Waktu Baca: 2 menit

 

Semua orang pernah kecewa. Patah hati. Sebabnya hasil yang muncul tidak sesuai harapan. Entah melenceng jauh dari ekspektasi atau cuma nyerempet. Pokoknya tidak sesuai keinginan.

Saya pun sama. Pernah, bahkan sering, kecewa. Termasuk saat ini. Saya sedang kecewa. Hasil kerja keras saya, ide, waktu, gagasan, tidak berbuah sesuai harapan. Cuma nyerempet agak jauh. Saya yakin kok kalau karya saya unik, bagus, dan bermanfaat. Saya yakin berhak mendapatkan apresiasi optimal. Lebih-lebih ada respon positif dari pihak yang menerima karya saya pada awalnya. Bikin saya berbunga-bunga. Ealaaah.. hasil akhirnya kok malah mengecewakan.

Pikiran saya melayang-layang saat ini. Sulit sekali untuk fokus. Otot badan, otak, dan hati lemas. Bergerak jadi malas. Saya cuma ingin teriak. Ngamuk-ngamuk. Mengumpat. Misuh. Ingin cerita ke semua orang betapa sialnya hidup saya. Betapa nasib saya jauh dari beruntung.

Yuk baca : Mengatasi Masalah Dengan Meditasi Buddhisme

Berkali-kali saya periksa gawai. Cek email dan media sosial. Siapa tahu ada perubahan keputusan. Siapa tahu hasil yang disampaikan keliru. Sia-sia saja.

Saya tidak terima dengan situasi ini. Saya sepenuhnya menyalahkan pihak yang menerima karya saya. Buat apa mereka memberikan angin segar di awal kalau hasil akhirnya mengecewakan? Kalau memang buruk, ya terus terang saja dari awal.

Seorang teman berkata,”Positive thinking aja, bro. Disyukuri. Toh hasilnya enggak seburuk itu.”

Saat ini saya sedang tidak ingin berpikir demikian. Saya menolak berpikir positif, kalaupun memang cara pikir semacam itu bisa dibilang positif. Kok rasanya seperti menipu diri. Malah jadi tega dan jahat pada diri sendiri. Seakan tidak mendengarkan dan memahami diri sendiri. Padahal saat orang lain curhat, saya berusaha sepenuh hati mendengarkan dan memahami tanpa berusaha mengubah cara pikirnya.

Kemudian saya sadar. Sering sekali ternyata saya bersikap tega dan jahat pada diri sendiri. Saat muncul rasa sedih, saya menolak untuk menerima bahwa diri sendiri sedang merasa sedih. Pun demikian saat muncul perasaan kurang menyenangkan lainnya. Bukannya didengarkan, dipahami, dan ditemani, malah disuruh segera ‘membereskan masalah’. Pantas saja saya sering merasa kesepian, lha wong saya sendiri saja tidak mau menerima dan memahami diri sendiri. Bersikap tega dan jahat pada diri sendiri mengatasnamakan kemandirian, jantan, tidak cengeng, dan tangguh.

Yuk baca : Berkembangnya Kesadaran Sehat Mental Kita

Ya, saya tahu bahwa mengharapkan apresiasi dari orang lain adalah hal irasional. Perilaku, selera, dan keputusan orang lain sepenuhnya berada di diri orang-orang itu. Saya tidak bisa mengontrol orang lain. Satu-satunya yang bisa saya kerjakan adalah membuat karya sebaik mungkin. Apapun keputusannya, itu di luar wewenang saya. Ya, ya, ya, saya tahu itu.

Pagi tadi saya bangun pukul lima. Langsung keluar rumah lari pagi. Saya coba lari sejauh mungkin untuk melupakan rasa kecewa. Cara itu berhasil. Napas ngos-ngosan membuat saya lupa. Sampai kemudian saya minum air putih, berjalan pulang, dan mendadak ingin berteriak marah. Luapan rasa mangkel justru muncul dalam bentuk yang lebih jujur. Lebih polos. Seperti anak kecil yang mengungkapkan keinginan apa adanya.

Sampai di rumah, penuh luapan perasaan marah, sedih, jengkel, dan kecewa, saya duduk diam. Sambil memejamkan mata, saya membiarkan pikiran dan perasaan bicara banyak hal. Gambar demi gambar, kata

Demi kata, rasa demi rasa bergantian muncul. Saya dengarkan saja keluh kesah dan rengekan diri sendiri. Saya coba menjadi pendengar yang baik untuk diri sendiri.

Ya, diriku, kamu kecewa, saya paham. Tidak apa-apa, bicara saja. Tidak usah takut. Tidak ada yang akan menghakimimu begini-begitu. Tidak ada yang salah atau benar. Kamu kecewa dan kamu ingin bicara. Silakan. Saya mendengarkan.

Air mata saya pun menetes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here