Waktu Baca: 4 menit

 

Ada perasaan resah ketika melihat rak buku saya di rumah dan masih banyak yang belum saya lakukan Dalam kesempatan ini, saya membagikan sebagian kecil buku-buku yang telah saya baca. Ketika menuliskannya, saya memutuskan untuk menggabungkan ide tentang buku-buku  tersebut dengan tema Hari Kartini dan hari Buku Sedunia yang diperingati pada tanggal 21 April dan 23 April. Meskipun sudah lewat, ternyata melihat kembali gambaran dan karakter perempuan dalam buku merupakan hal yang menarik untuk dilakukan. Beberapa buku-buku di bawah ini merupakan bukti dan paparan bagaimana perempuan-perempuan digambarkan dan diceritakan dari beberapa budaya dan negara-negara dunia.

 

  1. Tarian Bumi – Oka Rusmini

Dalam novel Tarian Bumi, kita akan bertemu tiga tokoh perempuan dari tiga generasi yang berbeda. Novel ini bercerita tentang telaga, seorang putri Brahmana, yang hidup di antara dua perempuan beda generasi dan kasta. Neneknya, Ida Ayu Sagra Pidada, merupakan seorang putri Brahmana yang sangat taat pada adat istiadat dan budaya leluhurnya. Akan tetapi, Sagra harus menelan kekecewaan ketika anak laki-laki semata wayangnya, Ida Bagus Ngurah Pidada meminang Ni Luh Sekar. Ni Luh Sekar merupakan seorang perempuan Sudra yang berambisi untuk menjadi penari tercantik dan dinikahi oleh seorang Brahmana. Namun, setelah dinikahi oleh Ida Bagus Ngurah Pidada, hidup Niluh Sekar pun tidak berubah menjadi lebih baik.

 

Dalam novel ini, Telaga merupakan tokoh yang berada di antara nenek dan ibunya yang membuatnya jadi serba salah. Sagra Pidada yang notabene adalah putri Brahmana, selalu mengatakan pada Sekar agar tidak mudah mendengarkan nasehat Sekar, begitu pula sebaliknya. Di sisi lain, Sekar sebagai ibu Telaga meminta anaknya untuk meneruskan mimpi-mimpinya menajdi penari terbaik, tercantik, dan menikah dengan laki-laki Brahmana. Masalah kemudian datang ketika Telaga jatuh hati pada pria Sudra. Telaga harus memilih salah satu di antara takdir yang ia buat atau hidup yang harus ia pertaruhkan.

 

Novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga dengan alur cerita maju-mundur. Meskipun cerita didominasi oleh Sagra, Sekar, dan Telaga, kita juga akan menjumpai beberapa tokoh perempuan lainnya yang berkontribusi dalam perjalanan hidup mereka. Novel ini banyak menggambarkan serta mengkritik budaya bali yang berhubungan dengan kasta, khususnya pernikahan dari sudut pandang perempuan. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini merupakan perempuan yang menomorduakan dirinya demi kepentingan agama dan budaya. Namun, di sisi lain, mereka juga berusaha melawan aturan-aturan yang berlaku.

 

  1. Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 – Cho Nam-Joo

Novel ini menceritakan kisah hidup Kim Ji-Yeong, seorang perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana di Korea Selatan. Pada masa itu, keluarga Korea akan lebih senang ketika memiliki anak laki-laki. Sebaliknya, kelahiran anak perempuan dianggap sebagai sesuatu yang kurang menguntungkan.

Sejak kecil, Ji-Yeong dan kakaknya harus bekerja dan membantu pekerjaan rumah. Sedangkan adik bungsu laki-laki mereka diistimewakan dan terbebas dari pekerjaan-pekerjaan tersebut. Sepanjang perjalanan hidup Ji-Yeong, ia telah banyak melihat kesenjangan gender, praktik misoginis, dan penindasan institusional.

Bahkan ketika Ji-Yeong menikah, ia masih harus menanggung berbagai tugas dan beban moral sebagai perempuan. Pergulatan tentang hal-hal yang menyangkut diskriminasi gender, perlakuan berbeda, dan lain sebagainya seolah telah mengakar dalam dirinya. Hingga suatu waktu, Ji-Yeong berubah hingga ia tak mengenali dirinya sendiri.

Novel ini sedikit banyak membagikan pandangan tentang apa yang sebenarnya dirasakan oleh perempuan Korea – bahkan mungkin di Indonesia. Bahwa setiap perempuan sebenarnya memiliki keinginan dan mimpinya sendiri, meski sering kali terbentur oleh hal-hal lain yang perlu diprioritaskan. Kisah Kim Ji-Yeong, seperti cermin bagi banyak perempuan yang hidup dalam budaya patriarki yang kental.

 

  1. Memoirs of A Geisha – Arthur Golden

Ini adalah kisah Sayuri yang bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929. Ia adalah seorang anak perempuan berusia sembilan tahun dengan mata biru kelabu yang luar biasa. Karena suatu hal, ia kemudian dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Namun, Sayuri yang tidak tahan dengan kehidupan di rumah tersebut, memutuskan untuk melarikan diri. Ketika meratapi nasibnya di pinggir Sungai Shirakawa, ia bertemu dengan Iwamura Ken. Laki-laki itu kemudian menghibur Sayuri. Sejak pertemuan itu, Sayuri bertekadi untuk menjadi geisha, untuk bertemu kembali dengan laki-laki itu.

Melalui Sayuri, kita sedikit banyak menyaksikan suka duka wanita yang mempelajari seni geisha yang berat; menari dan menyanyi, memakai kimono, make up tebal, dandanan rambut yang rumit, menuang sake dengan cara sesensual mungkin, hingga bersaing dengan sesama geisha untuk memperebutkan pria-pria dan kekayaan mereka.

Buku ini mengajak kita untuk memasuki dunia geisha yang penuh rahasia. Bukan hanya seorang yang menampilkan diri sebaik dan semenarik mungkin, keperawanaan yang dilelang, hingga berlatih untuk memikat laki-laki yang paling berkuasa. Geisha adalah seorang seniman, bukan pelacur seperti kebanyakan pandangan orang-orang awam.

 

  1. I Am Malala: The Story of the Girl Who Stood Up for Education and was Shot by the Taliban – Malala Yousafzai dan Christina Lamb

Malala merupakan seorang gadis yang lahir dalam sebuah keluarga sederhana di Pakistan. Malala lahir ketika situasi politik negaranya penuh suap, keamanan yang tak terjamin, propaganda, militan, hingga dibanyang-bayangi kelompok Taliban. Namun, ayah dan ibunya selalu berpesan kepada Malala agar menjadi perempuan yang berani, mandiri, dan berpendidikan.

Buku ini merupakan autobiografinya yang menceritakan kekejaman Taliban yang menyerangnya pada suatu hari saat pulang sekolah. Malala menjadi korban kekejaman Taliban dengan luka tembak di kepala dan lehernya dalam upaya pembunuhan oleh kelompok bersenjata Taliban. Ia sempat dibawa di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham.

 

Dalam suatu halaman, kita dapat melihat bahwa Malala merupakan seorang yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan bagi setiap anak di sekitarnya. Kedamaian di setiap rumah, setiap jalanan, setiap desa, setiap negeri – inilah mimpiku. Pendidikan untuk semua anak laki-laki dan perempuan di dunia. Duduk di kursi dan membaca buku bersama teman-temanku di sekolah adalah hakku. Melihat semua manusia tersenyum bahagia adalah keinginanku. Aku Malala. Duniaku telah berubah, tapi aku belum berubah (halaman 455).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here