Waktu Baca: 2 menit

Sudah beberapa kali ini saya mencermati keunikan (kalo tidak mau dibilang keanehan) perilaku sebagian pengguna sepeda motor. Kendaraan dikemudikan dengan kecepatan 10 -40km/jam, dan kaki kiri diselonjorkan ke luar footstep. Seolah-olah kaki kiri siap menginjakkan aspal, seperti anak kecil yang naik sepeda dan siap mengerem dengan kaki. Rata-rata melakukannya dengan kaki kiri, sehingga yang nangkring di footstep hanya kaki kanan saja. Peran footstep kiri seolah dianaktirikan.

Jangan dikira yang melakukan itu hanya emak-emak saja. Kaum bapack-bapack pun ada, remaja-remaja putri juga ada. Mas-mas gondes juga ada, eyang-eyang juga ada. Motor yang dipakai tidak hanya matic, tetapi jenis motor bebek pun ada, motor sport pun ada juga. Kalo mereka memakai motor matic, okelah karena tidak ada peran khusus bagi kaki kiri. Tetapi kalo itu motor bebek atau motor sport, bukankah kaki kiri juga berperan untuk siap-siap ganti persneling ?

Baca Juga :Saat Servis Sepeda Motor Itu Kayak Sedang Nunggu Diagnosis Dokter

Kode berkendara?

Mungkin mereka bermaksud memberi kode tertentu. Kaki kiri yang diturunkan dari footstep berarti mereka berjalan selow-selow saja. Kalau kedua kaki menginjakkan footstep semua berarti kode mereka untuk melaju kencang. Tetapi ini sekadar asumsi saja, karena tidak ada kesepakatan universal soal ini dalam etika berkendara.

Alasan Rasional

Terus terang saya tidak menemukan alasan rasional dan evidence based untuk perilaku itu. Mungkin mereka meniru perilaku atlet motor cross yang kaki kiri maupun kaki kanan kanan siap sedia menjejakkan tanah untuk mengubah arah motor secara cepat. Tapi kan masalahnya, jalanan kota ini hampir semuanya aspal keras, bukan tanah kering. Di jalanan ini orang tidak perlu mengubah arah kemudi secara ekstrem dengan menjejakkan kaki. Lagipula para atlet motorcross itu menggunakan sepatu boot dengan sol tebal, bukan pakai sandal jepit swallow.

Faktor Keselamatan

Perilaku itu jelas mengganggu faktor keselamatan si pengendara motor. Ini bukan lagi soal peran footstep kiri yang dianaktirikan, tetapi soal keselamatan badan si pengendara motor. Mungkin orang mengira bahwa dengan menjejakkan kaki ke aspal maka motor bisa mengerem dengan lebih handal. Tetapi bayangkan jika orang memakai nalar itu, dan benar-benar melakukannya ketika sepeda motor melaju dengan kecepatan lebih dari 40 km/jam. Selain telapak kaki bisa lecet, kaki juga bisa patah karena kalah menahan gaya inersia dari laju kendaraan.

Gerakan Refleks

Ketika kita mengendarai motor (atau pun mobil) dan kita akan mengerem mendadak, secara refleks kaki kita akan menginjakkan objek dengan tekanan lebih kuat; bisa ke pedal rem, bisa juga ke dek motor, bisa juga ke footstep. Padahal kekuatan dan kecepatan tekanan kaki ke pedal rem tidak ada hubungannya dengan kekuatan pengereman. Bahkan kaki kita menendang pedal rem pun tidak kemudian membuat kendaraan kita berhenti dalam satu detik. Setiap kendaraan punya desain tersendiri soal pengereman. Lagipula kalo pun kendaraan kita disetting bisa rem mendadak yang dalam waktu 3 detik bisa membuat kendaraan kita berhenti total, itu malah berbahaya. Kita bisa terlempar dari kendaraan. Tetapi begitulah, dalam dunia psikologi, seringkali gerakan refleks anggota badan kita tidak sejalan dengan rasio akal sehat.

Pesan dari Footstep Kiri

Kalo footstep kiri bisa ngomong, mungkin dia akan sambat atau menertawakan perilaku kita. Sambat karena perannya berkurang, dan tertawa karena perilaku kita yang irasional. Udah tahu fungsi footstep untuk tempat berpijak kaki ketika motor melaju, lha kok masih menjorokkan kaki ke aspal dengan santainya ?

Tapi ngomong-ngomong, sekalipun kita jadi orang yang sangat rasional, dalam keadaan terdesak pun kita bisa saja tiba-tiba berperilaku irasional lho. Misalnya ya ketika di jalanan harus mengerem mendadak. Jangan-jangan bukan hanya kaki kiri saja yang turun, tapi kaki kanan ikut turun dan lupa menginjak pedal rem.

Kasihan si footstep kiri, dianaktirikan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here