Serial Memahami Papua – 5 : Kosakata Ekspresi Emosi Orang Papua

Waktu Baca: 3 menitKosakata ekspresi emosi orang Papua.

Kebanyakan orang di Jawa menilai bahwa orang-orang dari Indonesia bagian timur cenderung ekspresif dengan suara yang meledak-ledak, bicara dengan tempo cepat. Ini membuat kesan bahwa orang jadi pemarah. Padahal tidaklah demikian. Suara keras berkaitan dengan topografi alam. Kalau kita berbicara dengan lirih di pantai atau hutan, maka suara kita tidak terdengar.

Baca Juga : Tinggalkan Bekal sebelum menilai Papua

Ada beberapa kosakata yang khas muncul di Papua, sebagai bentuk ekspresi pikiran dan emosi orang Papua. Nah, pada artikel ini akan saya jelaskan beberapa kosakata ekspresi emosi orang Papua.

Pele

untuk mengekspresikan keheranan atau kekaguman terhadap sesuatu yang dianggap luar biasa atau tidak wajar, namun dalam hal positif. Kadang menggunakan diksi Apele. Misal : “Pele, ko pu mobil bagus apa…” (Wow, mobilmu bagus sekali !)

Mamayo

untuk mengekspresikan keheranan terhadap sesuatu yang tidak sesuai harapan, namun dalam rasa negatif. Misal “Mamayo…sa sudah sapu ini lantai, tapi ko injak injak lagi..” (Astaga, saya sudah menyapu lantai ini, tapi kamu masih saja mengotori)

Andalan

satu kata untuk mengekspresikan kekaguman terhadap sesuatu yang luar biasa, dalam rasa positif. Biasanya satu kata Andalan saja sudah cukup menunjukkan rasa kagum yang kuat. Misal “Anak-anak Papua mainannya baling-baling helikopter. Andalan !” (Gila ! anak-anak Papua bisa bermain baling-baling helikopter, karena di Jawa tidak mungkin melakukan hal yang sama.)

Baca Juga : Tradisi MOP di Papua

Tra Kosong

untuk mengekspresikan apresiasi atau kekaguman atas buah pikir dan buah karya orang lain. Orang yang dianggap remeh temeh ternyata bisa melakukan hal-hal besar. Bisa juga untuk memuji orang yang menepati janjinya. Misal : “Pace, ko tra kosong.” (Mas, kamu hebat). 

Kimai

untuk mengekspresikan kekesalan terhadap keadaan, sikap atau tindakan orang lain. Kimai merupakan makian yang kadar kekesalannya sama seperti ketika orang Jawa mengucapkan kata -maaf- ‘Bajingan‘. Kimai merupakan akronim dari Cukimai. Hanya bedanya, kimai diucapkan dengan tempo yang cepat, sementara cukimai biasanya diucapkan dengan tempo yang lebih lambat, dengan artikulasi yang sangat jelas. Misal : “Ah, petugas dorang kimai seh. Sa sudah antre lama tapi tra dilayani.” (Ah, itu petugas brengsek sekali. Saya sudah mengantre lama, tetapi tidak segera dilayani.)

Baca juga : Kosakata logat Papua untuk menyebut orang- bagian 1
Baca juga : Kosakata logat Papua untuk menyebut orang – bagian 2

Ganas

artinya adalah marah yang benar-benar marah. Ganas bisa menjadi kata kerja, untuk menunjukkan kadar kekesalan yang kuat kepada orang lain. Misalnya “Pace, hati-hati. Bapatua ganas ko, gara-gara ko bikin rusak dorang pu motor.” (Mas, hati-hati lho. Pakdhe marah sekali padamu karena motornya kamu rusakkan.”

Trapapa

artinya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa, baik-baik saja. Kata trapapa juga bisa dipakai untuk mengekspresikan kekesalan dengan halus; semacam ngambek. Ini seperti ketika orang meminta dibelikan sarapan namun tidak segera dibelikan. Begitu dibelikan dan waktunya terlambat, ia tidak mau menerima pemberian dan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Misal : “Ah, sa trapapa. Sa bisa beli sendiri kok.” (Ah, ya sudah nggak papa. Toh saya bisa beli sendiri.”

Bah

untuk menunjukkan rasa kesal karena menemukan kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi. Bisa juga digunakan untuk menguatkan argumentasi, terutama ketika dirinya disalahkan orang lain. Bah bisa diucapkan dengan cepat maupun lambat, dengan penekanan pada vokal ‘a” . Misalnya : “Bah, betul ini. Sa sudah kerjakan tadi malam.” (Sungguh, saya sudah mengerjakannya tadi malam.)

Ji

untuk menunjukkan rasa gemas, kesal, dan terkadang ada unsur jijik pada sikap atau perilaku orang lain. Misalnya : “Ji, ko belum dipersilakan ambil, langsung main sikat saja.” (Hei! kamu belum dipersilakan untuk mengambil, tapi kok langsung menyerobot?). Dengan mengatakan “Ji” saja, orang sudah tahu bahwa kita kesal dengan sesuatu yang baru saja kita lihat atau dengar. Pengucapan Ji menggunakan tempo lambat, dengan lafal ‘i’ yang diperpanjang.

Itu sudah

untuk menegaskan argumentasi diri sendiri atau wujud kesepakatan dengan argumen orang lain. Bisa juga digunakan untuk konfirmatif atas pertanyaan yang diajukan. Misalnya “Yo itu sudah yang sa maksud” (Ya itulah yang saya maksudkan). Dengan mengucapkan itu sudah, maka tidak diikuti penjelasan-penjelasan lain lagi.

Iyo sudah

ekspresi yang menunjukkan kesepakatan atas argumen orang lain, sekaligus untuk menghentikan pembicaraan yang bertele-tele. Biasanya dipakai ketika orang sedang beradu pendapat, lalu untuk mengakhiri diskusi orang dengan cepat menyetujui saja pendapat lawan bicaranya. Misal : “Iyo sudah, ko benar.” (Ya sudahlah, kamu yang benar.)

Kapan pulang ?

ekspresi yang diungkapkan ketika pertamakali kedatangan tamu dari luar kota. Ungkapan ini bukan berarti mengusir atau berharap tamu segera kembali ke kota asalnya, tetapi maksudnya adalah orang mencoba mengukur berapa hari tamu itu akan tinggal. Barangkali tuan rumah mencari kesempatan waktu untuk mengajak tamu itu makan malam.


Nah, itulah beberapa kosakata ekspresi emosi orang Papua yang biasa diucapkan dalam keseharian.  Semoga kita tidak menjadi salah paham karenanya.

Selamat mempelajari.

 

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular