least—. Untuk membahasnya kita harus mengupasnya satu satu.

Nyebelinnya Boomers

 

           Terkini ada insiden ibu marah marah dengan quotes ‘Blok Goblok’nya yang menjadi perbincangan banyak orang. Tapi ini hanya ujung dari gunung es. Perilaku Boomers menyebalkan sebenarnya sudah banyak. Nah, kalau saya bahas semua, artikel ini malah jadi artikel untuk ngatain ‘Boomers’. Karena itu, saya bahas sebagian saja perilaku Boomers menyebalkan.

Pertama, mereka tidak percaya adanya perubahan iklim. Iya, di saat teman teman kita yang kos tanpa AC rutin jadi Tarzan, Boomers menyebalkan masih gak percaya perubahan iklim adalah nyata. Ketika mereka melihat kebakaran hutan, Boomers masih bodo amat. Mereka menganggap semua masih sama.

Kedua, Boomers menyebalkan hobi borong rumah. Di saat teman teman kita masih banyak yang kesulitan punya rumah, Boomers malah borong rumah dan ujung ujungnya cuma buat tempat tinggal jin dan kuntilanak. Gara gara mereka harga tanah melambung tinggi. Mereka suka beralasan kalau itu untuk investasi. Tapi ternyata, sampai mereka mati, ya rumah mereka akhirnya menjadi rumah jin. Mbok ya dibagi ke millenials gitu.

Ketiga, mereka suka ngatain millenials itu pemalas dan baper. Maunya mereka millenials itu ya bekerja di satu perusahaan dalam waktu lama sampai jadi manajer, jadi direktur, pensiun di situ. Mereka tidak suka melihat millenials pindah pindah pekerjaan. Hadeuh.

Keempat, mereka suka maksa millenials buru buru nikah. Kayak pernikahan mereka itu langgeng saja. He..he..Lho om, kok kemarin sama mbak mbak? Karyawan ya? Tapi kok pakai sayang sayang…

            Kelima…ah sudahlah..malah jadi gibah kita.

Boomers itu generasi beruntung!

            Boomers lahir dari tahun ‘50an hingga ‘64an. Mereka lahir ketika dunia sudah capek perang. Dunia mau berbalik arah, memperbaiki hidup. Tiba tiba universitas dibangun, industri industri dibangun.

Boomers beruntung. Jumlah orang belum banyak, mereka masuk universitas dengan mudah. Cari kerjapun mudah karena saingannya belum banyak.

Menurut Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers, para milyader dan tycoon yang ada sekarang ya lahirnya dari generasi ini. Generasi ini adalah generasi beruntung karena dunia sedang  tumbuh pesat dan membutuhkan mereka. Makanya nasib mereka bisa oke oke punya.

Beda dengan millenials. Kita ini lahir dari tahun 1981 hingga 96. Temen kita yang tuaan itu pas mulai kerja langsung dihantam dengan krisis Asia ’98. Baru tua dikit, dia dihantam krisis ekonomi 2008. Sekarang mau ketawa dikit, mereka kembali dihantam Krisis Korona 2021.

Belum lagi jumlah orang meningkat pesat sementara industri sudah mulai jenuh. Percaya deh, efek ketika Microsoft lagi naek naeknya dan ketika Facebook lagi naek naeknya itu beda jauh. Dulu Microsoft muncul, wah rasanya ini kayak keajaiban dunia. Lha ketika Facebook muncul, kita ini cuma migrasi aja dari Friendster sebenarnya.

Boomers menikmati masa saat penemuan inovatif apa saja akan mudah menemukan pasarnya. Kita? Udah punya ide bagus bagus buat startup  paling berakhir dipuji doang sebagai ‘Most Innovatife Start Up to Help the Future’ paling. Duitnya mah gak ada. Lha Boomers bisa menjual kain secara grosir saja sudah bisa buat hidup sampai lama.

