Waktu Baca: 3 menit

Mudah menuduh Goku di Dragon Ball sebagai ayah yang buruk. Ia tidak memiliki pekerjaan, sering menghilang dan tampaknya tidak terlibat dalam perkembangan anaknya. Ia juga jarang memperlakukan istrinya dengan romantis. Ketika disuruh belajar mengemudi saja ia ogah ogahan. Ya gimana lagi? Orang dia bisa terbang.

Namun, saya berpikir sebaliknya, Goku bukan ayah yang seburuk itu. Mungkin kitanya saja yang curigaan. Ada alasan Goku bersikap seperti itu. Sayangnya, tidak semua dari kita mau memahami Goku. Memang, mengadili lebih mudah daripada menghargai.

Nah, saya akan mematahkan paham bahwa Goku ayah yang buruk. Tapi saya akan mendasarkan jawaban saya dari anime klasik Dragon Ball bukan Dragon Ball Super. Saya sudah kelewat tua untuk mengikuti Dragon Ball Super. Plus, bagi saya lebih indah untuk memahami bahwa ending dari Dragon Ball ya saat Goku pergi bersama Ubh untuk berlatih. Cus  kita bahas Goku.

Goku ayah yang buruk

Tidak Ada Yang Sadar Goku Mengidap Autisme

            Mungkin banyak yang lupa kalau Goku mengidap autisme. Ketika ia masih bayi kepalanya terbentur. Sejak kepalanya terbentur, sifat sifatnya jadi berubah. Bisa dikatakan Goku memiliki cedera otak parah.

Autismenya ini untungnya membuat dia menjadi orang yang kuat. Ia banyak berfokus pada berlatih bela diri alih alih sibuk mengurusi hal hal yang tidak penting. Tapi ada masalah pada dirinya, ia jadi kurang peka pada lingkungan sekitarnya termasuk pada anak anaknya.

Teman teman dan istrinya tampaknya memahami hal itu. Makanya, mereka tidak pernah menekan Goku berlebihan. Mereka sadar, kita enggak.

Goku Tidak Bekerja, So What?

            Banyak yang lupa kalau Goku itu menantu Raja Kerbau. Raja Kerbau sendiri adalah orang yang memiliki banyak harta. Tidak sulit bagi Raja Kerbau untuk memenuhi kebutuhan keluarga Goku dan Chi Chi.

Berarti Goku ini hanya mengandalkan mertua? Ya, bisa jadi. Tapi, jangan lupa kalau tanpa Goku, si Raja Kerbau sudah miskin dari beberapa tahun yang lalu. Sudah beberapa kali Goku menyelamatkan istana dan warisan si Raja Kerbau. Tak terhitung juga berapa kali Goku menyelamatkan Chi Chi.

Menanggung hidup Goku sekeluarga jelas bukan masalah besar untuk Raja Kerbau mengingat jasa jasa Goku. Kita saja yang sering lupa pada fakta ini.

Goku ‘kan Mati, Gimana Mau Menemani Anaknya?

            Sering kita menuduh Goku tidak bertanggung jawab karena ia jarang menemani anaknya. Ya sebenarnya, kita saja yang susah memahami kondisi orang lain. Kita harus mengingat, Goku ‘kan memang mati. Kalau orang mati, bagaimana bisa dia menemani anaknya?

Lha waktu hidup dia juga lebih banyak latihan daripada menemani anaknya?

            Betul, meskipun demikian, kamu jangan lupa kalau dia statusnya sudah mati. Orang yang sudah mati kalau dibangkitkan lagi ya berarti sudah masuk mukzijat. Bagi keluarga Goku, Goku yang bisa hidup lagi sudah luar biasa. Selama Goku tidak neko neko, mereka pasti ya bersikap ‘ya udahlah’. Toh, aslinya Goku ‘kan sudah mati.

Kita saja yang tidak bisa memahami rasanya kerabat kita yang mati hidup lagi.

Goku Orang Baik, Temannya Banyak

            Betul Goku tidak bekerja. Selain itu, Goku jarang pulang ke rumah. Namun ada sisi positif Goku, sahabatnya banyak. Karena sahabatnya banyak dan ia jarang punya musuh, banyak orang menolong anak anaknya. Picollo (atau Spike?) misalnya, menjadi pengganti Goku sebagai ayah Gohan. Bulma juga suka merawat Gohan dan Goten.

Kakek Kamesenin, Dende, Pendeta Karin juga tidak pernah mengeluh saat Gohan dan Goten dolan. Mereka semua berpikir Goku orang yang baik. Goku tidak merawat anaknya sendiri. Demikian, kebaikan hatinya membuat orang lain mau merawat anak anaknya.

Goku Ayah Yang Supportif

            Suka tidak suka Goku ayah yang supportif. Ia tidak pernah menyuruh anak anaknya begini begitu. Goku membiarkan anak anaknya berkembang sesuai keinginan mereka. Namun, saat tiba waktunya, Goku bisa melecut semangat anak anaknya ke level tertinggi.

Contoh saja saat Cell Saga. Ia bisa melihat potensi Gohan. Maka dari itulah ia mendorong anaknya untuk mencapai potensi terbaiknya. Hasilnya, Gohan menjadi seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Gohan yang dulunya anak mami kini bisa menggebuki mahluk sadis seperti Cell dengan gagah berani.

Goku Memang Sering Disalah pahami

            Kita kadang melihat orang hanya di satu segmen hidupnya saja. Kita tidak melihat bahwa ada segmen kehidupan sebelumnya yang membentuk seseorang menjadi dirinya sekarang. Untung Goku bukan pendendam. Ia santai saja. Bahkan saat disindir Vegeta (atau Bezita?)pun ia ketawa ketawa saja. Sudah saatnya kita melihat orang secara utuh, jangan asal ngejudge saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here