Waktu Baca: 3 menit

Kalau bicara brewing kopi, rasa rasanya sudah sangat umum. Hampir di setiap sudut kota kita menemukan seseorang yang ahli dalam brewing kopi. Roastery juga berada dimana mana. Saya, si penikmat es kopi susu amatir ini, hampir tidak bisa membedakan satu produk kopi dengan kopi lainnya. Nah, kalau ada pegiat yang hobi menyeduh teh, ini baru aneh dan istimewa. Ya, itulah Adela Goenardi dan seni tehnya.

Saya sudah cukup lama mengenal Adel, sapaan akrab Adela. Bahkan sebenarnya, kita masih memiliki hubungan kekerabatan. Saya menyukai semangat Adel dalam mengeksplorasi talentanya. Yang tidak saya sangka, ia ternyata menyukai seni menyeduh teh. Bukan sekedar hobi, Adela adalah juara nasional kejuaraan Koperteh 2020 kategori independen.

“Padahal saingannya ada yang bapak bapak dan sudah berkecimpung dalam bisnis teh dalam waktu yang lama,” ujar Adel. Ia mengaku merasa minder. Namun, pada prinsipnya, show must go on. Toh dia tidak merasa sedang mengincar gelar juara. Baginya, pengalaman jauh lebih penting dari sekedar gelar. Namun, siapa sangka ia malah mendapatkan hasil yang tidak ia duga sebelumnya.

Awal Mula

            Adela Goenardi dan seni tehnya tidaklah bermula dari sebuah ambisi. Adel mengaku menyukai teh sebagai bagian dari hobinya dalam mengeksplorasi hal baru. Namun, ia tidak memungkiri ada pengaruh dari keluarganya yang bergerak di bidang bisnis FnB. Karena sudah akrab dengan berbagai kuliner, keinginan untuk mempelajari teh tumbuh secara alami.

Pada tahun 2015, Adel banyak belajar secara otodidak. Perlahan tapi pasti, ia merasa bahwa belajar secara otodidak itu membuatnya gelisah.

“Kamu tahu ‘kan paradox of learning?” tanya Adel. “Itu tuh kayak perasaan semakin kamu mempelajari sesuatu, semakin kamu merasa yang kamu pelajari itu gak cukup.”

Ya, proses belajar justru membuat kita merasa semakin tidak tahu. Ilmu memang tak terbatas dan kadang kala bukanlah suatu pengetahuan saklek. Ilmu yang sangat dinamis termasuk dalam penyeduhan teh ini membuat Adel semakin tergila gila mempelajari teh.

Baca juga : Yuk mencoba wedang khas Indonesia lainnya

Mengambil Kelas Ratna Soemantri

            Mencari mentor terbaik adalah salah satu cara cepat menjadi expert dalam suatu bidang. Adela lalu memutuskan untuk mengambil kelas dari tea expert Ratna Somantri. Dari Ratna, Adela mendapatkan banyak ilmu, termasuk basic basic dalam membuat teh.

“Ada tiga aliran dalam menyeduh teh. Yang pertama adalah model barat yang menekankan pada specialty tea. Di situ kita lebih menonjolkan pada setiap karakteristik daun teh yang kita seduh dengan harapan menghadirkan kompleksitas rasa. Lalu ada juga model timur atau Eastern Style yang caranya sangat tradisional dan konservatif serta memiliki banyak aturan. Eastern Style ini biasanya merujuk pada gaya Jepang atau Tiongkok. Meskipun demikian, secara garis besar orang lebih menghubungkannya dengan gaya Tiongkok. Terakhir, ada gaya lokal. Hal ini bisa kita temukan di keraton, atau masyarakat umum. Misalnya saja ada Nasgintel atau ‘Panas Legi Kentel’. Ini juga salah satu aliran teh di Indonesia yang bisa kita anggap sebagai kearifan lokal.

Memenangkan Kejuaraan

Adela Goenardi dan Seni Tehnya

            Menjadi juara lomba menyeduh teh menjadikan Adela tokoh penyeduhan teh nasional. Padahal ya itu tadi, ia tidak mengharapkan banyak hal. Siapa sangka, racikannya yang ia beri nama ‘Rempah Merekah’ bisa menjadi favorit para juri.

Adel mengaku ‘Rempah Merekah’ ini lahir dari sebuah filosofi yang sederhana saja. Ia melihat ada banyak rempah rempah di Indonesia yang ‘diremehkan’. Ya, rempah rempah ini memang mudah ditemui dimana mana. Meski demikian, Adel meyakini bahwa rempah rempah inilah kekuatan utama Indonesia. Bahkan, koloni menjajah kita karena mencari rempah rempah.

Akhirnya, dengan ketekunan bereksperimen dan mencari padanan yang tepat, ia bisa menghasilkan komposisi kelas atas dalam ‘Rempah Merekah’. Tea Blend ini sukses mengantarkannya sebagai perbincangan di antara pecinta teh.

Baca juga : Salah satu spot ngopi seru, yuk cek

Misi Untuk Edukasi Teh
Rempah Merekah yang membuat Adel dikenal luas

            Adela Goenardi dan seni tehnya tidak puas hanya berakhir sebagai juara nasional. Sejujurnya, Adel ingin mengedukasi banyak orang soal teh ini. Menurutnya, pendidikan masyarakat Indonesia pada teh masih kurang.

Ia menceritakan pengalamannya menemukan daun teh kelas wahid di Jawa Barat. Teh itu sayangnya tidak bisa dikonsumsi rakyat Indonesia karena telah diikat kontrak eksklusif dengan sebuah perusahaan di Inggris. Di Inggris, daun teh ini dijual sehara 25 pounds per 100 gramnya! Sungguh miris membayangkan kalau petani daun teh Indonesia tidak mendapatkan keuntungan terbesar. Hal ini lagi lagi karena masih rendahnya literasi rakyat Indonesia soal teh.

Mudah mudahan, ke depannya Adel bisa konsisten di jalur daun teh dan bisa membuat daun teh Indonesia mendunia. Semoga!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here