Waktu Baca: 4 menit

Banyak orang bertanya ‘Pandemi berakhir kapan’ pada hari hari ini. Hal ini tidak mengherankan karena kita sudah dua tahun hidup bersama pandemi ini. Beberapa orang terdekat kita menjadi korbannya. Beberapa tokoh terkenal meninggal mengejutkan karena pandemi ini.

Tapi untuk saat ini, jangankan bertanya ‘Pandemi berakhir kapan’, kondisi makin tak menentu. Di India misalnya, muncul mutasi virus baru. Pun demikian di Inggris. Di India kondisi malah lebih mengerikan. Badai tsunami Korona telah menewaskan banyak orang di sana hanya dalam tempo pendek.

Sungguh Korona itu mengerikan, beberapa rekan kita bahkan tak bisa bertanya pandemi berakhir kapan. Kenapa demikian? Mereka tidak bisa melihat akhir pandemi karena mereka meninggal akibat virus Korona. Jika dulu kita masih melihat hanya orang asing yang meninggal, kini tidak. Saya adalah salah seorang yang melihat beberapa teman dan rekan yang meninggal akibat virus ini.

Bagaimana akhir pandemi virus Korona ini? Tidak ada salahnya jika kita melihat apa yang terjadi di film.

Outbreak, Pandemi Berakhir Lewat Serangan Militer

            Dalam film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman ini, pemerintah tak yakin pandemi berakhir kapan. Merekapun memilih opsi militer. Mereka lalu berencana menyerang kota yang diduga sebagai pusat pandemi, Cedar Creek.

Belakangan baru diketahui bahwa virus ini adalah hasil konspirasi pemerintah. Salah satu petinggi militer Amerika Serikat ingin menggunakan virus ini sebagai senjata biologi. Sam Daniels si tokoh utama mencoba menghentikan konspirasi ini.

Pada akhirnya, ia berhasil melakukan keduanya: menghentikan konspirasi pemerintah dan menemukan antigen virus ini. Cedar Creek tidak jadi diserang. Warga Cedar Creek bernapas lega. Sam Daniel menjadi pahlawan.

Inferno, Pandemi Berhasil Dihentikan, Tapi…

            Dalam film Inferno, pandemi berhasil dihentikan. Bahkan masyarakat tak perlu bertanya pandemi berakhir kapan. Pasalnya, dalam film itu memang pandemi tidak terjadi. Si penyebar pandemi bisa ditangkap. Ia langsung mendapat ganjaran dari perbuatannya. Namun, apakah kebaikan menang?

Jujur, itu ‘kan di versi film. Di versi buku yang menjadi inspirasi film ini, pandemi terjadi. Tokoh antagonis berhasil menyebar virus. Namun, berita baiknya, pandemi ternyata memang harus terjadi. Dalam karya yang mengusik sisi dilema moral kita ini, kita bertanya tanya.

Ternyata, si penyebar virus khawatir dengan pertumbuhan populasi manusia. Kita semua ingat dengan teori Malthus. Menurut Malthus, pertumbuhan manusia melampui pertumbuhan pasokan makanan. Jika dibiarkan, bencana kelaparan akan terjadi.

Dalam film Inferno, si tokoh antagonis menemukan rumus tepat agar tak ada bencana kelaparan. Caranya, menurut dia, adalah dengan memusnahkan 1/3 umat manusia. Virus yang dia buat memilik efek random dan hanya 1/3 orang akan meninggal.

Hebatnya, si tokoh antagonis mendesain virus yang ‘keren’. Efek virus ini ternyata cuma membuat mandul. Dalam cerita Inferno, akan ada 1/3 populasi manusia yang mandul. Hal ini membuat pengontrolan populasi manusia bisa terjadi tanpa harus ada kematian masal.

Lebih mengagumkan lagi, tak ada yang menyangka virus menjadi penyebab kemandulan. Jadi, warga dunia dalam Inferno bahkan tak tahu pandemi sedang terjadi.

Contagion, Pandemi Berakhir Via Vaksin
courtesey : kianoush

            Agak seram bicara soal film ini. Mengapa? Karena film ini memiliki skenario yang sama dengan pandemi Korona. Konon, film ini banyak ditonton ulang selama pandemi. Karena skenarionya mirip, mungkin kita bisa belajar banyak. Film ini bisa jadi menjawab pertanyaan pandemi berakhir kapan dengan akurat.

Dalam film ini, pandemi berakhir dengan penemuan vaksin. Tapi, dunia tak lagi sama paska pandemi. Di balik pandemi ini, banyak kepentingan kapitalis dan negara tertentu. Agak menakutkan karena mungkin inilah yang kita alami. Seperti kata Bill Gates, kita tidak siap.

Penanganan pandemi hari hari ini terlihat mengkhawatirkan. Dari level negara hingga individu belum bekerja secara kolektif. Rasa urgen akan bahaya tidak nampak. Malah ada kecenderungan meremehkan virus ini. Ada pula beberapa negara yang lebih mengutamakan kepentingannya. Hal ini mempersulit upaya menghentikan pandemi virus korona.

Cabin Fever, Special Mentioned
pandemi bisa dari mana saja

Dalam film Cabin Fever, pandemi bahkan belum terjadi. Justru pandemi baru dimulai jelang akhir film. Namun saya ingin membahas film ini. Menurut saya, boro boro bertanya pandemi berakhir kapan, masyarakat dunia sudah keburu banyak yang mati dalam film ini. Bagaimana tidak? Virus dalam film Cabin Fever kelewat ganas.

Saya membayangkan, bagaimana jika suatu hari virus Cabin Fever ini menyerang kita? Korona mengerikan, ya. Tapi, kita masih menemukan banyak celah untuk menghadapi Korona.

Kita harus memikirkan, bagaimana jika suatu hari kita tak memiliki kemewahan ini lagi? Apakah yang akan terjadi jika virus yang kita hadapi mudah tersebar? Lalu, tindakan apa jika mortality rate virus ini tinggi? Apa kita masih bisa bersikap seperti hari ini?

 

Fungsionalisme di Era Pandemi

            Tiba tiba saja semua mazhab ekonomi seakan tak berguna. Tiba tiba saja keegoisan kelompok dalam dalih nasionalisme menjadi sia sia. Bahkan, bisa jadi dipandang sebagai sebuah sikap egois dan mau menang sendiri.

Siapa yang tahu ‘Pandemi berakhir kapan’? Manusia sendiri yang tahu. Banyak pandemi, seperti dalam film dan bahkan kehidupan nyata, tidak menghilang karena manusia sendiri. Manusia harus bersama menghadapi pandemi. Kolektivitas adalah hal krusial.

Jangan lagi bicara soal pentingnya menjaga ekonomi atau ideologi politis tertentu. Mencari apapun yang bisa berfungsi adalah hal terpenting. Saya bukan ahli pandemi. Akan tetapi, sudah terbukti persatuan menyelesaikan krisis lebih cepat.

Sedihnya, bahkan di tahun kedua pandemi, egoisme itu masih ada saja dan bertahan. Pandemi berakhir kapan bukan lagi pertanyaan urgent. Kapan kita bersatu jauh lebih penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here