Waktu Baca: 3 menit

Tahun 2014 saya bertolak dari Yogyakarta menuju pulau Biak, Papua. Saya hendak memulai kehidupan baru di tempat perantauan yang tidak favorit bagi banyak orang untuk memulai pekerjaan. Perjalanan pun penuh tebak-tebakan. Saya tidak tahu pasti akan menjalani hidup macam apa di pulau kecil nan gersang itu.

Minat saya di bidang psikologi sosial mendorong saya untuk berpikir etnografis sebelum berangkat. Saya mencari literatur, foto, atau video di internet yang saya harapkan bisa memberikan sedikit gambaran tentang suasana hidup di pulau Biak. Ternyata tidak banyak informasi tentang itu. Justru yang lebih banyak adalah cerita sejarah. Informasi yang sedikit itu saya manfaatkan sebagai bahan asumsi untuk menilai dan membayangkan kehidupan di Papua.

Meskipun sejak kecil saya biasa bergaul dengan kerabat yang merupakan Orang Asli Papua, tetapi saya merasa pengalaman empiris itu tidak cukup menggambarkan kehidupan orang Papua. Di telinga saya juga terdengar stigma, asumsi, dan anggapan orang-orang di Jogja tentang mahasiswa Papua yang tukang demo, pemabuk, dan tidak ramah. Namun demikian stigma dan asumsi itu saya buang jauh-jauh, karena saya tahu itu tidak cukup relevan untuk memahami pola kehidupan di tanah Papua.

Keberangkatan saya ke tanah Papua sarat dengan bekal bermacam-macam idealisme : mau membuat apa, mau mengajarkan apa, mau berkegiatan apa. Bekal secara fisik tidaklah banyak, karena keterbatasan bagasi pesawat. Tetapi bekal secara pikiran cukup melimpah. Sebagai mahasiswa fresh graduate di bidang psikologi, saya pun berusaha melahap kembali teori-teori psikologi. Siapa tahu itu bermanfaat untuk menolong orang lain, misalnya melalui konseling.

Bulan-bulan pertama saya tinggal di tanah Papua saya manfaatkan untuk mengenali karakter, cara komunikasi, cara bercanda, cara menalar dan cara berpikir orang-orang Papua. Ternyata bekal ide yang saya bawa dari tanah Jawa tidak terlalu bermanfaat. Ketika saya menilai orang Papua dengan perspektif teori psikologi yang sederhana pun, rasanya banyak yang tidak cocok. Bukan berarti ada masalah pada orang Papua, tetapi teori-teori yang ada tidak cukup mumpuni untuk menjadi standar penilaian. Seketika itu juga saya sadar, bukan situasi di Papua yang salah, tetapi cara saya dalam menilai mereka lah yang salah.

Saya merombak cara berpikir yang lain, yaitu dengan perspektif fenomenologi. Singkatnya, saya melihat setiap peristiwa sebagai apa adanya, tanpa dinilai benar-salah, tanpa dinilai untung rugi. Peristiwa itu saya rangkai dalam alur logika sebab-akibat untuk menemukan pemahaman baru tentang perspektif mereka. Segala macam bekal idealisme akhirnya saya tinggalkan. Dengan cara ini ternyata hidup lebih menyenangkan, tidak pusing dalam memahami perilaku orang Papua.

Saya justru menemukan pemahaman-pemahaman baru yang unik, yang mungkin tidak ada lagi di tanah Jawa. Satu contoh misalnya pemahaman orang Biak tentang orientasi arah. Terminologi darat-laut lebih disukai ketimbang terminologi utara-selatan-barat-timur. Darat merujuk pada area yang ada di perbukitan, atau agak jauh dari pantai. Sementara laut merujuk pada area yang dekat dengan pantai. Tetapi kalau ada area yang elevasinya jauh lebih tinggi lagi, maka komparasi darat-laut tetap dipakai, sekalipun laut dalam konteks ini adalah merujuk pada area dataran yang agak jauh dari pantai.

Misalnya ada gereja darat dan gereja lautGereja darat merujuk pada kompleks gereja yang ada di pusat kota. Gereja laut merujuk pada kompleks gereja yang dekat dengan pantai. Bila orang bicara tentang rumahnya di darat dan rumah di laut, itu merujuk pada konteks bahwa orang itu terkadang tinggal di rumah yang satu, atau di rumah yang lain. Rumah laut pun ternyata disebut bukan karena dekat sekali dengan pantai, tetapi karena posisi elevasinya lebih rendah dari rumah yang satunya.

Konsep ini jelas sulit ditemukan di Jawa, yang lebih menyukai sebutan arah mata angin, atau nama desa / kecamatan yang dimaksud. Pola pikir soal orientasi arah darat-laut tidaklah salah, karena bagi orang setempat memang itu yang lebih mudah dipahami ketimbang arah mata angin. Oleh karena itu lebih nikmat menggunakan terminologi darat-laut ketimbang orientasi mata angin. Toh pada akhirnya setiap percakapan antar orang tentang suatu lokasi, selalu ada konteks pembicaraan yang melingkupinya.

Nah, itulah satu contoh tentang cara meninggalkan ‘bekal’ sebelum menilai orang Papua. Kalau kita bisa melihat secara objektif, maka akan memberikan lebih banyak pengalaman pada kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here