Waktu Baca: 4 menit

Kita semua pasti pernah menjadi seorang murid, tapi pernahkah kita menjadi seorang guru?. Pasti dari sekian banyak pembaca tulisan ini, pernah atau bahkan sering meremehkan pekerjaan seorang guru. Guru tidak dihargai murid juga bukan fenomena aneh. Meremehkan bisa dengan banyak cara, dengan tidak mendengarkan penjelasan saat di kelas, bahkan kita pernah membandingkan guru dengan media digital seperti youtube, google dsb.

Pernahkah kita berpikir, bahwa guru dan media digital, pada dasarnya adalah kedua hal yang berbeda. Guru tidak bisa mengetahui semua hal, tetapi Google dan Youtube bisa, sedangkan dua aplikasi itu tidak bisa mengeluarkan sertifikat terpecaya berupa ijazah dan tidak bisa merancang program belajar terpadu selama setahun, tetapi guru sudah pasti bisa dan mampu.

Baca juga : Orang unik! Belajar dari mana mana, ilmunya tak terdefinisikan

Tugas Guru Tak Sekedar Transfer Ilmu

Tugas guru selain mengajarkan ilmu formal, sebenarnya juga mengajarkan hal yang tidak formal, seperti disiplin, kerapian, dan target. Peran guru inilah yang sering tidak dihargai murid. Pernahkah kita bayangkan kehidupan tanpa ke 3 hal itu? Akan jadi seperti apa?

Contoh kasus di pemerintahan, jika tidak ada kedisiplinan dari pegawainya, bayangkan berapa banyak orang mengantri tiap harinya untuk membuat KTP yang tadinya bisa dibuat dalam 5 menit, menjadi berbulan – bulan. Hal ini menunjukkan, satu saja bagian dalam kehidupan ini, berjalan tanpa adanya jadwal, kerapian, dan target, sudah pasti dunia jadi crut marut.

Sama halnya dalam dunia pendidikan, oke kita sebagai siswa dan mahasiswa bisa saja mengklaim bahwa, “kita ga butuh guru, dan dosen, mereka Cuma transfer ilmu bla bla bla”, tapi jika tanpa adanya mereka, apakah kita bisa memacu diri kita sendiri untuk belajar menyesuaikan jadwal, dan memiliki target yang ditetapkan?

Kebanyakan orang bahkan harus disuruh dahulu baru bertindak, jarang ada yang memiliki inisiatif sendiri. Masih yakin kita ga butuh seorang pendidik yang membimbing kita sampai ke level selanjutnya?

Guru tidak dihargai murid

Guru Memberi Arah, Memberi Kedisiplinan

Mari kita pikirkan lebih kritis lagi, apakah kita bisa belajar sesuai jadwal, jika tidak ada guru? karena jadwal sudah menjadi patokan di semua lini kehidupan, kantor, pemerintahan, bahkan pada event – event kesenian tempatnya orang – orang yang dinilai paling santai di dunia saja, ada jadwal jam buka dan tutupnya, pameran dimulai tanggal berapa dan berakhir di tanggal berapa.

Oke kita sadari, ada beberapa guru – guru yang masih kurang dalam hal perhatian, dan pemahaman tentang hal yang mereka ajarkan, aku tidak bilang semua, tetapi ada. Mereka ini mungkin penyebab guru tidak dihargai murid.

Pernahkah kita berpikir sebab dari hal di atas?. Kita sebagai anak muda pasti merasa, “bapak ibu enak cuma belajar satu mata pelajaran, sedangkan kita belajar belasan mata pelajaran”. Tapi pernahkah kita berpikir, bayangkan kita menjadi guru di SMA negeri. Oke mereka belajar 1 mata pelajaran, tapi bayangkan SMA negeri punya jumlah kelas minimal 5 kelas pada tingkat yang sama, dengan murid per kelas minimal 30 orang?

Mereka harus mengajar 30 anak dikali 5 kelas. Pribadi tiap anak biasanya berbeda beda pula. Sedangkan kita hanya diminta untuk mendengarkan dan bekerja sama dengan 1 guru per mata pelajaran. Sampai beberapa waktu lalu, pemerintah berencana membuka formasi 1 juta guru dengan konsep PPPK. Karena rasio murid dan guru dirasa terlalu besar, sehingga membuat pembelajaran dirasa pemerintah kurang maksimal.

Kesejahteraan Guru Nasibmu Kini…

Bisakah kita bekerja dengan maksimal, senang dan nyaman, jika kita tahu di rumah kita tidak ada lauk untuk dimakan?. Banyak guru yang masih kesusahan untuk memenuhi kehidupannya, terlebih para guru honorer. Bahkan di kota besar sering ditemui, jika ada seorang anak yang salah satu orang tuanya adalah guru, sekolahan tempat anak itu menimba ilmu, memberikan potongan biaya pendidikan kepada anak itu.

Soal Ide Memajukan Pendidikan

Aku jadi teringat kata – kata pak Gita Wirjawan, mantan Mentari perdagangan era presiden SBY, di podcastnya “Endgame”. Beliau berulangkali mengusulkan atau mengemukakan ide gagasan ke bintang tamu podcast, bahwa beliau sangat mendukung kesejahteraan para guru. Beliau mengagas, bahwa gaji guru harus dinaikan berkali lipat, supaya anak – anak top 5 sampai top 10 di dalam kelas, tertarik menjadi guru. Hal ini dia utarakan dengan alasan, jika guru memiliki gaji yang mensejahterakan, anak – anak top 10 tadi, pasti melirik profesi guru, dan sudah bisa dipastikan bahwa kualitas pengajar di Indonesia pasti bagus, karena diambil dari bibit yang unggul.

Indonesia sepertinya belum melirik kebijakan ini, bisa kita lihat dari teman – teman sekelas kita. Waktu kecil mungkin masih banyak dari kita dan teman – teman kita bercita – cita menjadi guru, dokter, tentara, dst. Tapi ketika sudah menginjak dewasa, kita makin realistis memandang dunia, menyadari bahwa menjadi guru di negara ini tidak menjanjikan kesejahteraan.

Guru tidak dihargai murid

Penutup

Aku pribadi setuju dengan gagasan ini. Sekali lagi Bukan berarti para guru dan tenaga pendidik bahkan dosen saat ini kurang dedikasi, dan semangat untuk mengupgrade diri. Aku pikir gagasan pak Gita sangat masuk akal. Jika profesi guru menjanjikan masa depan, anak anak unggulan sudah pasti akan lebih semangat mengabdikan diri mereka untuk dunia pendidikan.

Harapan ku dengan adanya tulisan ini, kita jadi mengetahui betapa susahnya menjadi tenaga pengajar di negara kita. Banyak contoh negara yang dulunya selevel dengan kita, dan sekarang menjadi negara maju karena menginvestasikan modal dan asetnya ke dunia pendidikan dan penelitian, untuk meningkatkan SDMnya di masa depan. Karena dengan meningkatnya kualitas pendidikan, meningkat pula kualitas SDM suatu negara. Meningkatnya SDM suatu bangsa, tentu akan membuat negara tersebut dapat berlari kencang dan lama. Itulah yang harusnya menjadikan suatu negara makin gigih memperjuangkan pendidikannya.

Sumber gambar : air focus

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here