Waktu Baca: 5 menit

Tepat kemarin, berbagai gerai McDonald di Indonesia mengalami kepanikan masal. Bagaimana tidak, puluhan bahkan ratusan driver ojol menunggu di depan McD di berbagai kota besar untuk membeli BTS Meal. Mereka bukan ARMY, tapi kalau orderan sudah diterima, apa boleh buat? Mau tidak mau mereka harus rela mengantri berjam jam atau kena suspend. Mungkin dalam hati mereka ngedumel juga. Ini siapa sih dalang insiden BTS Meal? Insiden BTS Meal salah siapa?

Aparat segera bertindak dan menutup berbagai gerai McD. Mereka bahkan mendenda McD dengan nilai yang cukup tinggi. Tapi percayalah, denda dan tindakan menutup McD ini tidak akan menjadi solusi masalah kerumunan parah dalam insiden BTS Meal. Jika ingin mencegah masalah ini, harus ada usaha untuk menelusuri insiden BTS Meal salah siapa? Mengapa? Jika ingin menyelesaikan masalah, bukankah kita harus mencari akarnya?

Bukan Salah McD

            Pertama tama, mari kita eliminasi aktor yang innocent. Dalam kasus ini, McD bisa dikatakan sebagai aktor yang paling innocent. McD hanya melaksanakan tugas sebagai sebuah perusahaan: mencari untung semaksimal mungkin. Apalagi kita masih dalam masa pandemi sehingga strategi marketing  harus dibuat sekreatif dan seefektif mungkin.

McD juga sudah berusaha menciptakan sistem untuk mencegah kerumunan. BTS Meal hanya bisa didapatkan dengan sistem pembelian online. Maksud McD ini baik, mereka berharap para ARMY tidak mengepung McD dan menciptakan kepanikan. Tak disangka, yang berkerumun bukan ARMY melainkan pihak ojol.

Padahal, ojol mungkin juga tidak pernah mendengar lagu lagu BTS. Mereka juga tidak hapal siapa member member BTS. Eh, sialnya mereka malah menjadi korban utama. Sial juga ya.

Bukan Salah Gojek, Grab dan Ojol Delivery Lainnya

            Lagi lagi Gojek, Grab dan sebagainya tidak bisa disalahkan. Mereka adalah perusahaan yang hanya berusaha melayani pelanggan dengan sebaik baiknya. Apalagi telah kita ketahui bersama mereka juga lagi mengalami kesusahan. Jumlah pengguna layanan ojol menurun drastis selama pandemi.

Mumpung sedang ada order banyak, maka ya mereka memutuskan untuk mengambil demi keberlangsungan perusahaan. Urusan kenapa jadi rusuh begitu, mereka mungkin sama sekali tidak memperkirakan atau membayangkan. Ya, pikir mereka, memangnya selama apa sih menggoreng nugget? Iya, kalau nuggetnya cuma sepuluh atau dua  puluh potong. Lha ini ribuan nugget e bos. Apalagi, biasanya nugget bukan menu favorit di McD. Jadi para pegawai di McD juga tidak terlatih untuk menyajikan nugget dengan cepat.

Tapi ya itu, kembali ke point tadi, Gojek, Grab dan layanan ojek lainnya tidak bisa disalahkan. ‘Kan mereka sedang mencari rezeki.

Baca Juga : Sosok Menyebalkan Yang Suka Mencari Kambing Hitam di Sekitar Kita

Salah ARMY?

            Ya enggak juga. ARMY ya seneng saja bisa mengumpulkan merchandise terbatas. Apalagi harganya murah. Kapan lagi bisa mendapatkan memorabilia boyband fenomenal dengan harga hanya 50 ribu rupiah plus sedikit?

Tapi kalau ditanya jujur, mungkin insiden bts meal salah siapa ini jawabannya adalah ARMY! Lebay mereka tuh!

            Kayaknya nggak bisa disalahkan juga. Manusia mencintai dengan lebay adalah ciri khas dari manusia itu sendiri. Coba lihat ada nobar fans sepak bola Inggris di Indonesia yang tawuran padahal tim pujaan mereka main puluhan ribu kilometer dari lokasi nonton bareng. Lihat juga ada orang yang mencintai karakter politik tertentu sampai berperang tweet dan komen di media sosial berjam jam. Ada juga yang saking cintanya dengan lawan jenis sampai bunuh diri. Ya, saya kira mencintai dengan lebay itu adalah salah satu sifat dasar manusia. ARMY yang mencintai BTS dengan lebay tidak bisa kita benci.

Informasi Intelijen Dimana?

