Waktu Baca: 4 menit

Beberapa waktu ini, kita digemparkan dengan berita yang bersliweran di media sosial, perihal akan dibuatnya “Silicon Valley” versi Indonesia, dengan sebutan “Bukit Algoritma”. Katanya sih supaya Indonesia punya Bill Gates dan Microsoftnya sendiri begitu. Pencetus dari ide ini adalah salah satu politikus dari partai PDIP, aku gak mau spill namanya di sini ah…. kalian cari sendiri yaa… hehehe. Rencananya Bukit Algoritma dirancang untuk menunjang pengembangan segala bidang ilmu pengetahuan di Indonesia. Idenya sangat bagus, tapi aku kok belum melihat urgensi dari pembuatan Bukit Algoritma ini ya?

 

Yang aku rasa seharusnya menjadi urgensi pemerintah saat ini itu, kualitas pendidikan , dan pemerataan pendidikan di Indonesia. Boro boro menciptakan Microsoft dan melahirkan Bill Gates, kehidupan pendidikan kita ini masih perlu upgrade. Terlebih saat ini kita sudah masuk ke dalam globalisasi, dimana semua negara sudah terkoneksi, dan dapat berkolaborasi dan bersaing dengan semua negara di dunia. Sedangkan kita tahu sendiri, bahwa kualitas pendidikan negara kita, berada di bawah negara – negara maju huhuhuh. Tapi kali ini aku akan kasih data, biar aku gak dibilang om-do, omong kosong tanpa data dan apalagi hoax. Alat ukur apa yang bisa dipakai, untuk mengukur tingkat kualitas pendidikan di Indonesia dengan negara – negara lain?, yaitu… jeng jeng jeng jeng…. Jawabannya “PISA”. Sebelum lebih jauh, apasih PISA itu?, menurut website kemdikbud.go.id , PISA atau Programme for International Student Assessment. adalah penilaian siswa skala besar (internasional). PISA disponsori OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan). PISA bertujuan mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di dunia. Evaluasi berlangsung tiga tahun sekali. Yang dinilai siswa-siswa berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak. Tes ini bersifat diagnostik yang salah satu manfaatnya untuk perbaikan sistem pendidikan di negara anggota OECD. PISA memonitor dan membandingkan hasil pendidikan dalam soal literasi membaca, literasi matematika dan literasi sains.

Silicon Valley

 

Kenapa aku bilang PISA ini juga penting, bukan sekedar untuk mencari gengsi dan prestise dengan negara lain ya, tapi lebih dari itu guys, PISA jadi pembanding kualitas Pendidikan di negara kita dengan 72 negara lain, melalui 3 bidang. Jadi PISA menilai seberapa tinggi literasi mereka terhadap membaca, matematika dan sains, dalam suatu negara. Menurut survey PISA tahun 2018, mari kita bandingkan dengan sesama negara ASEAN dalam hal membaca. Contoh saja, bandingkan peringkat Indonesia dan Singapura, rasanya mau nangis guys hu..hu..hu…. Singapura berada di peringkat kedua, sedangkan Indonesia ada di peringkat ke – 72 dari 77 negara. Literasi Matematika Indonesia dibanding Singapura juga ngenes, Singapura di peringkat 2 dan Indonesia masih di peringkat 72 dari 78 negara, dan untuk literasi Sains, Indonesia di peringkat 70 dari 78 negara (mengutip Kompas.com). Sedih banget kan, sedih liat peringkat kita di PISA jauh bangettt selisihnya sama negara tetangga kita Singapura, huhuhuhu sedih.

 

PISA dinilai sangat menggambarkan kondisi Pendidikan di suatu negara, dalam berita Kompas tanggal 05/04/2020, dengan judul “Nilai PISA Siswa Indonesia Rendah, Nadiem Siapkan 5 Strategi Ini”. Membuktikan bahwa PISA tidak mengeluarkan hasil yang abal – abal, bahkan mas Menteri pun sampai membuat stategi baru untuk meningkatkan kualitas Pendidikan. Mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa pendidikan adalah salah satu jalan menuju kesuksesan seseorang, bahkan membawa dampak besar terhadap negara. Rasanya tidak berlebihan jika Pendidikan harus menjadi fokus utama setelah pandemi mereda.

Calon Bukit Algoritma

Ada sebuah kalimat yang aku rasa tepat untuk menggambarkan hal ini, “Jika kita ingin membangun kerajaan, buatlah dahulu jalan menuju kerajaan tersebut”. Aku ibaratkan Pendidikan merupakan jalan menuju sebuah kerajaan baru, kerajaannya yaitu negara Indonesia kedepan mau dibangun seperti apa. Rasanya pembuatan “Bukit Algoritma” jika tanpa dibarengi pembangunan SDM Indonesia yang baik, akan menjadi timpang. karena percuma proyek ini dibangun, tetapi manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang yang sudah bergelar dan berilmu sampai luar negeri. Di lain sisi banyak anak – anak penerus bangsa, yang berada di daerah 3T dan berkeinginan kuat untuk bersekolah, masih terkendala infrastruktur. Anak – anak penerus bangsa di kota – kota besar di Indonesia yang memiiki keinginan kuat mencari ilmu, terkendala oleh mahalnya biaya kuliah, mahalnya harga buku, tidak bisa menjangkau jurnal – jurnal internasional, dan masih banyak lagi.

 

Peran pemerintah dan keluarga sangat berpengaruh, dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak. Pemerintah membuat kebijakan publik yang mendukung terbentuknya ekosistem pendidikan yang lebih baik, dengan ditambahnya infrastruktur guna memudahkan ilmu pengetahuan tersampaikan ke semua penerus bangsa, sampai di daerah 3T. Di sisi lain, keluarga dalam kehidupan domestik, juga mendorong anaknya untuk giat menambah skill, menanamkan pemikiran kritis dan konsisten terhadap apa yang sedang diperjuangkan. Kolaborasi kedua pemegang kekuasaan ini, jika bekerja sama menuju cita – cita bersama, pasti Indonesia dengan cepat akan mengejar ketertinggalan, pemerintah mengatur negara, dan orang tua mengatur keluarga, kolaborasi yang ciamik.

 

Aku sangat mendukung pembuatan proyek “Bukit Algoritma”, tapi seperti yang ku bilang, akan menjadi kurang bermanfaat jika pembangunan proyek tersebut, tidak dibarengi pembangunan SDM Indonesia yang lebih bermutu dan makin top di mata dunia. Jika SDM kita juga diperbaiki secara masif dan gila – gilaan, aku membayangkan di 2045 ketika Indonesia menginjak 100 tahun kemerdekaan, kita akan tampil mencolok di forum kelas dunia, menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan di tingkat Internasional, dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa benar – benar terwujud. Dah lah tanpa fafifu wasweswos lagi, aku akhiri sampai di sini, sampai bertemu di tulisan – tulisan Pakbob lainnya byee…..

 

Editor : Ardi Pramono

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here