Waktu Baca: 3 menit

Selama 3 hari terakhir, tagar #herdstupidity bertahan di tangga teratas trending topic jagad maya kita. Teknisnya, Herd Stupidity adalah kelakar dari Herd Immunity, sebuah target ideal setiap bangsa untuk bisa bertahan dalam pandemi. Konsepnya, Herd Immunity berarti mebangun sistem kekebalan tubuh yang makin banyak dalam diri warga masyarakat. Harapannya, yang kuat akan melindungi yang lemah, sehingga virus tidak mendapat tempat untuk berkembang biak. Tapi celakanya, justru Herd Stupidity lah yang berkembang di antara orang kita.

Vis a vis

Herd Stupidity sebetulnya situasi dimana kebodohan lebih kuat dari akal sehat. Jumlah orang yang menganut kebodohan lebih kuat ketimbang yang menganut akal sehat. Nah, bagi saya yang asyik adalah mengamati beberapa kubu yang saling serang di era pandemi. Setiap kubu menganggap pola pikir mereka lah yang paling sehat, dan menganggap pihak lain sebagai yang bodoh dan mengidap Herd Stupidity.

Baca juga : Kebiasaan Skeptis Penyebab Kacaunya Manajemen Pandemi Kita

Tadinya saya pikir arah olok-olokan Herd Stupidity dikenakan dari pihak pegiat penanganan pandemi kepada orang-orang yang gemar menganggap pandemi dan corona sebagai sebuah konspirasi belaka. Tetapi ternyata, saya menemukan bahwa dari arah sebaliknya pun menggunakan olok-olokan yang sama. Dari pihak pegiat konspirasi menganggap diri sebagai yang paling waras, dan menganggap mereka yang percaya pada vaksin, cerewet soal protokol kesehatan, sebagai pihak yang bodoh dan mengidap Herd Stupidity. Jadi akhirnya ini perkara vis a vis, bolak balik.

Masyarakat Post Truth

Sudah sering kita mendengar istilah tentang post truth. Orang jaman sekarang lebih mudah mempercayai sesuatu yang memang mereka sukai, bukan yang valid sebagai sebuah kebenaran. Orang dengan mudah memberi cap Kadrun pada siapapun yang tidak sepakat dengan kebijakan pemerintah. Peduli amat soal agama, yang penting kontra pemerintah sama dengan Kadrun.

Post truth ini juga bekerja secara efektif di era pandemi. Kalo orang suka dengan tokoh agama tertentu, maka apapun kata tokoh agama itu akan dianggap sebagai sebuah fakta. Kalo tokoh agama bilang bahwa Vaksin itu mengandung chip dan akal-akalan bangsa lain, maka pengikut tokoh itu pun akan percaya buta ! Jangan disangka bahwa arah bahasan saya adalah tokoh agama tertentu dari pihak Islam saja; yang dari pihak Kristen Protestan pun saya juga menemukan ada tokoh-tokoh yang hobi konspirasi juga. Sialnya, banyak pula yang percaya dengannya.

Krisis Keteladanan Pesohor

Herd Stupidity pada orang kita juga disuburkan dengan ulah para pesohor / influencer kita. Yang saya maksud dengan influencer bukan hanya youtuber atau selebgram. Kepala daerah juga bagian dari influencer di areanya masing-masing. Betapa konyolnya Raffi Ahmad saat ikut vaksin perdana di Indonesia. Pagi divaksin, malamnya sudah berpesta bersama dan menganggap diri aman. Kekonyolan ini juga masih diikuti oleh influencer lain yang menggelar pesta ulang tahun, acara partai, dan perhelatan pernikahan yang wow. Masalahnya, warga kita notice banget dengan setiap gerak gerik influencer dan kepala daerah. Begitu ada influencer bikin pesta pernikahan dengan mengundang banyak orang, maka masyarakat kita berasumsi “Oo… berarti boleh dong bikin party di masa pandemi.”

Kerumitan Riset COVID

Boleh dikata riset untuk eksplorasi pengetahuan tentang coronavirus dan pandemi ini jadi rumit. Seluruh ilmuwan dunia berlomba untuk mengeksplorasi virus ini. Teori dan konsep bisa berubah-ubah dari bulan ke bulan. Bagi dunia riset, perkembangan dan perubahan ini adalah hal wajar. Koreksi demi koreksi bisa muncul antar ilmuwan. Tetapi celakanya, mindset ini tidak bisa dipublikasikan secara mentah kepada masyarakat. Begitu dibagikan apa adanya, yang terjadi adalah kontroversi.

Siapa Rentan Terkena COVID

Tahun lalu riset menunjukkan bahwa yang paling rentan terkena virus adalah yang punya penyakit komorbid. Yang muda-muda akan relatif aman. Nyatanya hari ini, teori itu sudah berubah. Siapapun punya peluang besar untuk mati karena COVID. Kasus kematian pada anak-anak karena COVID juga lumayan tinggi. Buat masyarakat awam, konsep ini bikin pusing karena berubah-ubah. Karena bikin pusing, maka sebagian masyarakat mulai malas berpikir dan tidak percaya pada informasi apapun yang terbaru tentang COVID.

Baca juga : Memahami Uji Efektivitas Vaksin di Indonesia

Kita baru bicara soal risiko kematian saja sudah bingung. Apalagi kalo bicara penggunaan masker yang disarankan. Entah sudah berapa kali anjuran itu berubah-ubah. Dulu masker kain saja cukup. Lalu masker Scuba dilarang. Lalu berubah lagi dianjurkan pakai masker medis. Karena masker medis langka, lalu masyarakat dianjurkan pakai masker yang biasa saja. Update yang terakhir, anjurannya sudah berubah jadi double masker.

Bagi orang yang paham dunia riset, dinamika perkembangan hasil penelitian itu sebetulnya biasa-biasa saja. Karena ini masa pandemi, maka riset dilakukan dengan lebih cepat, dan hasil penelitian bisa berubah lebih cepat pula. Saya sangat paham dengan ini, dan tidak sulit untuk mengikuti tren hasil riset. Tapi problemnya, tidak banyak masyarakat kita yang tahu dunia riset.

Akibatnya, hasil riset tidak meningkatkan kesejahteraan masyarakat, justru mempertebal post truth dan menyuburkan Herd Stupidity pada orang kita.

Sedikit kelakar dengan kebijakan terbaru. karena sulit untuk melakukan lockdown, maka pemerintah daerah membuat kebijakan penebalan PPKM Mikro, menjadi PPKM Mikro. Nah, sudah tebal, kan ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here