Waktu Baca: 4 menit

Ki Hajar Dewantara lahir dalam keluarga yang enak. Ia adalah bangsawan dengan nama Soewardi Soerjaningrat. Sebagai bangsawan, dia mendapat kebebasan untuk bersekolah. Padahal, orang pribumi lain belum tentu boleh mengenyam pendidikan seperti dirinya. Secara umum, ia termasuk anak yang cerdas. Kalau tidak cerdas, mana mungkin ia boleh bersekolah di STOVIA, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun sayangnya ia tidak tamat karena sakit. Ia lalu memfokuskan diri untuk menjadi wartawan dan banyak menulis tentang masalah masalah pemerintah kolonial di Indonesia.

Puncak perjuangannya bukanlah saat ia angkat senjata. Saat ia pulang dari pengasingan oleh Belanda, ia memutuskan untuk melawan penjajah Belanda lewat pendidikan. Dengan fasilitas yang ia miliki sebagai bangsawan, ia membangun sekolah bernama Taman Siswa. Cita citanya saat itu hanya satu, ia ingin mewujudkan pendidikan yang tidak eksklusif dimana semua orang bisa mengakses. Rupanya ia menyadari bahwa posisi dirinya sebagai orang elite dan diistimewakan adalah sebuah ketidakadilan itu sendiri. Ia, sebagai bagian dari elit, ingin merubahnya.

Berpuluh tahun setelah Taman Siswa terbentuk, mimpi Ki Hajar Dewantara ini ternyata tidak terwujud. Pendidikan yang baik masih eksklusif. Hanya beberapa orang saja yang bisa menikmati pendidikan terbaik. Sisanya hanya menikmati pendidikan yang ‘ya gitu deh’.

Masih panjang perjalanan…

Kenapa bisa? Mari izinkan saya bercerita. Masih teringat di benak saya ada seorang pejabat pemerintahan. Dia sangat getol memaksakan ujian nasional. Padahal ujian nasional dipandang sebagai cacat sistem pendidikan kita. Bagaimana tidak? Ujian nasional tidaklah mendidik. Anak anak diberi tekanan berat dan dituntut jago menghapal soal. Padahal tujuan pendidikan itu untuk melahirkan pribadi pribadi kritis dengan daya analisa yang baik. Namun si pejabat yang sangat terkenal ini tetap memaksakan ujian nasional dengan dalih untuk kepentingan industri nasional. Munafiknya, anak dan cucu si pejabat tak ada yang bersekolah dengan kurikulum nasional, mereka semua sekolah di sekolah internasional dengan kurikulum tanpa ujian nasional dan desain pendidikan untuk melahirkan sosok intelek, bukan sekedar manusia robotik yang bisa disuruh suruh.

Tidak hanya eksklusif, pendidikan kita juga masih eksploitatif terutama soal uang. Ramai ramai sekolah menjanjikan nama besar, kualitas pengajar berbasis internasional, moving class dan bahasa pengantar dengan bahasa Inggris. Semua kualitas itu tidak gratis, semua harus dibayar dengan uang. Alhasil anak anak yang beruntung dilahirkan di keluarga yang berada bisa menikmati pendidikan itu. Sementara anak anak yang kebagian sial, mereka cuma bisa sekolah seadanya dimana seringkali guru gurunya tidak kompeten dan disiplin.

Soal masalah guru yang tidak kompeten dan disiplin, kita tidak bisa menyalahkan sosok sosok yang menjadi guru. Saya pernah mendengar cerita sebuah SMP dimana gurunya akan absen selama beberapa bulan karena sibuk memanen hasil tani. Ketika ditanya kenapa guru guru ini memilih absen, mereka mengaku menjadi guru gajinya kecil dan tidak menjanjikan. Bertani adalah salah satu usaha sampingan mereka untuk bertahan hidup.

Guru di Indonesia memang masih dianggap seperti pekerja kebanyakan. Ya, mungkin karena guru bukan sales yang menghasilkan uang ratusan juta bahkan milyaran untuk atasannya. Namun yang sering dilupakan, guru adalah esensi sekolah itu sendiri. Bukan gedungnya…bukan fasilitasnya..bukan bonus laptop gratisnya…guru adalah esensi sekolah/universitas itu sendiri yang sayangnya sering dianggap lewat begitu saja.

