Waktu Baca: 4 menit

Indonesia adalah negara bekas kolonialisme Belanda yang dapat bangkit dari pengaruh kolonialisme dan kekuasaan Belanda. Tetapi pengaruh tersebut tidak hanya membekas bagi masyarakat pribumi saja, melainkan pula orang-orang Belanda yang lahir di tanah Hindia-Belanda. Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Belanda yang lahir dan besar di Indonesia ditolak sebagai orang Indonesia dan dipaksanya mereka pulang ke negara asal, serta neo-kolonialisme pasca-kemerdekaan. Orang Belanda pun ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Kisah ini diangkat dalam sebuah cerpen “Selamat Tinggal Hindia”, karya Iksaka Banu. Cerpen ini mengisahkan tentang kisah Martin, wartawan Belanda yang kembali ke Batavia bersama Jan untuk meliput kondisi orang-orang Belanda yang telah bebas dari kamp konsentrasi Jepang pasca kemerdekaan Republik Indonesia dan menyerahnya tentara Jepang di Indonesia dan mencari keberadaan Geertje. Dalam perjalanannya, ia melihat banyak sekali pembantaian dan kebencian pribumi pada orang Eropa. Ketika mereka sampai di kamp konsentrasi Jepang, Martin bertemu dengan Geertje yang tidak ikut naik ke truk evakuasi, melainkan kembali ke rumahnya di Gunung Sahari. Karena kecemasannya itulah, Martin mengantarkan Geertje kembali pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, Geertje senang dapat bertemu dengan Iyah, pengurus dan penjaga rumahnya. Setelah mengetahui bahwa ibunya telah meninggal serta dikirimnya ayah dan kakaknya ke Burma, Geertje tetap memilih menetap di rumahnya. Berbulan-bulan setelah mereka tidak berjumpa, Martin mendapatkan kabar bahwa rumah Geertje diserbu, Martin langsung bergegas ke rumah tersebut. Di sana ia melihat rumah tersebut diperiksa oleh Sersan Zwart, dan mengatakan bahwa rumah tersebut merupakan target Belanda karena tempat itu merupakan salah satu yang menampung propaganda anti-NICA. Di saat itulah, Martin mulai menelusuri rumah dan masuk ke bunker. Di kaca wastafel itu, tertulis “Selamat tinggal Hindia-Belanda. Selamat datang Republik Indonesia”.

Latar Belakang

Kisah ini berlatar belakang pada masa pasca kemerdekaan Indonesia. Di masa tersebut pula, Tentara Jepang mulai menarik diri yang disebabkan karena kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Kejadian tersebut diikuti dengan pengevakuasian orang-orang Belanda oleh KNIL dan tentara sekutu dan mengantarnya kembali ke Belanda. Hal tersebut juga diikuti dengan peristiwa pembantaian ribuan orang Eropa-Belanda dan orang-orang yang dikira pro-Belanda. Serta, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang mengakibatkan adanya Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948) yang salah satunya merupakan upaya mengembalikan Indonesia pada pemerintahan Hindia-Belanda dan melawan tentara pemberontak NICA. Di masa itu juga, masyarakat pribumi mulai menunjukkan nasionalismenya pasca proklamasi kemerdekaan (1945).

Pembagian Peran

Di cerpen ini tampak adanya 3 hasil kolonialisme Belanda, yakni (1) mimikri pejuang dan laskar pribumi, (2) ambivalensi Martin, serta (3) hibriditas Geertje. Mimikri tersebut sangat tampak dari awal cerpen ketika martin dan Jan diberhentikan oleh laskar karena mereka disebut bule, yakni sebutan kasar bagi orang kulit putih oleh orang pribumi. Kebencian laskar di sini menyebabkan adanya sifat mencontoh tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang Eropa pada mereka. Pada pasca kemerdekaan, propaganda anti-Belanda sangat kuat dan bentuk-bentuk perlawanan dan kebencian pribumi diutarakan oleh oleh bangsa Eropa. Mereka meniru tindakan yang pernah dilakukan oleh Belanda, yakni dominasi. Pada bagian ini, pribumi meniru dan memutarbalikkan keadaan bahwa yang dominan pada saat itu bukanlah Belanda, melainkan pribumi. Dan bahkan, dominasi tersebutlah yang menyebabkan kebencian yang berakibat pada pembantaian orang-orang Eropa dan pro-Belanda tersebut.