            Ya, saya kira fenomena BTS bukan barang aneh. Mereka adalah boyband Korea yang langganan Grammy Award. Jumlah fans mereka di Instagram ada 43 juta. Jumlah fans di Indonesia juga sangat masif. Artinya, apapun yang berbau BTS sudah pasti mengundang banyak orang untuk datang. Seharusnya, sudah ada informasi intelijen yang kuat mengenai fenomena BTS dan ‘ancaman insiden BTS Meal ini’.

Cuma memang belum menjadi hal yang umum orang berkumpul dan mempertaruhkan resiko demi boyband. Benarkah? Salah! Harusnya sudah ada bayangan kekuatan sebuah boyband dalam mengumpulkan orang karena fenomena boyband sudah ada sejak tahun 2000an. Selama ini juga sudah banyak boyband yang menarik massa bahkan melebihi kampanye calon kepala daerah. Kalau sudah begini, apakah kita meremehkan kejadian ini sebelum benar benar terjadi? Jadi salah siapa insiden BTS meal?

Kebiasaan Meremehkan

            Okelah, aparat mungkin meremehkan atau tidak menyangka dampak insiden BTS Meal. Namun, lagi lagi, mereka juga tidak bisa disalahkan 100 persen. Lhoh, kenapa? Ya karena generasi X atau Baby Boomer memang belum bisa membayangkan boyband itu punya kemampuan menarik massa separah itu. Selama ini bayangan mereka ya yang bisa menarik massa sebesar itu cuma The Beatles atau Sheila on 7. Gak menyangka, jaman sudah berubah.

Insiden BTS salah siapa? Ya salah kita semua, kita ini manusia yang suka meremehkan. Kebiasaan lebay para ARMY ini terjadi karena kita meremehkan kecintaan para ARMY pada boyband. Kita mikir, ah paling gitu aja! Ternyata enggak, mereka begitu tergila gila dan bahkan menembus batas keamanan. Ya, aparat termasuk juga yang memikirkan kalau boyband ya paling gitu aja.

Selain meremehkan tanda tanda awal kelebayan ARMY, kita juga suka meremehkan dan mengabaikan penyebab utama ARMY punya kecintaan berlebih pada boyband mereka. Kita meremehkan pentingnya mengapresiasi dan menciptakan lingkungan positif bagi semua orang. Orang seperti ARMY adalah orang yang mencari kepositifaan dengan putus asa. Karena itulah, kebanyakan ARMY justru menemukan kenyamanan dengan memuja berlebihan karakter yang ‘sebenarnya jauh’.

Kita juga seringkali meremehkan betapa cerdasnya marketing system untuk boyband boyband Korea yang potensial membuat masyarakat naïf menjadi konsumen (kelewat) loyal. Ya, perlindungan kita pada sistem agresi pasar hampir nol. Di negara yang katanya tidak welcome pada kapitalisme, kita banyak memberikan kelonggaran.

Ambil contoh, di negara negara lain, produk asing tidak bisa berjualan dengan sangat bebas dan mengimplementasikan semua strategi bisnis mereka. Di Indonesia, fans bola di Eropa bisa sangat antusias. Demikian juga fans K-Pop. Artinya, ada yang salah dengan sistem pendidikan dan juga sistem perlindungan konsumen kita karena banyak orang benar benar menjadi obyek semata.

Lagi-lagi, semua ini terjadi karena pembiaran dan sikap meremehkan kita.

Baca Juga : Saatnya kita menjaga kesehatan mental

Mendenda dan Menutup McD Tidak Ada Gunanya
Insiden BTS Meal Salah Siapa
Sebuah tragedi

            Ya, mendenda dan menutup McD tidak ada gunanya. Ini seperti sikap yang seolah membebankan masalah sistemik ke hanya satu produk franchise yang kebetulan ‘raksasa’. Hari ini McD menjadi pusat keramaian, namun di masa depan akan ada gerai lain yang bisa menjadi penghancur protokol kesehatan.

Salah satu fungsi hukum, menurut banyak pengamat hukum termasuk Rusli Effendi adalah sebagai alat perekayasa sosial. Di sinilah seharusnya pemerintah hadir dan menciptakan formula hukum yang benar benar efektif untuk mencegah lahirnya fan base dengan kenekadan luar biasa serta sistem pasar yang menguntungkan tanpa mengeksploitasi konsumen sebagai obyek saja.

Menyalahkan satu perusahaan saja sama seperti menutup buku pada urgensi perlunya reformasi sistem perlindungan ekonomi dalam negeri dan konsumen. Untuk sekarang, di tengah pandemi Korona, cukuplah setiap pihak yang berwenang dan bertanggung jawab langsung menjaga keamanan tidak meremehkan setiap kemungkinan ancaman penyebaran virus Korona.

 

Ilustrasi : Eatingcouplelives

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here