Waktu Baca: 4 menit

Pada tanggal 1 Mei dunia merayakan hari buruh. Ini adalah hari dimana terjadi dobrakan antar kelas. Tidak aneh jika mahasiswa, sebagai mahluk intelektual, turut terlibat.

Hari Buruh—atau biasa disebut dengan May Day secara internasional—merupakan momen bersejarah di zaman peradaban industri modern. Bagaimana tidak? Hari buruh merupakan momen berharga bagi kaum-kaum pekerja, terkhusus buruh dan pekerja industri melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak kaum buruh.

Momen ini bahkan tidak hanya dirayakan kaum-kaum buruh dan pekerja saja. Kita dapat melihat ada golongan sosial lain yang juga turut merayakannya, salah satunya mahasiswa. Hari buruh bagi mahasiswa adalah momen emas bagi mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat. Mahasiswa turut menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan kaum-kaum buruh dan pekerja kerah biru dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan.

courtesey : suara.com

Berbagai macam cara dilakukan mahasiswa  untuk mengimplementasikan ilmu-idealisme dan nilai nilai pengabdian pada masyarakat. Pada tingkat ter-intensnya, ada beberapa kelompok yang mendorong esensi mahasiswa pada poin Tri dharma ketiga dengan turun ke jalan dan mengungkapkan aspirasinya.

Demonstrasi jalanan dikenal oleh masyarakat lingkup pendidikan sebagai momen mahasiswa belajar mengaspirasikan pendapatnya pada pemerintah. Bahkan, pada hari buruh pun—walaupun golongan sosial mahasiswa berbeda dengan pekerja dan buruh—mahasiswa turut menyuarakan dan turun ke jalan.

Dari sini timbul pertanyaan lain, beberapa mahasiswa—terkhusus mahasiswa baru—mempertanyakan apakah mahasiswa perlu turun ke jalan untuk mengikuti demo? Berikut jawabannya:

Perbedaan Latar Belakang Sosial Mahasiswa

Walaupun di zaman postmodern ini mahasiswa dianggap memiliki golongan sosialnya sendiri, mahasiswa pada masa kini memiliki latar belakang yang berbeda. Pada zaman lampau, mahasiswa atau sarjana yang dapat mengenyam pendidikan hanya orang-orang yang memiliki kelas sosial tinggi, seperti pengusaha, penguasa, dan ras tertentu saja. Namun, setelah pemerintahan kolonial jatuh dan kita masuk ke masa post-kolonial modern semua berubah. Siapapun dapat menjadi mahasiswa.

courtesey : sutboy

Di masa kini, mahasiswa tidak hanya orang-orang atau anak dari pengusaha kaya, penguasa, dan kelompok kelas atas saja. Seluruh masyarakat dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Hal tersebut yang membedakan mahasiswa dulu dengan sekarang. Mahasiswa saat ini dianggap sebagai masa depan peradaban dengan tujuannya masing-masing.

Apakah harus mahasiswa turun ke jalan dan ikut mengaspirasikan pendapatnya dengan cara demo? pasti jawaban mahasiswa berbeda-beda. Jika menanyakannya pada mahasiswa yang berlatar belakang aktivis dan berasal dari golongan sosial yang tertindas oleh peradaban tertentu, pasti mereka banyak yang mengiyakan demonstrasi sebagai salah satu momen aspirasi dan pengabdiannya pada masyarakat.

Hal tersebut berbeda dengan mahasiswa yang memiliki tujuan individual atau berasal dari golongan sosial yang diuntungkan oleh suatu peradaban. Di sini, jawabannya pun bermacam-macam. Ada yang tidak peduli dengan demonstrasi dan Tri dharma ketiga. Mereka hanya fokus pada tujuan pribadinya. Meski demikian, dari kelompok ini, ada saja yang idealis dan tak mau jadi kaum penindas.

Perbedaan ini yang kadang menjadi perdebatan antarmahasiswa. Hal tersebut tampak, tidak hanya dari beberapa peristiwa dan arena mahasiswa hidup, melainkan juga dorongan dari pihak lain. Hal tersebut yang sering menjadi dilema antara mahasiswa baru yang kaget dengan dinamika di perguruan tinggi dan terbukanya filter antara masyarakat dengan dunia remaja.

Unjuk Rasa dan Dilema Mahasiswa Baru

Sebagai mahasiswa baru, mereka tidak hanya dituntut belajar saja, melainkan memilih dari berbagai macam pilihan. Terlebih lagi jika sudah masuk ke lingkup pertemanan. Di perguruan tinggi, banyak sekali lingkup berdasarkan golongan sosial dan minat mahasiswa. Terkadang pilihan mahasiswa baru sulit berkembang dan mendobrak pemikiran yang sudah menjadi budaya mahasiswa lama.

Mahasiswa baru yang masuk ke dunia perkuliahan pasti ada pandangan bahwa mahasiswa itu harus pernah ikut demo sebagai salah satu bentuk perwakilan antara masyarakat dan pemerintah. Namun, hal tersebut terkadang menjadi jurang bagi mahasiswa baru dan  mahasiswa lama.

Pilihan-pilihan tersebut dapat dikatakan baik jika tidak ada persuasi pihak luar. Beberapa peristiwa demo besar seperti Gejayan Memanggil tahun 2019 lalu dan penolakan Omnibus Law tahun 2020 misalnya menjadi contoh yang baik. Demo #GejayanMemanggil merupakan salah satu bentuk momentum mahasiswa Yogyakarta turun ke jalan. Ada beberapa mahasiswa yang sadar, tapi ada beberapa mahasiswa yang ikut hanya karena hype sebagai mahasiswa serta dorongan teman-teman lain.

Hari Buruh 2021, yang bertepatan pula dengan bulan puasa serta masa pandemi perlu menjadi sebuah pemikiran dari sisi yang berbeda. Kita harus ingat demonstrasi secara perlahan harus dikurangi mengingat masih adanya pandemi covid 19. Bagi mahasiswa, ini merupakan saat yang tepat untuk memilih pilihan-pilihan yang baik dan lebih baik.

Pilihan tersebut perlu didasari, bukan dari hasil cuci otak dan propaganda golongan sosial tertentu, tapi berdasarkan semangat mahasiswa dan Tri dharma perguruan tinggi. Penting juga memahami kalau di depan mata tidak hanya satu, melainkan ada seribu jalan ke Roma. Banyak berbagai macam pilihan, dan semua pilihan baik adanya.

Tradisi unjuk rasa di Hari Buruh memang tiap tahunnya pasti diwarnai bentuk-bentuk demonstrasi. Ditambah lagi mulai diresmikannya Omnibus Law, pasti akan ada picuan demo besar-besaran di Hari Buruh. Walaupun May Day merupakan momen besar bagi buruh dan golongan pekerja. Mahasiswa dari berbagai macam latar belakang dan sudut pandangnya, turut merayakannya, bukan meminta kenaikan gaji tentu saja, melainkan bentuk perlawanan malpraktik kapitalisme di masa post-modern.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here