Waktu Baca: 3 menit

Belakangan saya punya hobi baru. Bangun tidur lebih pagi. Pukul lima lewat sedikit. Udara masih dingin dan sejuk. Brrr… Kadang bikin saya menggigil. Sepi. Tenang. Sesekali terdengar kokok ayam di kejauhan. Belum ada suara mesin kendaraan. Udara bersih ramah menyapa paru-paru. Tarik napas dalam-dalam. Hembuskan. Owh, lihat! Dua burung kecil hinggap di atas kanopi rumah. Ciap-ciap. Ciap-ciap. Entah apa yang mereka perbincangkan.

Pemandangan tanaman dan rumput basah memanjakan mata. Hijau. Segar sekali kelihatannya. Seperti habis mandi. Langit masih agak gelap. Matahari belum nampak. Sepeda motor di garasi, saksi perjuangan melibas jarak demi bertahan hidup, seakan pulas tertidur. “Istirahatlah dulu, Sobat,” saya membatin. Seekor kodok pamit, melompat menjauhi teras rumah. Tuing, tuing, tuing.

Pikiran saya tenang. Pelan merambat. Belum perlu buru-buru mengerjakan ini-itu-ini-itu. Belum dikejar waktu. “Masih subuh, santai saja,” saya berhasil meyakinkan diri sambil menyeruput kopi hitam panas. Sluuurrpp.. Ahhh… Saya belum harus hubungi sana-sini untuk koordinasi kerjaan. Tidak harus memeriksa email yang memang jarang isinya. Masih ada alasan masuk akal untuk menghiraukan notifikasi media sosial atau pesan singkat. Tidak harus diskusi dengan orang lain. Bebas dari gawai. Ya, sekali lagi, bebas dari gawai. Waktu ini milik saya. Kesempatan istimewa untuk berbincang dengan diri sendiri.

Saya coba sadari apa yang sedang diri pikirkan. Coba rasakan apa yang ada di dalam hati. Kecemasan apa saja yang melanda. Harapan apa yang muncul. Gambar demi gambar melintas di kepala. Saya biarkan demikian. Bak menonton film. Acak bergerak, namun lambat. Kemudian, satu per satu saya urai. Mana yang layak saya pikirkan? Mana yang rasional? Apa yang sebaiknya saya pikirkan dan kerjakan? Apa sebetulnya motivasi saya? Mengapa saya merasa begini-begitu? Apa yang sebetulnya saya takutkan? Sudah baikkah arah hidup saya?

Bangun lebih pagi memberi saya jeda dari kesibukan sehari-hari. Kesempatan untuk mengambil napas dalam kondisi sadar penuh. Tidak perlu lama. Sebentar saja cukup. Asal cermat mendengarkan dan memahami diri sendiri. Jeda membuat pikiran lebih tertib dalam menjalani hari. Lebih mudah bagi saya untuk menyusun prioritas. Peduli penuh pada satu hal dan cuek sepenuhnya untuk hal lainnya. Lebih mantap melangkah berkat kesadaran akan tujuan akhir yang hendak dicapai. Singkatnya, hari lebih berkualitas.

Jeda memang penting. Saya tahu itu. Tapi kalau sudah mengajar murid, membuat video tutorial, atau mengingatkan murid untuk mengirim video, saya kerap lupa untuk sesekali mengambil jeda. Tahu-tahu hari beranjak gelap. Tahu-tahu saya sudah berada di bawah selimut.

Mengambil jeda memang meningkatkan kesadaran. Namun, juga butuh kesadaran untuk mengambil jeda. Jeda untuk sadar dan sadar untuk berjeda. Seorang yang saya kenal rutin memasang pengingat di gawai untuk berjeda. Saya tiru langkah itu. Alarm saya nyalakan setiap hari. Sepuluh pagi, dua siang, dan empat sore. Harapan saya, tiap alarm bunyi, saya bisa menyingkir barang dua tiga menit dari kesibukan. Perlahan mengelola napas. Mencoba menyadari diri. Untuk kemudian kembali bergulat di aktivitas rutin.

Sebelum punya hobi baru bangun lebih pagi, sudah lama saya paham pentingnya berjeda. Saya rasakan sungguh saat terpaksa jalani hari tanpa gawai karena tertinggal atau kehabisan daya. Awalnya terasa ‘mati gaya’. Bingung harus melakukan apa. Lama kelamaan justru nyaman. Ritme hidup berjalan lebih santai. Tenang dan fokus. Lebih mudah untuk jalani hari dengan rasa syukur.

Hingga saya kembali berjumpa dengan gawai, pamer dengan membuat status ‘hari ini hape ketinggalan di rumah tapi hidup malah jadi lebih mindful’, mendapat satu dua likes dan comments, lalu justru kembali berkutat dengan ribuan foto dan status yang mayoritas tidak penting di media sosial, dan kembali mengeluhkan hidup. Hahaha, saya bodoh sekali, kan?

Bangun lebih pagi sepertinya masih akan menjadi hobi beberapa waktu ke depan. Setiap hari rasanya bersua hal baru. Seperti pagi ini, sambil menulis saya menyadari perubahan aroma udara pagi. Aroma udara pukul lima berbeda dengan setengah enam. Pun demikian dengan udara pukul enam dan tujuh. Tidak percaya? Coba saja!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here