Kembali ke murid murid yang ‘sial’ masuk sekolah kurang bermutu, bagaimana masa depan mereka? Sudah lahir dengan minim modal, minim gizi dan kini pendidikannyapun tak baik. Mereka akan kesulitan menjadi ‘orang besar’. Belum lagi kini ditambah wabah Korona. Banyak di antara mereka tak bisa mengakses pendidikan dengan sistem online. Makin kacaulah masa depan mereka. Alhasil, sering mereka akhirnya malah mencari jalan mudah tapi menghancurkan: Nikah. Iya, nikah, karena mungkin orang tuanya sudah senep liat anaknya di rumah saja, mereka juga gak tahu anaknya disuruh ngapain. Ya sudah, disuruh kawin saja. Kelak keluarga yang lahir juga akan melahirkan anak anak yang lahir dengan modal minim, pendidikan buruk dan hanya melanjutkan derita orang tuanya. Miris!

Ujung ujungnya pendidikan itu masih eksklusif. Anak anak orang kaya mendapat pendidikan yang bagus dan berpotensi membuka masa depan gemilang di depan mereka. Sementara itu, anak anak yang sial ‘dibodohkan’ lewat pendidikan tak bermutu.

Pendidikan Indonesia hari ini…

Padahal, ekslusivitas pendidikan itu bisa menghancurkan suatu bangsa. Kita kehilangan kesempatan memiliki pemimpin visioner dan bahkan bisa menolong orang dengan penemuan penemuan luar biasa hanya karena potensi potensi itu terjebak dalam sebuah eksklusivitas yang didesain manusia untuk menjajah sesama manusia. Seperti quotes dalam film Rattatoulie, tidak semua orang dilahirkan menjadi orang hebat, tapi orang hebat bisa datang dari mana saja. Tidak semua anak orang kaya ini bisa menjadi hebat. Mau orang tuanya kasih dia pendidikan kayak apapun, kalau mereka memang pemalas dan tidak punya bakat, mereka tidak akan menjadi siapa siapa. Sebaliknya, mungkin dengan memberikan kesempatan bagi orang tidak berpunya untuk maju, kita bisa melihat lahirnya great potential.

Saya ingin mengambil cerita cerita sederhana saja. Misalnya saja Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi yang baru dilantik. Secara normal, Bahlil akan berakhir menjadi buruh kerah biru dengan gaji di bawah UMR. Dia lahir dari keluarga sangat miskin. Ayah dan ibunya tidak terdidik. Ia bahkan sempat terkena penyakit busung lapar. Namun, saat ia pindah ke Jayapura, ia mendapatkan kesempatan untuk berkuliah. Meski ia berkuliah dalam waktu yang lama, hal ini membuatnya mendapatkan kesempatan untuk merubah nasib. Kini ia menjadi menteri. Suatu prestasi yang di luar prediksi untuk sosok seperti dia.

Contoh lain muncul dari sosok Nas Daily, seorang vlogger yang tinggal di Singapura dan sudah berhasil ke berbagai tempat di dunia sembari mencetak dollar untuk dirinya sendiri dan perusahaannya. Dia adalah seorang keturunan Palestina yang hidup di Israel. Baru lahir saja dia sudah menjadi korban diskriminasi dimana konstitusi negara itu memang memberikan hak lebih untuk warga keturunan Yahudi. Dia lahir dari keluarga sederhana dan tidak pernah bermimpi akan menjadi orang yang bisa berkeliling dunia. Semua itu berubah ketika akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Harvard. Hidupnya akhir berbalik arah dan dia bisa mencapai potensi tertingginya.

Eksklusivitas pendidikan tidak melahirkan apa apa kecuali kaum elit. Kaum Elit ini juga seringkali bukan orang kompeten meski sudah diberi pendidikan yang layak. Justru, kaum yang lahir dari bawah berpotensi menjadi orang hebat. Bahkan, kita seringkali di buat terkejut dengan potensi yang mereka lahirkan. Tinggal pilihannya kembali pada kita. Mau memberikan kesempatan atau tidak?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here