Waktu Baca: 3 menit

Film berjudul “The Theory of Everything” yang mengangkat cerita mengenai kehidupan Stephen Hawking sebagai tokoh utama memiliki keterkaitan antara sains, agama, iman dan nalar. Hal tersebut menjadi fokus perhatian saya. Hal yang menarik bagi saya adalah ketika Stephen Hawking mengatakan bahwa menurut pandangan dia, penjelasan paling sederhana adalah tidak ada Allah. Bahwa tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan nasib kita. Hal tersebut membawa Stephen Hawking pada kesadaran yang mendalam. Mungkin saja tidak ada surga, dan juga tidak ada kehidupan setelah kematian.

Stephen Hawking mengatakan bahwa kita memiliki kehidupan satu ini untuk menghargai rancangan agung alam semesta, dan untuk itu Stephen Hawking berterima kasih. Menurut saya, Stephen Hawking mengatakan hal tersebut karena ia.sedang dalam proses mengembangkan teori asal muasal kehidupan dalam alam semesta. Selain itu, Stephen Hawking dikenal sebagai seorang ahli fisikawan yang tidak pernah membiarkan perhitungan sainsnya terpengaruh oleh kepercayaan-kepercayaan yang bersifat supernatural. Stephen Hawking yang adalah seorang ateis telah membuat dirinya sendiri masuk dalam suatu dunia yang dipikir secara logis dan objektif sehingga keberadaan Tuhan dalam kehidupan sebagai Sang Pencipta segala sesuatu menjadi dikaitkan pada penjelasan ilmiah yang berfokus pada asumsi dan persepsi pribadi. Menurut saya, asumsi dan persepsi pribadi tersebut sangat terbatas karena Sang Pencipta yang tak terbatas tersebut coba untuk dipikirkan dan ditelusuri dalam kapasitas otak yang sangat kecil dan terbatas. Otak kita manusia ibaratnya bagai batok kelapa yang kecil yang mencoba menampung luasnya air samudera yang merupakan misteri ilahi dalam alam semesta ini.

 

Tuhan itu ada atau tidak?

Stephen Hawking mengatakan bahwa seseorang tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Namun, sains menjadikan Allah tidak diperlukan. Ia menyebutkan bahwa hukum fisika dapat menjelaskan alam semesta tanpa membutuhkan Pencipta. Walau tak dapat dibuktikan secara ilmiah, namun nyatanya sudah banyak bukti yang menuturkan bahwa Tuhan itu ada. Salah satu bukti utama adalah adanya kisah yang tertulis dalam Kitab Suci. Selanjutnya mari kita telaah perkataan terkait sains yang menjadikan Allah tidak diperlukan. Menurut saya, perkataan tersebut dilontarkan karena adanya persepsi yang mengkaitkan iman yang didasari dengan keyakinan sains yang selalu memiliki pembuktian ilmiah. Sebenarnya hal tersebut tidak bisa dikaitkan satu sama lain karena hakikatnya sudah berbeda. Nah oleh sebab itu, saya menjadi memiliki persepsi bahwa alasan Stephen Hawking mengatakan hal tersebut adalah karena ia telah menyatukan persepsi antara iman dan sains, namun dalam persepsi kontra sehingga bertolak belakang.

Kemudian, saya mencoba mempelajari lebih lanjut terkait teori kuantum dan relativitas yang menyebutkan bahwa atom-atom penyusun seluruh makluk itu tidak memiliki struktur fisik yang dapat dibuktikan dari pengezooman. Substansi setiap material berasal dari kekosongan, begitu pula tubuh manusia dan makhluk lainnya. Hal tersebut menurut saya juga menjadi salah satu alasan mengapa Stephen Hawking mengatakan bahwa sains menjadikan Allah tidak diperlukan, karena semuanya adalah kekosongan.

Ketakutan Stephen Hawking

Stephen Hawking mengatakan bahwa ia tidak takut Allah namun ia takut pada orang-orang yang percaya kepadaNya. Menurut saya, Stephen Hawking mengatakan hal tersebut karena ia mampu melihat keberadaan manusia, dan menemui bahwa manusia yang percaya kepadaNya seringkali melakukan hal-hal gila yang seringkali didasari oleh pengakuan ‘saya melakukan ini atas dasar agama, sesuai perintahNya’, ‘saya lakukan agar saya hidup sesuai kehendakNya’, dan beragam kalimat pembelaan lainnya yang mengatasnamakan Allah atau agama. Contohnya saja, terorisme. Tindakan tersebut mampu menimbulkan efek negative berupa traumatis, kehilangan harta benda dan juga kehilangan nyawa. Nah, itu adalah contoh bahwa manusia yang percaya kepadaNya bisa saja bertindak brutal, kejam dan tak berkerikemanusiaan dengan beragam pembelaan sesuai apa yang diyakini.

 

Percaya untuk Memahami dan Memahami untuk Percaya

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan perkataan dari Paus Yohanes Paulus II yang mengatakan bahwa ia ‘percaya untuk memahami, dan memahami untuk percaya’. Menurut saya, maksud dari kata-kata Paus tersebut adalah semua dimulai dari adanya dasar yang membuat seseorang percaya, kepercayaan tersebut lahir dari adanya keyakinan yang berbuah menjadi iman. Ketika seseorang sudah mengimani sesuatu, maka ada dorongan untuk memahami. Dan semakin kita memahami suatu hal maka kepercayaan kita akan menjadi semakin berkembang, iman kita akan semakin berkembang. Proses tersebut merupakan proses jatuh bangun karena sifat dasar manusia yang mudah jatuh dalam dosa. Namun, saya meyakini bahwa dasar dari segala hal adalah iman akan Allah yang berbuah dalam seluruh tindakan yang kita lakukan. Proses percaya dan memahami merupakan 2 proses yang saling terkait satu sama lain. Seringkali pemahaman kita membuat kita menjadi percaya, begitupun sebaliknya kepercayaan kita membuat kita menjadi paham.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here