Waktu Baca: 4 menit

Entah bagaimana caranya, tapi sejak Pep Guardiola muda, ia selalu benar. Yang terbaru dia berhasil membawa Manchester City mengangkangi Paris Saint Germain dan menantang Chelsea di final.

            Bagi pelatih sepak bola, dipecat adalah hal biasa. Hampir tak ada pelatih sepak bola di dunia yang tidak pernah dipecat. Karena itulah, jika anda bertahun tahun menjadi pelatih sepak bola dan tidak pernah dipecat, apalagi anda melatih tim besar Eropa, pasti ada yang istimewa soal anda. Nah, itulah Pep Guardiola. Ia menjadi satu satunya pelatih yang tidak pernah dipecat. Sejak Pep Guardiola muda, ia sudah istimewa.

Konon sejak Pep Guardiola muda,ia sudah menjadi salah satu pelatih dengan ‘kemewahan’ hidup yang luar biasa. Bagaimana tidak? Saat mulai melatih pertama kali, ia langsung mendapatkan kesempatan untuk melatih tim sekelas Barcelona dengan trio Ronaldinho, Henry dan Eto’o. Belakangan dia malah menendang nama pertama ke AC Milan dan tidak terlalu menggunakan jasa dua nama yang terakhir. Ia malah memilih memakai jasa seorang anak pendek bernama Lionel Messi. Ndilalah pilihannya tidak salah. Di musim pertamanya di Barcelona, Guardiola mendapatkan sextuple alias enam gelar sekaligus.

Guardiola si mudah juara

Beres dari Barcelona. Ia rehat rehat sejenak dan pergi ke Bayern Munich. Di sana dia juara lagi dan secara lumayan mencapai dua semi-final Liga Champions. Saat keluar, lagi lagi dia keluar baik baik dan langsung diterima oleh tim kaya Manchester City. Di sana, kecuali musim pertama, Pep Guardiola selalu panen juara. Nah, tahun ini dia berhasil mencapai final Liga Champions Eropa. Dahsyat. Kemungkinan besar ia akan menutup musim ini dengan treble. Banyak pelatih pasti iri dengan pencapaian Guardiola. Mana ada pelatih semacam Pep Guardiola muda sampai tua tetap jago begini? Sudah timnya bagus bagus, juara terus, kurang apa coba?

Misteri Kelebihan Pep Guardiola Muda

Apa kelebihan Guardiola sebenarnya? Jawabannya, Guardiola selalu benar! Halah, kok bisa?

Ya, keputusan yang diambil Guardiola selalu benar. Di penghujung karirnya, Pep Guardiola muda memilih bermain di klub Liga 2 Mexico, Dorados de Sinaloa. Sudah Liga 2, Mexico pula, ada apa sebenarnya? Padahal jika saat itu mau, Guardiola masih bisalaah bermain di Timur Tengah. Kalaupun dia mau main di Liga 2, kan masih ada Liga 2 Spanyol? Usut punya usut,ternyata Guardiola pengen kursus kepelatihan dari pelatih Juan Manuel Lillo alias Juanma yang saat itu bertugas di sana.

Tentu banyak yang mencibir Guardiola. Apalagi di sana Guardiola cuma main sepuluh kali dan sempat merasakan degradasi. Tapi ternyata, Guardiola benar! Begitu selesai mudik dari Dorados dan melatih Barcelona B, dia langsung juara. Ternyata mengambil kursus dari Juanma ini manfaatnya besar. Guardiola jadi tahu banyak sehingga ia sangat siap untuk menjadi pelatih saat pulang dari Mexico. Semusim kemudian dia ditawari melatih Barcelona senior dan sisanya adalah sejarah.

Guardiola ini kenapa ya selalu benar? Apa penjelasan ilmiahnya? Jujur, jawabannya adalah kita semua terjebak dalam ilusi bahwa Guardiola selalu benar. Mana ada orang yang tidak bisa salah, iya ‘kan?

