Waktu Baca: 4 menit

          Menikah untuk apa? Weits, jawabannya bermacam macam. Tidak ada jawaban tunggal. Tapi mungkin ada yang dengan iseng berkata : ‘biar gak ditanyain om dan tante melulu pas Lebaran. Yang lain berkata bahwa menikah itu ya beribadah. Kalau alasannya demikian, pasti sudah tidak bisa didebat lagi. Sebab, iman adalah masalah diri sendiri dan Tuhan.

Nah, artikel ini tidak akan memberimu inspirasi jawaban pertanyaan nyebelin itu. Tujuan artikel ini adalah untuk bikin kamu tambah galau. Iya, saya mau bikin kamu galau. Meski demikian, saya berharap galau ini bermanfaat.

Saya akan membahas berbagai jawaban alasan sebuah pernikahan. Kemudian saya akan memberikan counter argument yang membuatmu mikir. Mikir ini baik. Kenapa demikian? Sebagian besar orang tua ingin menikah sekali saja ‘kan? Betul tidak? Lebih baik galau dan mikir sekarang daripada mbesok kan.

Ya sudah, langsung saja, inilah jawaban menikah untuk apa dan pembahasannya:

Karena Cinta

            Inilah alasan klasik menikah untuk apa. Percayalah, ini alasan yang perlu dipikirkan kembali. Mengapa demikian? Karena untuk tahu kamu cinta apa enggak, itu perlu suatu proses yang lama. Apakah cinta kamu hanya cinta eros yang bertahan saat ini saja? Atau cinta kamu melebihi itu?

Cinta yang kuat memiliki tiga unsur: perhatian, percaya dan rasa hormat. Biasanya, tidak semua hubungan cinta tidak memiliki hal itu. Kalau kamu cowok dan menerapkan banyak aturan untuk cewekmu, kamu memiliki masalah. Dalam hubungan kamu, kamu mungkin punya rasa perhatian, tapi apakah ada rasa percaya dan hormat?

Bisa jadi kamu tidak menerapkan banyak aturan untuk cewekmu. Namun, kamu menganggap cewekmu tidak bisa apa apa tanpa kamu, itu artinya kamu tidak menghormati cewekmu.

Di lain kasus, pasanganmu berasal dari kalangan ekonomi yang di bawah kamu. Orang tua kamupun mencibir dan kamu terpengaruh. Lha terus menikah untuk apa? Tanpa rasa hormat, ada rasa dendam dan marah. Percayalah pernikahan tanpa rasa hormat tidak enak.

Demikian juga tidak ada rasa percaya. Kemungkinan pernikahan menjadi tidak nyaman karena rasa paranoid ada dimana mana. Cinta dalam bentuk perhatian saja tidak cukup, perlu ada kepercayaan dan rasa hormat.

Karena Orang Tua

            Jangan menikah karena orang tua. Nasib orang siapa yang tahu, tapi anggaplah semua berjalan alami. Kita anggap semua orang akan meninggal di usia 80 tahun. Orang tuamu berusia 60 tahun, kamu anggaplah 30 tahun.

Kamu menikah untuk orang tuamu. Kalau ditanya menikah untuk apa? Ya supaya orang tua bahagia. Okelah kamu menikah untuk orangtuamu. Eh ndilalah Ternyata masih banyak masalah di hubunganmu dan pasanganmu. 20 tahun kemudian orang tuamu meninggal. Kamu masih berumur 30 tahun dan masih ada 50 tahun lagi sampai kamu meninggal.

Orang tuamu sudah tidak bisa bertanggung jawab dan menolong kamu, kamu terjebak dalam kondisi seperti neraka. Mau seperti itu?

Demi Pasangan

            Ini alasan klasik, menikah karena pasangan sudah bosan datang sebagai bridesmaid. Pacarmu mungkin sudah kesal melihat teman temannya satu persatu sudah menjadi ibu. Obrolan mereka sudah gak nyambung dan pacarmu merasa ditinggalkan. Akhirnya pacar kamu menekan kamu untuk segera memberi kepastian. Kamu bilang, “ya udah”.

Jangan sampai itu terjadi padamu. Menikah adalah usaha berdua. Masing masing punya tanggung jawab untuk mewujudkan pernikahan terbaik. Sebelum menikah, pastikan diri masing masing sudah paham konsekuensi satu sama lain.

Lagipula, memaksakan pernikahan untuk pasangan menyebabkan pola hubungan tidak setara. Bahayanya, akan muncul rasa tidak saling menghormati dimana ini berdampak negatif kedepannya.

Demi Om dan Tante (Keluarga Besar)

Tentu ada pertanyaan besar kenapa om dan tante suka bertanya ‘kapan akan menikah?’. Pertanyaan ini sebenarnya lahir karena berbagai sebab. Tidak ada jawaban tunggal, beberapa akan saya jabarkan di sini.

Pertama, om dan tante merasa bahwa pernikahan adalah suatu milestones penting dalam hidup. Entah kenapa om, tante dan ayah ibu kita suka bersaing gak penting. Ya mungkin ini karena hobi kakek dan nenek yang suka mengadu anak. Ketika kamu belum menikah, mereka lega karena mereka ‘menang’ atau ‘masih menang’. Kalau anak mereka sudah menikah duluan, lebih senang lagi hati mereka.

Kedua, om dan tante tidak bahagia dengan pernikahan mereka. Mereka juga ingin kamu segera merasakannya. Apalagi mungkin dulu om dan tante menikah juga karena orang tua. Lalu orang tua mereka sudah meninggal sekarang, siapa mau bertanggung jawab?

Ketiga, om dan tantemu emang gak tahu aja mau nanya apa lagi. Makanya mereka nanya kapan kamu menikah. Aslinya ya mereka enggak peduli. Mereka cuma basa basi.

Pada Akhirnya…

            Percayalah bahwa konsep menikah dulu dan sekarang berbeda. Menikah adalah kewajiban di masa lampau. Dunia tidak aman dan hidup sendirian itu beresiko. Sehingga, meski si laki dan si perempuan tidak cocok, pernikahan itu tetap dipaksakan demi keamanan.

Ditambah lagi dahulu dunia selalu dalam keadaan perang. Nyawa manusia berakhir dengan cepat. Jika dulu pertanyaannya ngapain menikah, maka jawabannya untuk memastikan ras manusia tetap utuh.

Kini dunia lebih aman dan jumlah populasi manusia terus bertambah. Anda sudah tidak menanggung beban tanggung jawab untuk memastikan eksistensi manusia. Menikah bukanlah kewajiban, itu sebuah pilihan untuk kebaikan anda.

Jangan menikah demi orang lain. Orang lain tidak bisa bertanggung jawab pada pilihanmu. Kamulah yang merasakan dampak langsung dari pilihanmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here