Ambivalensi tersebut tampak pada Martin yang tampak ketika ia mulai mengkhawatirkan Geertje, perempuan Belanda yang pernah ia temui. Martin sebagai jurnalis melihat bahwa peristiwa dan bukti-bukti jurnalis yang menunjukkan bahwa orang-orang Belanda dibantai habis-habisan memunculkan ketakutan. Ketakutan tersebut didukung dengan kehadiran tokoh Geertje. Martin dikisahkan memiliki perasaan pada Geertje, dan tidak ingin Geertje mati di tangan pribumi. Di sini, muncul adanya inferioritas orang Belanda pada bangsa yang ia jajah.

Identitas Indo-Belanda

Di sisi lain, lahirlah identitas baru yang direpresentasikan di kehadiran Geertje. Ia merupakan perempuan Belanda asli, yang lahir, besar, dan hidup di Batavia. Ia juga merupakan guru sekolah pribumi. Hal tersebut yang menyebabkan adanya kedekatan batin antara dirinya sebagai Belanda dan pribumi. Kesadaran tersebut semakin dibentuk dengan kerasnya semasa ia masuk di kamp konsentrasi Jepang. Di tempat tersebut, ia banyak belajar akan bentuk-bentuk mimikri orang pribumi yang mendominasi mereka serta kehilangan hak khusus ia sebagai keturunan Belanda. Keningratan ia hilang di kamp konsentrasi.

Namun, karena peristiwa itulah yang menyebabkan ia bereinkarnasi menjadi pribadi yang baru, pribadi yang hibrid, yang tidak melihat identitas ras unggul dan rendah. Hal tersebut tampak dari perjuangan Geertje yang menolak kembali ke Belanda karena tanah ia dibesarkan dan diterima adalah Hindia-Belanda, dan ia memperjuangkan posisinya dari bujukan Martin yang khawatir akan keselamatannya. Bentuk-bentuk hibrid Geertje tampak dari kedekatannya dengan lagu daerah “Si Patoka’an” ketika ia memainkan piano, dan turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan membuat propaganda anti-NICA.

Hibriditas Geertje itulah yang akhirnya mendorong tokoh Martin di akhir cerita ketika melihat rumah Geertje yang berisi propaganda anti-NICA. Pada bagian akhir, Martin melihat cermin yang bertuliskan “Selamat tinggal Hindia-Belanda. Selamat datang Repoeblik Indonesia” yang menunjukkan bahwa Geertje, walaupun ia berdarah dan leluhurnya merupakan Belanda, ia tahu di mana ia berpijak dan di mana ibu pertiwinya.

Kesadaran itulah yang perlahan merubah paradigma Martin yang membenci pribumi dan pemberontakan yang mereka lakukan menjadi masuk ke dalam jati diri Geertje. Hal tersebut tampak dari bentuk perjuangan Martin di akhir yang menghilangkan istilah propaganda. Akhir tersebut sangat kuat, karena dengan menghilangkan istilah propaganda berarti ia akhirnya mengakui bahwa runtuhnya Hindia-Belanda bukanlah akhir, melainkan awal baru bagi Republik Indonesia di tanah ibu pertiwi.

Kisah Martin dan Geertje merupakan latar belakang dan gejolak pemerintahan Hindia-Belanda yang perlahan mulai tergantikan oleh Republik Indonesia. Dalam cerita ini, ditunjukkan fakta-fakta sejarah bahwa hasil kolonialisme Belanda justru tidak berakibat negatif pada masyarakat pribumi, melainkan pula bagi masyarakat Belanda. Banyak gerakan-gerakan anti-Belanda yang muncul karena pribumi meniru, dan ketika adanya kesempatan mereka mendominasi balik Belanda.

Pada masa tersebut pula, muncul ambivalensi antara dua pihak yang memperdebatkan keberadaan Hindia-Belanda ke depannya dan Indonesia. Bentuk-bentuk ambivalensi ini juga muncul dari Martin yang memiliki kekhawatiran pada Geertje. Namun, tidak hanya kekacauan, tetapi kolonialisme Belanda juga menciptakan harmoni baru yang tampak pada Geertje yang menganggap bahwa Hindia-Belanda, tempat ia dibesarkan akan berganti menjadi negara baru yakni Republik Indonesia. Kedekatan itu tidak membuatnya apatis, melainkan justru melahirkan semangat dan kesadaran baru bahwa tanah air tempat ia hidup tidak hanya pada orang pribumi, melainkan pula pada orang yang turut berjuang bersama melawan segala bentuk penjajah dan hegemoni kekuasaan yang mengintervensi identitas mereka.

 

(bagi yang tertarik, bisa baca cerpennya di lakonhidup.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here