Waktu Baca: 4 menit

Saya sering merasa kurang puas dengan peran hidup. Rasanya tidak punya andil bermakna. Peran saya terlalu kecil di dunia ini. Cuma jadi instruktur les piano. Saya tidak bisa ikut mengubah dunia. Tidak ikut menyelamatkan penduduk dunia dari bahaya perubahan iklim. Tidak menyelamatkan perekonomian kawasan saat terjadi krisis. Tidak menyelidiki dan menangkap koruptor. Juga tidak menciptakan satu metode belajar inovatif yang bermanfaat untuk anak-anak di masa depan.

Saya ingin membuat sesuatu yang besar dan bermakna. Lebih dari sekedar ‘sederhana’. Pendidikan saya tinggi lho! Masak cuma berkutat di pekerjaan simpel? Nama saya Anugerah. Hadiah. Gift. Masak saya tidak bisa menghidupi nama saya sendiri, menjadi hadiah bagi penduduk dunia?

Bayangkan, pria bernama Anugerah dengan gelar pendidikan tinggi berurusan dengan mencuci pakaian, menyapu rumah, menyusun jadwal les piano, berhadapan dengan murid les yang kebanyakan anak-anak, berusaha membuat anak-anak tersenyum dan menjalani sesi les dengan senang. Semua itu terlalu kecil dan sederhana! Kok rasanya mirip tokoh di salah satu film Vin Diesel, berotot besar tapi bekerja sebagai pengasuh bayi? Otot besar harusnya jadi atlit, polisi, atau tentara dong?

Peran kita di dunia kita sendiri yang tentukan, bukan? Saya harus ikut andil dalam urusan penting berskala dunia. Bukan cuma urusan kecil dan sederhana. Saya coba lewat beberapa cara yang bisa saya lakukan. Saya bisa bermain musik. Saya jago menulis. Oke. Mulai hari ini saya bukan lagi Anugerah KECIL. Saya menjelma menjadi Anugerah BESAR.

Semangat itu bertahan tidak lebih dari seminggu. Hanya lima hari. Bukan, tiga hari. Pekerjaan utama saya justru berantakan. Komunikasi dengan orang terdekat runyam. Tugas harian di rumah tercecer. Roda justru mandeg. Tidak bisa berputar. Tidak bisa bergerak. Kalau sebelumnya saya merasa cuma mengerjakan KECIL, saat ini saya tidak melakukan apapun.

Semua yang BESAR juga tidak tersentuh. Sama sekali. Bukannya ikut memperbaiki perekonomian dunia, saya justru lupa jadwal mengajar murid. Bukannya ikut menyelamatkan iklim dunia, saya justru kehabisan pakaian karena enggan menyetrika. Bukannya mendapat donasi besar untuk korban bencana alam, saya justru dimusuhi orang terdekat karena tidak fokus saat diajak bicara. Saya tidak menciptakan sesuatu yang BESAR. Saya justru merusak hal-hal yang sudah ada. Kira-kira kenapa bisa begitu? Apa yang salah?

Dalam kondisi bingung, saya pulang ke mata air inspirasi kehidupan, orang tua saya.

“Tidak usah muluk-muluk. Mulailah dari hal kecil dan sederhana,”

Huh! Lagi-lagi KECIL.

“Jadilah istimewa di tempat kamu berada,”

“Maksudnya?”

“Kalau kamu jadi guru SMP, jadilah guru SMP yang hebat! Kalau kamu jadi karyawan di kantor, jadilah karyawan yang hebat!”

Tapi saya tidak mau cuma jadi guru SMP atau karyawan kantor!

Ya sudahlah. KECIL dan BESAR itu memang terpisah sama sekali. Ada orang yang BESAR. Ada pula yang KECIL. Pelengkap peran di dunia. Ada ya syukur, tidak ada juga tidak mengapa. Saya tidak bisa jadi seperti anak perempuan yang tekun berdemo sendirian di depan gedung parlemen menuntut perbaikan iklim sampai diminta bicara di PBB. Peran saya cuma jadi instruktur les piano. Terima saja. Itu jalan yang sudah digariskan. Mau bagaimana lagi?

Perlahan saya coba hidupi keyakinan baru itu. Coba buang keterpaksaan menjalani KECIL. Singkirkan gengsi soal gelar pendidikan. Peran saya di sini. Peran saya sekecil ini. Fokus saja. Saat ini. Di sini.