Jadi pasti kalian akan mulai ngedumel. Lho gimana tho katanya Guardiola selalu benar? Begitu ucap kalian. Sebenarnya begini kawan kawan, kita semua terperangkap pada ilusi Guardiola selalu benar karena memang di semua keputusan besar dia hampir selalu benar sehingga kesannya dia tidak pernah salah. Padahal ya ada banyak kesalahan kesalahan kecil yang dibuatnya. Tapi, kesalahan kecil itu bisa ditutupi dengan ‘keberhasilan besar’ yang ia raih. Nah, inilah yang akan kita bahas.

Kelebihan Guardiola adalah dia ini seseorang yang sudah jarang. Dia memiliki tradisi dan kebiasaan yang sudah banyak ditinggalkan. Singkat cerita, Guardiola bisa dibilang sebagai filsuf kehidupan dan sepak bola. Ia adalah seorang yang pendiam dan irit bicara. Sesuatu yang kerap membuat dirinya di cap tidak punya kecakapan komunikasi yang baik oleh mantan pemainnya seperti Zlatan Ibrahimovic dan Yaya Toure. Padahal dalam diamnya, Guardiola banyak berpikir dan merenungkan keadaan. Konon, saat di Mexicopun, hobi Guardiola adalah nongkrong di café  berjam jam untuk menulis dan berpikir.

Salah satu prediksi tepat Guardiola

Namun, Guardiola bukan sad boy ya kawan kawan. Ketika dirinya harus bertindak, ia bisa memilih kata kata yang tepat dan gerakan yang pas. Hal inilah yang membuat dirinya hampir selalu berhasil dalam pekerjaannya sebagai pelatih. Si pemikir ini punya proses decision making yang hebat.

Lalu, bagaimana ketika dia salah? Inilah mungkin yang membedakan antara Mourinho, saingannya, dan Guardiola. Jika Mourinho kadang tidak tahan untuk menyalahkan keadaan, Guardiola lebih kalem dan lebih memilih berpikir. Berpikir seperti sudah menjadi ritualnya sehari hari, setara dengan mandi dan gosok gigi. Guardiola pernah salah ketika ia membeli pemain semahal Zlatan Ibrahimovic tapi gak kepake di Barcelona. Guardiola juga pernah salah merekrut kiper bernama Claudio Bravo yang performanya hampir membuat dia dipecat. Tapi Guardiola itu memilih kalem dan berpikir dibandingkan harus koar sana koar sini. Menurutnya koar koar tidak penting, yang penting solusi dan hasil.

Tak cuma berpikir soal dirinya sendiri, Guardiola juga banyak berpikir mengenai sekitarnya dan mengambil inspirasi dari sekitarnya. Dan lagi lagi, hampir semua kata katanya benar, ia tidak asal nyeplos saja. Ketika ia melihat pelatih senior dengan karir dominan di Serie B dan C bernama Maurizzio Sarri, ia  berani berkata bahwa pelatih ini akan sukses setelah hanya satu kali menghadapinya dalam pertandingan. Nyatanya Sarri setelah itu menggendong Uefa Europa League dan Serie A Italia. Ketika ia memuji Arteta dan meyakini Arteta bisa membawa pulang piala di Arsenal, nyatanya Arteta benar benar pulang membawa piala FA. Nah, salah satu pendapatnya yang paling benar dan mungkin disesali petinggi Bayern Munich adalah saat Guardiola resign. Saat itu Guardiola mengatakan bahwa pelatih penggantinya haruslah Thomas Tuchel. Bayern tidak mendengarkannya. Sisanya adalah sejarah, Bayern yang lebih memilih Carlo Ancelotti terpaksa harus memecat pelatih itu kurang dari dua musim. Sementara itu, kini Tuchel sedang jaya jayanya dan menikmati final Liga Champions keduanya secara berturut turut.

Itulah Guardiola, si filsuf dan pemikir. Seseorang yang banyak diam dan berpikir. Tapi sekalinya bergerak, ia langsung menciptakan prestasi mengagumkan. Guardiola ini bisa dibilang hampir bukan manusia. Ia jarang reaktif dan melakukan semuanya sesuai porsinya. Pada akhirnya, bukanlah banyak tindakan yang diambil namun bagaimana tindakan yang kecil bisa berfungsi dengan tepat.

 

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here