Boomers beruntung, kita agak beruntung hei Millenials. Kenapa agak beruntung? Sebab tunggu saja nasib Generasi Z. Nanti anda bisa jadi jago bersyukur karena melihat Generasi Z lebih pusing dari kita.

Jadi, kebanyakan Boomers gak sadar mereka beruntung. Mereka kira kita juga beruntung, padahal enggak pak! Kenapa mereka nyebelin? Ya karena Boomers itu kayak anak SMP yang menang game ngecheat, tapi sombong. Pengen nampol tapi eh nanti malah dikira gak sopan. Pengen misuh, dibilang durhaka.

Kisah Menyedihkan Boomers

            Sudah cukup gibahnya, sekarang kita bicara soal nasib tragis Boomers. Iya, saya menyebut mereka beruntung tadi. Tapi tidak ada yang namanya hidup soal beruntung saja.

            Boomers itu sering, banyak malahan, yang lalai dengan kondisi yang dihadapi millenials dan nanti Gen Z. Mereka orang orang beruntung, makanya cenderung susah mengenali kondisi orang lain. Termasuk di dalamnya, mereka tidak peka dengan kondisi orang tua mereka, para Lost Generation.

            Boomers dibesarkan oleh orang tua yang tidak stabil jiwanya. Orang tua mereka adalah korban perang dan korban politik rasisme. Hidup Lost Generation tidak pernah stabil. Boro boro sukses, bisa hidup saja sudah bagus.

Orang tua Boomers menekan anak anaknya untuk bisa hidup sukses, banyak duit dan egois. Iya, ironis memang, perilaku Boomers hari ini karena tekanan dari orang yang sudah mati. Tapi kita gak bisa menyalahkan Lost Generation juga, sebab untuk survive, kadang egoisme dan pendekatan individualistik jauh lebih berguna. Lost Generation hanya belajar dari pengalaman mereka.

Sayangnya, ketika dunia sudah damai, perilaku individualistik ini adalah sebuah aksi bunuh diri. Justru kolaborasi jauh lebih penting. Namun, namanya saja trauma, mereka membawa nilai traumatik ini ke generasi anak mereka, para Boomers.

Nasib Boomers Yang Gak Bagus Bagus Amat

            Boomers sebenarnya memiliki hidup penuh tekanan, orang tua mereka telah menanamkan luka di benak mereka. Maka, mereka memang menjadi orang (relatif) kaya karena keberuntungan mereka, tapi mereka juga menjadi generasi irasional dalam banyak kasus. Mereka terbiasa ditekan dan nurut oleh orang tua mereka yang masih belum sadar kalau peperangan sudah berakhir. Tanpa sadar mereka mengimitasi kebiasaan orang tua mereka ke generasi Millenials.

Kuncinya pada kita, jika generasi Boomers mewariskan luka mereka pada kita, nasib dunia di ujung tanduk. Jika kita gagal berdamai, maka nasib Gen Z dan Alpha menjadi taruhannya.

Selamat tinggal Boomers!

Boomers Menyebalkan

            Bukannya mau mendahului nasib, tapi Boomers hari ini sudah berumur akhir 50an hingga awal 70an. Jika ekspetasi kehidupan mereka sesuai dengan penelitian, kita akan segera mengucapkan selamat tinggal pada para Boomers. Bagi Boomers, ini adalah saat saat terberat mereka. Mereka seharusnya menikmati masa pensiun, namun di putaran akhir hidup mereka, mereka malah menemui krisis.

Makanya, saya, secara personal mau mengatakan bahwa jangan kita berharap Boomers berubah karena toh sulit untuk mereka berubah ketika luka batin itu sudah menahun dan kehidupan juga sudah tak lama lagi.

Kini adalah waktunya Millenials yang mengemban tanggung jawab. Bisa gak kita berubah dan gak bawa bawa luka orang mati? Mampu tidak kita berhenti menggibah soal Boomers menyebalkan dan mencari solusi dalam menghadapi Boomers? Hanya waktu jawabannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here