Waktu Baca: 3 menit

Bagi kalian yang sering ke warung burjo-indomie dan sekitarnya, pasti sering bertemu dengan menu khas ini. Mie dok dok enak adalah sahabat kita semua.

Sebagai mahasiswa Jogja, mie dok dok enak merupakan makanan yang ngangenin. Mie dok dok ini begitu berkesan karena harganya yang ramah bagi dompet mahasiswa serta rasanya enak. Terlebih lagi jika makan saat cuaca dingin atau hujan. Mie dok dok enak langsung memerankan diri sebagai bentuk penghangat tubuh melebihi api perapiannya bule bule. Terlebih dengan harga di kisaran Rp10.000,00—Rp15.000,00, mahasiswa jelas bisa menjangkau mie dok dok.

Asal Mula Mie Dok Dok

Masyarakat awal Jawa menyebut mie dok dok dengan sebutan sekarang ini bukan karena bunyi orang yang berjualan dengan gerobak. Memang, ada mitos nama mie dok dok berasal dari suara penjual yang suka memukul mukul batang bambu saat menjajakan jualannya. Dulu memang mie dok dok tidak dijual di warmindo. Biasanya mie dok dok dijajakan dengan gerobak.

Asal mulanya, mie dok dok berasal dari penyebutan mie rebus dalam bahasa Jawa: Mie Godhog. Kenapa? Ya karena mereka mirip mirip itu.

Berdasar penelusuran saya, campuran mie dok dok yang paten terdiri dari sayuran, telur, irisan cabai, dan terkadang ada topping tambahan seperti daging, sosis, ayam, krupuk, dan sebagainya. Asalnya dari Kuningan Jawa Barat. Campuran ini membuat mie dok dok tambah istimewa.

Mie Goreng yang Direbus
Kalau ini mie goreng beneran

Bagi kalian yang mendengarnya pasti merasa aneh. Mi dok dok di warmindo daerah Jogja selalu menggunakan bahan baku utama mie instan goreng. Dan jangan salah sangka, rasanya enak banget.

Cara masaknya pun berbeda dengan cara kita masak mie instan. Biasanya pasti kita masak mie instan ngikut dengan tahap-tahap yang ada di belakang bungkusnya. Kalau mie dok dok enggak.

Ini menu memang aneh. Tukang masak akan memasak mie ini dengan kuah yang berlimpah ruah. Jadi mie goreng ini malah berubah wujud menjadi mie rebus. Ya begitulah.

Namun mie dok dok ini berbeda dengan mie nyemek ya. Bedanya ada pada penyajian dan cara masaknya. Saat tukang masak menyajikan mie dok dok mereka menambah banyak kuah. Sementara itu mie nyemek hanya sekedar ‘basah’ saja.

Perdebatan di Kalangan Pecinta Mie Instan
endes banget nieh mie

Namun naiknya popularitas mie dok dok di kalangan mahasiswa justru menimbulkan banyak perdebatan bagi kalangan pecinta mie instan. Mengapa? karena mereka tidak setuju cara memasak mie goreng layaknya mie rebus.

Tidak sedikit pula yang nyinyir ketika ada yang memasak mie instan dengan cara yang melanggar kelaziman. Alasannya untuk menjaga orisinalitas rasa dari mie instan. Terlebih lagi bagi orang yang benar-benar strict. Mereka mempercayai fakta bahwa mie goreng yang bertransformasi menjadi mie rebus rasanya tidak pas.

Namun, pencipta mie dok dok tidak mengubah asal-asalan dalam merombak keistimewaan mie instan. Ada sentuhan seni dan kreasi di situ.

Fenomena mie dok dok adalah salah satu bentuk perpaduan kuliner antarbudaya di kalangan anak-anak muda dan dunia kuliner. Kok bisa sih?Mari kita Mengingat kembali asal-usul, mie dok dok ada bukan semata-mata mie godhog jawa dengan mie goreng instan aja, melainkan juga ada cita rasa Jawa Barat di dalam mie dok dok.

Mie dok dok adalah sebuah perkembangan cita rasa.  Mie ini menawarkan inovasi dari bahan-bahan yang mudah didapat mahasiswa. Kita bisa membuatnya dengan sangat mudah. Bahkan ketika masak sendiri pun, kita dapat menambah variasi dan cita rasa baru yang sesuai dengan lidah kita. Jayalah mie dok dok enak.

sumber foto :@hariandapur

Sianna Kaur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here