Jalan Panjang Mobil Listrik Indonesia

Waktu Baca: 2 menitKendaraan bermotor (mobil maupun sepeda motor) sudah menjadi kebutuhan pokok mahasiswa. Di luar sana saya mendengar kabar bahwa perlahan kendaraan listrik mulai naik pamornya. Hal tersebut dikarenakan Tesla, Inc. dengan mobil listriknya mulai naik daun. Influencer dan orang-orang berduit di dunia pun satu per satu mulai membelinya. Walaupun Tesla tidak menciptakan konsep mobil listrik, merekalah yang berhasil mempopulerkan. Tetapi rasanya masih ada jalan panjang bagi kehadiran mobil listrik di Indonesia

Dengan energi yang lebih bersih dibandingkan dengan bensin membuatku berpikir, kapan sih kira-kira Indonesia mulai menerapkan kendaraan listrik sebagai pengganti kendaraan berminyak? Aku mencoba membongkarnya satu per satu.

Pemborosan Fasilitas

Ini yang harus diingat pertama. Tidak mungkin semua masyarakat secara bertahap akan mengganti kendaraannya dengan kendaraan listrik. Pengaruh terbesar ada pada pembeli. Tidak semua masyarakat memiliki tegangan listrik yang tinggi. Kalau memiliki kendaraan listrik pun, apalagi di Indonesia, hanya golongan menengah ke atas yang bisa memilikinya karena tempat tinggalnya memiliki tegangan tinggi. Bisa saja setiap ingin charge kendaraan listriknya tidak kuat karena tegangan rumahnya tidak kuat.

Kendaraan listrik tidak semudah mengganti motor baru karena motornya sudah usang atau ketinggalan zaman. Pembeli harus benar-benar memikirkan efisiensi dari kendaraan listrik. Kalau tidak, justru berujung pada pemborosan uang. Untuk service dan spare part tidak bisa sembarangan pula.

Dan ini juga jadi kendala. Adanya kendaraan listrik pun akan memperbanyak sampah kendaraan. Jika pada suatu hari nanti Indonesia mulai menetapkan kebijakan kendaraan listrik, mau tidak mau sampah akan semakin banyak. Terlebih lagi jika banyak orang yang mendorong dirinya ngikutin hype Tesla atau mobil listrik, semakin banyak mobil yang terbengkalai. Sampah akan semakin banyak, dan itu tidak baik.

Listrik Kebanyakan Masih dari Uap dan Minyak

Pun dengan semua kendaraan diganti dengan kendaraan listrik, jika tenaga pembangkit masih menggunakan batu bara ataupun minyak tetap sulit untuk go green. Hal ini yang terkadang masih abai di masyarakat.

Menurut tirto.id, di Indonesia sendiri sumber daya fosil, entah itu batu bara maupun minyak, masih menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik di Indonesia, yakni sebanyak 85%. Bayangkan saja jika di suatu hari nanti semua kendaraan di Indonesia pakai kendaraan listrik, apakah iya gas emisi akan semakin berkurang?

Bahkan di dunia saja, untuk listrik sendiri, 63,3% masih menggunakan bahan bakar fosil. Hal tersebut disebabkan karena bahan bakar fosil secara produksi dan pengelolaannya lebih murah dan mudah diolah dibandingkan tenaga lain, serta menghasilkan energi yang lumayan banyak.

Jika Indonesia atau satu dunia mulai ganti dengan kendaraan listrik, secara statistik emisi dan energi yang dikeluarkan tidak ada perubahan sama sekali, seakan mengganti kendaraan baru saja. Maka jika banyak iklan yang mengatakan bahwa kendaraan listrik akan mengubah drastis iklim yang semakin bersih, pikir kembalim kalau perlu skeptis.

Memang secara hype, menarik punya kendaraan listrik. Terlebih setelah Tesla mulai memproduksi mobil listrik secara komersial, minat pasar semakin meningkat. Mobil listrik pun dianggap sebagai mobil yang mewah.

Jika masih memiliki kendaraan yang bisa mengantar kita ke sana-sini dengan mudah dan dalam kondisi baik, tidak perlu menjual atau membuang kendaraan yang dan menggantinya karena mengikuti hype saja. Bukan hanya berkatian dengan keinginan go green dan clean energy saja, melainkan juga pikirkan pula sampah yang semakin menumpuk.

Memang kita terbuai dengan influencer dengan Tesla yang mewah dan berkesan go green. Memang pilihan kembali lagi ke kita, mau mengikuti hype dan ganti kendaraan baru yang lebih bagus dan mewah, atau tetap mempertahankan kendaraan lamanya. Semua pilihan ada konsekuensinya. Ya, masih ada jalan panjang untuk kehadiran mobil listrik di Indonesia.

Sulistya Eka
Mahasiswa sastra yang konsen dengan budaya Timur, games, dan K-Pop.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular