Cultural Appropriation melalui Nagita Slavina pada Papua

Waktu Baca: 3 menitUntuk perhelatan PON XX Papua, Nagita Slavina dipilih sebagai icon. Dalam sesi pemotretannya, Nagita menggunakan pakaian tradisional Papua. Gara-gara inilah Arie Kriting mengangkat isu tentang Cultural Appropriation. Melalui postingan di Instagram, Arie Kriting mengangkat isu tersebut. Gara-gara tulisan itulah kita jadi tahu bahwa ada cultural appropriation melalui Nagita Slavina kepada Papua.

Sebagai catatan, sebetulnya ada sedikit kesalahan informasi dari yang diungkapkan Arie Kriting.  Nagita tidak diangkat menjadi Duta PON XX Papua, tetapi sebagai Icon PON XX Papua. Bukan hanya Nagita saja yang menjadi ikon, tetapi satu paket dengan Raffi Ahmad. Namun demikian entah sebagai duta atau icon, persoalan Cultural Appropriation tetaplah muncul.

Baca juga : Seni Memahami Papua 5 : Kosakata Ekspresi Orang Papua

Cultural Appropriation

Cultural Appropriation adalah kondisi ketika budaya mayoritas mengambil budaya minoritas, dengan melepaskan makna dan konteksnya. Hanya simbolnya saja yang diambil dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Sementara pemilik budaya minoritas berisiko mendapatkan imbas negatif atau bahkan tidak mendapatkan manfaat apapun.

Dalam konteks PON XX Papua, posisi Raffi – Nagita menjadi representasi budaya mayoritas kaum kelas menengah ke atas (baik segi sosial maupun ekonomi). Tidak ada kaitan historis atau kultural antara mereka berdua dengan tanah Papua. Berdasarkan penjelasan Menpora maupun PB PON, pemilihan Raffi – Nagita murni karena faktor influencer dan daya sosialisasi.

Alasan Pemilihan Raffi – Nagita untuk ikon PON XX Papua

Alasan yang agak halus diungkapkan oleh PB PON, bahwa pemilihan Raffi – Nagita menunjukkan bahwa ajang PON merupakan pesta seluruh bangsa Indonesia. Raffi-Nagita menjadi representasi warna nusantara yang ingin ditampilkan. Tetapi argumen ini bisa gugur bila kita bandingkan PON 2016 Jawa Barat, yang mengangkat Robby Darwis dan Susy Susanti sebagai duta PON 2016, dan monyet Surili dan kujang sebagai ikon PON 2016. Bicara Robby dan Susy, mereka berdua adalah atlet yang lekat dengan Jawa Barat, baik dari segi rekam jejak hidup maupun pekerjaan mereka. Ikon yang dipilih untuk PON 2016 tidak usah kita pertanyakan lagi. Itu jelas khas Jawa Barat. Tetapi apa kabar dengan PON XX Papua ? Ternyata nalar pemilihan duta dan ikon itu tidak terjadi untuk konteks Papua.

Baca juga : Tinggalkan Bekal Sebelum Menilai Papua

Kalau kita buat perbandingan, perempuan Papua yang diusulkan oleh Arie Kriting (Nowela atau Nere), jelas jauh di bawah Raffi – Nagita. Nowela memiliki follower sekitar 218.000 Putri Nere memiliki follower 8.535. Ini jauh dibandingkan Raffi dan Nagita yang memiliki follower 52.9 juta. Jika ukurannya adalah ketenaran, maka perempuan Papua ada di posisi minoritas dibandingkan artis dan influencer yang ada di Jabodetabek. Bahkan bila setiap penduduk Papua menjadi follower dari Nowela atau Putri Nere, angka 4.3 juta jiwa tidak ada artinya. Jadi, apa saja risiko dari cultural appropriation pada konteks PON XX Papua ?

Performa dan Kompetensi Perempuan Papua

Pemilihan figur siapa yang menjadi duta atau ikon tentu saja memiliki unsur ‘menarik’. Bisa jadi ‘menarik’ bagi masyarakat karena faktor performa, kompetensi, atau penampilan fisik. Ketiga faktor ini sah-sah saja untuk jadi bahan kita menilai kaka Boaz Solossa. Sebagai seorang pesepakbola, kaka Boaz punya kekuatan ketiga faktor itu. Para penonton timnas Indonesia pun sepakat dengan ini. Tetapi begitu kita bicara tentang siapa perempuan papua yang punya kekuatan performa, kompetensi, dan penampilan fisik, maka dalam mindset orang Indonesia akan muncul banyak pikiran bercabang. Secara jujur, sejak era Irian Barat hingga hari ini, masyarakat kita tidak memberikan panggung yang cukup bagi perempuan Papua untuk tampil di layar kaca, media sosial, maupun perpolitikan. Lantas bagaimana mereka bisa membuktikan performa, bila tidak ada kesempatan ?

Ketertarikan terhadap Perempuan Papua

Bicara ketertarikan fisik, perempuan Papua sudah dihantam oleh pengaruh media. Melalui layar televisi, iklan, dan media sosial, tanpa sadar selama puluhan tahun pikiran kita dibentuk untuk percaya bahwa perempuan cantik itu ketika warna kulitnya terang dan rambut lurus. Taruhlah contoh perempuan-perempuan Rusia. Bahkan tanpa kita harus sampai di Rusia, kita sudah berpikir bahwa perempuan Rusia itu cantik. Tetapi untuk konteks Papua, kita harus cukup lama tinggal di Papua untuk sampai bisa mengatakan bahwa perempuan Papua itu cantik.

Memang, perkara cantik dan tidak cantik itu adalah preferensi seksual dan selera pasar. Tetapi preferensi seksual maupun selera pasar itu sebetulnya adalah hasil modifikasi penyiaran. Sekali lagi, dalam hal ini perempuan Papua sudah jadi minoritas.

Simbol-simbol Papua

Pakaian yang digunakan Raffi dan Nagita dalam sesi pemotretan untuk ikon PON XX Papua menjadi representasi simbol Papua. Batik motif papua sebetulnya adalah pakaian yang biasa saja di Jayapura atau kota-kota lain di Papua. Tetapi ketika yang menggunakan itu adalah Raffi dan Nagita, ternyata yang disorot justru siapa yang memakai, bukan apa yang sedang dipakai.  Alhasil, keinginan panitia PON maupun keinginan masyarakat Papua untuk menunjukkan simbol Papua pun gugur. Pesan tentang rasa Papua akan berubah jadi lebih baik kalau yang mengenakan hiasan rumbai di atas kepala dan batik papua adalah perempuan asli Papua.

Namun demikian pada akhirnya cultural appropriation tetaplah terjadi. Raffi maupun Nagita bukanlah pelaku, tetapi hanya sarana bagi para pemangku kebijakan penyelenggaraan PON untuk cultural appropriation kepada Papua.

Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

Instagram

Most Popular