Ternyata, pikiran itu membuat saya lebih nyaman jalani hari. Sesi mengajar jadi lebih menyenangkan. Saya semakin sadar dan hadir penuh saat mengajar dan bicara dengan murid. Saya menghidupi pilihan menjadi instruktur les piano. Selama ini ternyata saya melewatkan banyak detil penting. Seperti cara bicara murid, cara murid berpakaian, kecemasan orang tua murid, dan cara komunikasi dengan rekan sesama pengajar.

Belakangan, saya merefleksikan pemikiran baru lagi. Awalnya saya ingin meninggalkan KECIL dan bergeser ke BESAR. Lalu saya melihat bahwa peran manusia berbeda-beda, ada yang BESAR dan KECIL. Kemudian saya sampai pada pemikiran yang rasanya lebih pas, bahwa KECIL dan BESAR bukan terpisah sama sekali. Mereka adalah sebuah perjalanan.

Saya prihatin melihat dampak pandemi terhadap banyak siswa sekolah yang berasal dari keluarga tidak mampu. Tentu saja itu BESAR. Apa yang instruktur les piano bisa lakukan? Pertengahan tahun 2020, lewat diskusi dengan beberapa orang dekat dan bekerja sama dengan komunitas Semua Murid Semua Guru, dibuatlah gagasan konser amal Siswa Musik Peduli (sampai saat ini semua penampilan masih bisa dinikmati di Instagram dengan tanda pagar Siswa Musik Peduli). Kegiatan KECIL, belajar musik, menjadi jembatan untuk mencapai BESAR. Ratusan siswa musik mengirimkan video dan berupaya mencapai tujuan yang sama, membantu siswa sekolah kurang mampu. Donasi pun diperoleh dan diserahkan sepenuhnya pada Semua Murid Semua Guru untuk diberikan dalam bentuk paket belajar non digital.

Saat sedih melihat anak-anak yang tidak mendapat cukup perhatian dari orang tua yang kecanduan gawai (BESAR), ternyata profesi instruktur les piano memungkinkan untuk ikut berperan. Saya bisa duduk di samping murid dan fokus mendengarkannya bermain musik. Tidak memotong saat dia bicara. Lewat kata-kata ataupun nada. Berusaha memahami pesan dan bukan sekadar suara yang mereka bunyikan. Lagi-lagi itu adalah kegiatan KECIL yang bisa membantu saya mencapai BESAR.

Saat merasa sedih melihat murid kecanduan gawai dan mengalami sulit fokus, saya bisa sibuk mencari seribu cara untuk membantu dia menjaga konsentrasi (BESAR). Saya bisa ajak mereka untuk dekat dengan musik dan berpikir bahwa piano adalah teman yang menyenangkan. Saya abaikan sementara kurikulum les piano dan berikan dia banyak materi lagu kesukaan. Itu juga langkah KECIL untuk mencapai BESAR, bukan?

Saat ini saya asyik melakoni aktivitas sehari-hari dengan pikiran lebih terbuka. Saya bisa berpikir jauh ataupun dekat tanpa kehilangan keterkaitan. Sederhana saja, keduanya adalah sebab akibat. Semacam rantai yang bila ujung yang satu dibelokkan ke kiri akan diikuti ujung lainnya.

Kita boleh bermimpi BESAR. Tentu boleh. Harus malahan. Kita bisa mencapai BESAR dengan fokus pada KECIL. BESAR itu tujuan jangka panjang. KECIL itu cara mencapainya atau tujuan jangka pendek. Tidak perlu gengsi meninggalkan KECIL karena ingin mencapai BESAR. Kita justru akan kehilangan arah.

Sekarang ini, apabila hidup terasa mandeg dan tidak berkembang, saya langsung berkaca adakah KECIL yang luput saya perhatikan karena terlalu fokus pada BESAR? Adakah KECIL yang malas, enggan, atau gengsi saya tuntaskan karena merasa tidak berhubungan dengan BESAR? Benarkah keduanya tidak berhubungan atau cuma pembenaran atas rasa malas? Apakah saya cukup sabar dan telaten melakoni KECIL?

Kita bisa menjadi istimewa, mencapai BESAR, lewat jalan manapun. Tidak ada yang keliru dengan menjadi guru SMP atau karyawan kantor. Juga instruktur les piano.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here