Waktu Baca: 2 menit

Orang Papua itu sebetulnya periang. Ia mudah untuk membuat kelakar atau jokes, yang dikenal sebagai Mop. Ada pula yang menuliskan sebagai Mob. Saya tidak tahu pasti Mop ini sebuah akronim atau memang satu terminologi tentang humor. Ada yang menganggap Mop berarti Membuat Orang Puas, Membuat Orang Bahagia.

Lelucon, humor, candaan, atau kelakar sebetulnya memiliki akar yang sama dengan gagasan kritik dan keluhan. Semua berakar dari ketimpangan antara fakta dan harapan. Kalau ketimpangan itu dibawa pada ranah serius, maka menjadi sebuah ungkapan kritik dan keluhan. Tetapi kalau dibawa pada ranah santai, akan menjadi candaan.

Satu ciri khas Mop adalah bahasa lisan. Ketika Mop dikonversi dalam bentuk tulisan, maka rasanya menjadi hambar dan garing. Tetapi ketika diungkapkan secara lisan dengan aksen dan intonasi yang tepat, maka kelucuan akan terasa. Mop juga selalu disajikan dalam bentuk cerita, bukan dalam bentuk kata-kata singkat plesetan. Keberhasilan penyampaian mop terletak dari cara pencerita dalam berekspresi. Bahkan terkadang, sebelum cerita disampaikan, orang bisa tertawa duluan karena melihat wajah lucu si pencerita.

Bercerita mop menjadi cara yang umum dipakai orang Papua untuk mencairkan suasana, entah ketika obrolan pribadi atau bahkan dalam ceramah. Tema cerita yang dipakai barangkali klasik, tetapi rasa penerimaan bisa berbeda tergantung dari siapa penceritanya. Seringkali topik Mop mengandung unsur kekerasan verbal atau fisik, namun tidak ada unsur kebencian. Seringkali juga Mop menertawakan kesalahan atau kebodohan tingkah pribadi si pencerita.

Bagi orang Papua, Mop menjadi daya tarik tersendiri untuk membangun keakraban. Bahkan kalau pun topik cerita adalah membahas kesalahan orang lain (dan yang dibahas hadir di situ juga), itu tidak masuk dalam kategori ngrasani , sebagaimana konsep orang Jawa. Kalau pun orang tidak terima dirinya jadi bahan Mop, ia harus membalas dengan membuat konten Mop yang lucu juga.

Bulan-bulan pertama saya tinggal di Biak, saya mencoba memahami titik lucu ketika orang bercerita Mop secara spontan. Bahkan sebelum saya berangkat ke tanah Papua, selama satu minggu saya simak tiap video Epen-Cupen di Youtube untuk mempelajari pola pikir mereka. Lelucon suatu masyarakat sebetulnya bisa menjadi gambaran tentang cara berpikir mereka untuk kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu jika Anda ingin bisa akrab dengan orang-orang Papua, adu cerita Mop bisa menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi yang akrab. Tetapi kita juga perlu mengingat risiko komedi. Sangat mungkin cerita yang dibawakan tidak ditemukan unsur kelucuan, sehingga tidak menimbulkan gelak tawa. Sangat mungkin cerita yang kita harapkan segar, ternyata berujung menjadi jokes garing nan receh.

Satu cerita klasik nan konkret yang sampai hari ini masih terjadi misalnya demikian :

Tinus, seorang siswa kelas 9 SMP ditanya oleh bapa guru tentang soal berhitung penjumlahan. Supaya mudah, bapa guru menggunakan soal cerita.

“Tinus, coba kam hitung, misal kamu punya dua roti, dan kamu punya kakak kasih kamu lima roti lagi. Berapa roti yang kamu punya sekarang?”

Soal ini diberikan untuk mengajak anak berhitung 2 + 5 = 7

“Ah. Tidak ada, pak guru !”
“Masak kamu tidak bisa hitung berapa dua ditambah lima?”
“Bapa guru ini tipu saja. Saya sekarang tidak bawa roti. Bapa guru juga tidak kenal saya punya kakak. Itu pace sampai kapanpun tidak akan pernah kasih saya roti ! Dong pelitnya setengah mati.”

Nah, kalau kamu tidak menemukan titik kelucuannya, berarti benar bahwa kamu perlu kenal lebih dalam lagi tentang orang Papua.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here