Waktu Baca: 4 menit

Cerita punya cerita. Konon fans Manchester United di Indonesia termasuk terbesar di dunia. Jumlah fans Manchester United di Indonesia mencapai satu juta orang lebih. Tentu aneh melihat fans MU sebanyak itu padahal prestasinya kalah mentereng dengan Barcelona dan Real Madrid misalnya. Tapi sebenarnya anda tidak perlu kaget. MU lahir di saat yang tepat.

demo supporter Manchester United. Courtesey : AFP

Di tahun 1999, MU membuktikan bahwa tak ada yang mustahil. Gol Ole Gunnar menjadi penanda keajaiban di Camp Nou. MU meraih gelar Liga Champions meski tertinggal dari Bayern Munich sampai menit ke 90. Bagi orang Indonesia, MU adalah inspirasi. Setelah setahun penuh derita akibat krisis multi-dimensi, orang Indonesia diberi inspirasi bahwa bangkit itu mungkin meski sulit. Akhirnya berbondong bondong mereka menjadi fans MU dan merepresentasikan diri mereka sebagai MU itu sendiri. Fans MU bak merasa menjadi Superman ketika memakai kostum merah merah khas Setan Merah. Lihat! MU saja bisa, masa aku enggak?

Perasaan seperti ini ternyata tak dialami oleh fans Indonesia. Fans MU di Tiongkok juga punya perasaan yang sama. Konon MU bangkit ketika Tiongkok sedang dalam revolusi besar. Tahun 90an, orang Tiongkok yang biasa hidup normal dan santai tiba tiba dipaksa menjadi masyarakat industrialis yang harus kerja keras demi memenuhi tuntutan peluang ‘kapitalisme’ di negaranya. Ketika mereka tertekan, mereka melihat MU dan langsung mereka bersorak : ‘MU bisa! Gue bisa! Merdeka!

Di negara Inggris ya sama saja. Fans MU konon adalah migran migran yang datang ke Manchester. Berlawanan dengan pengetahuan umum, klub tradisional di Manchester itu ya Manchester City. Klub biru laut ini adalah representasi asli Manchester. Sementara itu, MU adalah klub yang didukung oleh para migran, para pengadu nasib. Mereka sering dicemooh oleh warga kota Manchester yang ‘asli’. Tiap minggu adalah ujian mental. Namun, melihat MU menang, hati merekapun berbunga bunga. Rasa rasanya mental ini dikuatkan kembali.

MU bukanlah Arsenal yang punya ciri khas permainan yang cantik. Bukan pula Barcelona dengan Tiki Takanya. Bukan pula dengan Gegenpressing dan intensitas ala Liverpool. Konon Rooney menyebut bahwa Sir Alex ‘tidaklah sevisioner itu’, ia menyebut Louis Van Gaal lebih kenyang ilmu daripada Fergie. MU tidak pernah meyakinkan sebagai tim juara kecuali di tahun 2008 saat mereka benar benar kelihatan digdaya. Namun, MU selalu punya semangat dan mentalitas yang gila. Oleh banyak orang, hal itu disebut Fergie’s time. Mereka kerap cuma menang tipis. Tapi kemenangan mereka adalah kemenangan yang begitu berkesan.

Para penggemar MU mungkin tidak terlalu paham sepakbola, namun mereka paham betapa kuatnya klub ini dalam mempengaruhi mental mereka. MU adalah ‘super team’, mampu melakukan apa yang mustahil bagi fansnya. Mereka melihat MU sebagai pengisi bensin semangat sebelum menjalani hari hari yang berat.

Apa lacur, sejak Fergie pensiun di 2013, MU menukik tajam. Fergie berkata bahwa ia pensiun karena ingin menemani istrinya lebih sering. Banyak yang menyangsikan alasan itu. Mereka semua tahu Fergie lelah. Bertahun tahun MU memiliki skuad seadanya karena kebijakan keluarga Glazer yang lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi. MU jarang diisi nama besar. Bintang yang datang juga sudah masuk masa suram seperti misalnya Michael Owen. Kalaupun ada yang bersinar, ia sudah tua dan menuju pensiun macam Robin Van Persie. Tapi di tengah keterbatasan itu toh MU masih berprestasi hingga akhirnya Fergie (mungkin) berucap pada dirinya sendiri: I can’t do this forever. Daripada pensiun ketika MU sudah remuk, lebih baik pensiun di saat MU masih juara.

courtesey: totally football

Fergie mungkin jengah. Ia melihat manajemen MU berpikir soal uang semata. Sementara itu, City membangun sistem. Mereka merekrut kepala perekrutan berkelas semacam Ferran Soriano. Lalu, mereka juga mengundang aktor dibalik perekrutan berkelas Barcelona, Txixi Begiristain. City cerdik dalam membangun klubnya, sementara MU makin lama makin gak jelas. Puncaknya City berhasil mendapatkan pelatih terbaik di dunia Pep Guardiola. MU yang sudah bingung, akhirnya memilih Jose Mourinho (pelatih terbaik kedua di dunia) meskipun mereka tahu persis Mou tidak cocok di klub seperti MU.

Ketika City sudah demikian dekat dengan treble, MU tetap tidak jelas. Bahkan kemenangan di Europa League taklah cukup. Itu ‘kan bukan kelasnya MU! Begitu protes fans. Fans juga keburu malu karena di bulan Desember mereka sudah koar koar kedinginan di puncak, eh sekarang malah ndlosor gak karuan. Jatuhnya MU bisa diasosiasikan juga dengan jatuhnya kehidupan fansnya. Kejatuhan MU membuktikan bahwa sehebat hebatnya kamu, kamu bisa dibanting dengan kejam oleh kehidupan.

Wabah Korona sudah cukup menyulitkan. Eh sekarang mereka harus kehilangan pahlawan mereka yang malah ambles. Wajar fans MU marah. Mereka kangen masa masa bisa koar koar di medsos karena MU lagi lagi membalikkan keadaan. Mereka kangen berteriak teriak bersama melihat gol menit akhir. Mereka kangen bisa mengejek fans Liverpool yang konon sudah puasa liga kelamaan. Tapi lebih daripada kangen hal hal itu, mereka kangen diinspirasi MU. Mereka kangen dihibur oleh aksi Ronaldo dan Rooney. Bagi mereka, itu rasa rasanya seperti dibisiki di telinga oleh malaikat bahwa : everything will be allright.

Sumber inspirasi itu nyatanya remuk. Tidak tahu mau kemana. Perasaan remuk itu dirasakan juga oleh fansnya. Kapan nih kita pesta lagi? Kapan nih kita dimotivasi lagi? Mungkin sudah saatnya fans MU kembali ke dunia nyata, mencari motivasi yang baru. Kebangkitan MU tidak bisa diperkirakan, mungkin besok, lusa atau beberapa tahun lagi.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here