Waktu Baca: 2 menit

Di Malaysia baru-baru ini sedang ramai kasus candaan seksual yang dilakukan oleh seorang guru SMA. Seorang siswi bernama Ain Husniza mengunggah video tiktok yang isinya protes terhadap gurunya, yang mengajarkan candaan seksual dan memperbolehkan para siswa melakukan pelecehan seksual kepada orang di atas 18 tahun.

Video itu sudah ditonton lebih dari 1.8 juta kali, dan memunculkan tagar #MakeSchoolASaferPlace. Unggahan siswi itu juga menimbulkan pro dan kontra di dalam negeri Malaysia. Ribuan siswa sekolah lantas terpancing untuk membagikan pengalaman mereka terkait pelecehan seksual di sekolah. Di saat bersamaan ia pun mendapat berbagai ancaman dan cercaan. Seorang pejabat senior Polisi Diraja Malaysia pun menganggap bahwa pelecehan seksual secara verbal itu hanya candaan belaka. Salah satu Guru sekolah Ain pun menganggap Ain terlalu sensitif dan emosional sebagai perempuan.

Baca juga : Sudah Saatnya Kita Berhenti Berpikir Menikahkan Anak adalah Juruselamat Kehidupan

Tapi ngomong-ngomong, candaan bernada seksual itu boleh nggak, sih ? Bukannya di masyarakat kita udah banyak dan biasa-biasa saja, ya ?

Miskin Gagasan Humor

Bagi saya, orang yang membuat kelakar atau candaan bernada seksual adalah orang yang udah kehabisan ide buat ngejokes. Bahan inspirasi jokes itu sebetulnya tersedia melimpah di setiap pandangan mata kita. Tetapi karena orang takut jokes nya jadi garing, maka orang memanfaatkan konten seksual untuk candaan. Apakah sasaran candaan bernada seksual itu objeknya selalu perempuan dan pelakunya selalu laki-laki ? oh tentu tidak. Situasi sebaliknya juga bisa terjadi. Pelaku perempuan, objeknya laki-laki. Bahan candaan pun tidak jauh dari seputar alat kelamin dan organ tubuh lainnya. Tapi masalahnya, reaksi bisa berbeda. Ketika lelaki membicarakan tubuh perempuan, hasilnya bisa candaan bahkan pelecehan. Sementara ketika perempuan membicarakan tubuh lelaki, bisa jadi murni pujian, bisa juga berujung candaan dan pelecehan.

Perendahan martabat Perempuan

Meski korban pecehan seksual secara verbal bisa di pihak lelaki dan perempuan, namun yang lebih mudah mengalami trauma adalah di pihak perempuan. Maka dari lebih mudah bagi saya untuk menilai bahwa pelecehan seksual kepada perempuan itu berisiko tinggi dan merupakan bentuk tindak kejahatan. Martabat perempuan lantas direndahkan, diukur dari kualitas penampilan fisik belaka; atau bahkan diukur dari kualitas alat kelamin belaka.

Toxic World

Sebetulnya kita sedang hidup dalam lingkungan masyarakat yang toxic, yang meracuni pikiran. Pelecehan seksual secara verbal dianggap candaan belaka. Perempuan yang trauma karena dilecehkan secara verbal dianggap baper. Orang membicarakan tubuh perempuan dianggap biasa-biasa saja. Pola-pola pikir inilah yang membuat kita menjadi tidak peka pada penghormatan terhadap martabat orang lain.

Menghentikan kebiasaan candaan bernada seksual

Candaan bernada seksual itu boleh nggak sih ? Nah jadi begini. Banyak orang yang masih terbiasa melakukan cat calling pada perempuan. Banyak pula yang membicarakan tubuh perempuan untuk maksud pelecehan dan bahan pergunjingan. Bahkan, komika-komika, influencer, atau public figure pun bisa saja melakukan itu, entah sekali, atau bahkan kebiasaan. Regulasi di negara kita sudah mengatur itu, baik dengan perspektif Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Undang-Undang Perlindungan Anak, atau bila perlu pakai UU ITE. DPR kita pun masih punya tagihan tugas menyelesaikan draft Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Tetapi kalo kita menunggu dan harus memakai itu semua, penyelesaian kasus pelecehan seksual bisa panjang. Bahkan bisa berujung hal konyol, misal penyelesaian dengan cara kekeluargaan, atau maaf-maafan.

Nah, salah satu cara untuk menghentikan kebiasaan itu adalah mengajak mereka berpikir, “Bagaimana kalo ibumu, kakak perempuanmu, adik perempuanmu, atau bahkan anak perempuanmu mengalami pelecehan seksual secara verbal yang dilakukan oleh temanmu sendiri?”

Semoga mencerahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here